Ketika Mahasiswa dan Alumni Suriang Berani Angkat Bicara

Oleh: Dina Sulaeman

 
Sungguh, beberapa hari terakhir saya merasa lega, menyaksikan beberapa mahasiswa Indonesia di Suriah dan Ikatan Alumni Suriah berani bersuara 'keras' melawan hoax soal Suriah. Biar bagaimanapun, mereka tinggal bertahun-tahun di Suriah, merasakan dan menyaksikan sendiri atmosfer kehidupan di sana. [baca postingan saya sebelumnya, share tulisan Lion Fikyanto yang menceritakan betapa majelis-majelis ilmu mazhab Sunni sangat hidup di Suriah]

Tentu saja, sangat mungkin Anda akan menemukan ada di antara alumni/mahasiswa yang berbicara berbeda. Tapi dalam penelitian ilmiah sudah ada prosedurnya: lakukan triangulasi data. Data-data yang kontradiktif dianalisis bersama dokumen-dokumen terkait, baru diambil kesimpulan. Dalam pemberitaan media, langkah cover both-side itu wajib dilakukan.

 

 
Karena itu, sangat lucu ketika ada dosen jurnalistik yang menulis 'analisis'-nya dengan dasar "kata teman saya orang Suriah yang tinggal di Inggris". Atau ketika facebooker ngotot melawan data-data valid dengan berkata, "Kata ustad anu yang pernah ke Suriah".

Alumni Suriah (Alsyami) bahkan mengundang Ustadz Abdul Somad (UAS) untuk bertabayun dalam acara Silaturahmi Nasional Alumni Suriah (digelar hari ini dan besok). Saya baca surat resmi Alsyami (banyak dishare di FB dan media-alternatif; sepertinya media mainstream belum mengangkat berita baik ini), isinya begini:

"Memperhatikan pernyataan Anda yang beredar di media sosial terkait kehidupan beragama dan bernegara di Suriah, kami menemukan ada banyak poin yang tidak sesuai dengan fakta yang kami ketahui dari guru-guru (masayikh) dan kawan-kawan kami di Suriah yang menjadi sebagai saksi mata, menjalani setiap detik kehidupan di sana, dan merasakan atmosfer, serta membaca sejarahnya. Untuk itu dengan hormat, dalam rangka melaksanakan perintah Allah agar senantiasa ‘tawasaw bil haq’ kami mengundang Anda untuk tabayun bersama kami…”

Akankah UAS datang bertabayun langsung kepada ulama Suriah yang hadir dalam acara Alsyami di Medan? Atau beliau tetap berkeras mengutip 'ulama' yang lain lagi, seperti yang dilakukannya selama ini? Apakah beliau mau melakukan langkah ilmiah triangulasi data (menganalisis 2 info yang kontradiktif bersama dokumen-dokumen yang valid, serta berbagai langkah verifikasi lainnya, misalnya analisis foto-dan video, dan kredibilitas sumber berita?)

Tentu ajakan bertabayun ini tidak terbatas untuk UAS, tapi kepada semua "shareholder" (pemegang saham) dalam konflik Suriah ini. Kenapa kok disebut 'saham'? Ya karena konflik ini dibawa-bawa ke Indonesia dengan melibatkan uang amat-sangat-besar. Kalian pikir berapa harga baliho dan spanduk raksasa yang dipasang di pinggir-pinggir jalan untuk meminta donasi Suriah? Berapa biaya merekrut dan mengirimkan para "jihadis" asal Indonesia? Berapa biaya roadshow di seluruh Indonesia untuk bicara soal Suriah [dalam versi "jihadis"] lalu merogoh kocek para hadirin yang berhasil dibuat menangis dengan video-video palsu? Berapa biaya yang digelontorkan negara-negara NATO dan Teluk dalam menyuplai senjata untuk para "jihadis"? Menurut kalian, mereka melakukan itu karena 'dermawan', atau ada imbalan besar yang dikejar (minyak, gas, dll)?

Selamat ber-silaturahim untuk Alsyami. Untuk Alsyami dan mahasiswa Indonesia di Suriah, saya serukan, beranilah terus bersuara. NKRI benar-benar terancam akibat penyebaran hoax yang amat tersistematis dan masif ini, Anda semua punya tanggung jawab besar untuk melakukan klarifikasi dan pengimbangan berita. 

Dibully? Ah, biasa itu. Anda pastilah lebih kuat daripada kami, ibuk-ibuk yang selama ini di sela-sela bejibunnya urusan rumah tangga meluangkan waktu untuk melakukan perlawanan kecil di medsos. 

===

Foto: dari wall FB Lion Fikyanto, yang menceritakan aktivitas belajarnya di Suriah.https://www.facebook.com/lion.arema.9/posts/1790204647716539

Berita tentang ajakan bertabayun untuk UAS dari Alsyami: http://liputanislam.com/berita/akankah-ustadz-abdul-somad-hadir-bertabayun-dengan-alumni-suriah/

 
(Sumber: Facebook Dina Sulaeman)
Monday, March 12, 2018 - 00:15
Kategori Rubrik: