Ketika KPK Dianggap Dewa

Oleh: Biakto Biakto

 

Begitu paranoidnya sebagian kita atas UU KPK yg direvisi, sampai Jokowi disangsikan integritasnya atas pemberantasan kerjaan setan yg sdh berjalan nyaris sepanjang usia negeri ini ada.

Riuh bak suara laron, KPK akan dilemahkan, penyadapannya diawasi, nanti bakal tak bisa lagi menangkap pencuri yg mau beraksi, DPR lembaga yg sdh tak berguna belakangan ini dianggap punya misi utk kepentingan pencurian agar tak ketauan. Dua lembaga ini diposisikan bak langit dan bumi, KPK dianggap paling bisa, DPR bak hama perusak yg tak bisa di vermak. Polisi tetap belum bisa mengambil posisi sebagai lembaga yg bisa memberesi urusan yg diharapkan, sampai Firli dicurigai.

 

Kita ini pesisr seperti emak² rebutan rendang, nyerobot sana-sini tak mau antri. Antri berpikir, sabar melihat tahapan, kenapa belum apa² gelagepan duluan. Firli dicurigai, Novel dijunjung tinggi, padahal dua²nya ya polisi, kalau Firli ada cacat, apa Novel dijamin bukan bangsat. Kalau DPR sdh bejat, apa KPK pasti tak berkhianat. Janganlah meletakkan sesuatu terlalu tinggi, kalau jatuh sakit sekali.

Tidak dpt dipungkiri nyaris semua lembaga di negeri ini disusupi pencuri, khususnya legislatif yg koruptif. Tapi semua yg memilih ya rakyat Indonesia. Benar kata Gusmus, lembaga legislatif itu adalah cermin pemilihnya, dan outputnya adalah bonus yg dihasilkan dari siapa yg menanam.

Banyak catatan kelam DPR, banyak juga yg dipertanyakan sepak terjang KPK, urusan Hambalang misalnya, putra mahkota yg disebut berurutan tak pernah dihadirkan, saat sekarang bgt banyak kejanggalan kelakuan Gubernur DKI, dia tak disentuh sama sekali, bagaimana IMB di pulau reklamasi, dan banyak lagi. Kalau katanya tak mau ama Firli, lha Novel itu juga polisi, penyidik KPK nyaris seluruhnya jg dari Kepolisian dan Kejaksaan, terus berarti ada polisi yg dicurigai ada yg dikawani, emang yg kalian kawani itu polisi culun yg bisa dikulum, kalian belum tau merasakan buah zakar di strum.

Jadi sudahlah, tunggu saja gimana nanti outputnya, kalau juga masih diragukan, kan ada DPR yg baru tiba, kalau juga gak dipercaya, ya salah kita semua, wong yg milih kita juga.

Kawal KPK tetap bisa bekerja, dan Dewan Pengawas yg awas.

Satu hal yg kita lupa, seberapa jeli dan kuatnya KPK serta makin penuhnya penjara, itu semua sbg tanda bahwa Indonesia masih belum dihuni manusia berakhlak yg rata², tak usah yg mulia. Sehingga yg dibeneri bukan penjara, tapi pendidikan dan rumah tangga, yg jarang ditanya Bapak ngasi uang belanja, beli mobil, uang sekolah anaknya dari mana.. Jangan² semuanya hasil curian yg disamarkan, haram di halalkan, keturunannya jadi setan.

Kita malu dgn Belanda, orangnya jarang beragama, penjaranya nyaris ditutup semua, kita agama sampai di stempel di kepala, pencurinya nyaris merata. Kalau begini seterusnya mau ada 1.000 KPK, tetap saja tak ada gunanya. Inilah hasil kebudayan orba yg dierami lebih dari separuh usia kemerdekaan Indonesia. Budayanya kolutif, instingnya koruptif, pendekatannya reaktif, jadi lupa preventif. KELAKUANNYA JADI NEGATIF.

AH.. KPK SEMOGA KEBERADAANNYA TAK LAMA², KARENA PENCURINYA SDH TOBAT NASUHA. SAAT ITULAH BARU ADA INDONESIA YG SEBENARNYA.

 

(Sumber: Facebook Biakto)

Thursday, September 19, 2019 - 16:15
Kategori Rubrik: