Ketika Konde Menyumbat Kepala Kita

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Riuh rendahnya pendapat ttg puisi Sukmawati menarik utk disimak secara utuh, karena dgn buru2 dia dihakimi telah menyinggung perasaan umat islam, dan seperti biasa kelompok 212 langsung berkomando akan melakukan demo, serta pengaduan yg dilakukan oleh dua orang yg merasa tersinggung langsung memakai pasal penistaan agama.

Memang kita jadi bgt murah memakai pasal itu seolah islam itu sebuah agama yg terus dinistakan serta pasal itu akrab dgn islam sbg agama yg paling selalu dibela, apakah dia lemah, bukan, hanya saja penganutnya baru kelas eforia bukan pengenal makna. Mereka lupa bukan pembela agama, tapi penganut yg harus mengartikulasikan arti beragama yg tidak semena2.

 

 

Saya sebagai penganut islam kadang berpikir yg menistakan islam itu siapa, emang ada yg berani orang diluar islam melakukan itu?..puluhan tahun kita membuat polusi suara 5 kali sehari mengalunkan azan tanpa peduli ada orang yg punya hak atas gendang telinganya tidak disesaki suara yg kadang mengusik tidur dan kenyamanannya, bukankah kadang kita sendiri yg menistakannya krn secara syariat saja kita selalu salah gaya, begitu yakinnya kita memonopoli kebenaran sampai mulut murah, sumpah serapah menjadi wajar kalau kita yg berujar dan begitu mudahnya kita marah bila ada orang salah ucap atau direkayasa agar kesalahan itu ada.

Ahok adalah korban nyata dari penistaan rekayasa itu, dan kita merasa menang atas sebuah cara yg curang, sementara kita membiarkan mulut liar seperti halnya RZS yg bahkan Soekarno, Pancalisa, dan Ulama NU menjadi sasaran makiannya, apa itu candaan bukan penistaan, oh bukan itu pelajaran yg harus dimengerti oleh umat yg cinta imamnya dan kita dipaksa memakluminya, itu fakta, bukan puisi atau gurindam deli.

Agama ini menjadi begitu sensi, mudah marah, tersinggung, mengadili, memaki2, dan senang membuat orang teraniaya, padahal katanya agama rahmatanlilalamin, nabinya bgt welas asih kok umatnya pilih kasih dalam menyalurkan kasih sayang.

Puisi Ibu Indonesia ini adalah hasil tulisan Sukmawati, kegundahan hatinya atas kondisi negerinya disampaikan dalam puisinya, kita jg harus jujur mengakui kondisi ini, cuma kadang kita pilih kasih. Yang saya simak Sukma menyindir orang yg gemar bersyariat dalam penampilan yg berlebihan, gesturnya mencibir orang yg tidak sama dalam menjalankan agamanya, Sukma tdk nyaman dgn penampilan pakaian import seperti cadar misalnya, karena dia adalah anak seorang Fatmawati dgn sanggul dan selendang yg selalu tersampir dikepala tanpa menutup seluruh rambutnya, apalagi menutup wajahnya. Saya tdk bisa membayangkan Ibu Negara yg wajahnya dibalut rapat, kapan kita bisa melihat senyumnya atau hrs kita tunggu suara ketawanya dgn pundak terguncang tanda dia sdg tertawa kepada kita, sungguh hampa jadinya.

Suara azan yg diartikan tidak seindah kidung adalah kebiasaan masjid yg terlalu sibuk dgn terus bersuara tanpa mengindahkan hak kuping orang lain. Saya dapat memaklumi ungkapan Sukmawati krn saya sendiri mengalami disekitar rumah bagaimana mic dimainkan suara anak2, atau suara azan yg cempreng dari masjid. Alangkah baiknya bila suara ajakan shalat itu dikumandangkan dari suara yg indah bukan sembarang teriak. Dan arti harfiahnya, lu gak usah cuma bisa azan kalau kelakuan tak ditertibkan, karena agama itu bukan ditunjukkan dari suara tapi sebaiknya dari kelakuan dan akhlak mulia.

Sukmawati menjadi yg mulia saat dia menyampaikan maafnya, kita tinggal tunggu apakah dia juga ditarget masuk penjara karena lawan yg dilaporkannya masih diluar sana. Saya juga tdk terlalu mengerti syariat islam yg mana yg saya punya, suara azan selalu saya dengar samar krn sekarang suara itu otomatis keluar dari hp samsung buatan Korea yg tak pernah tau suara apa yg disampaikannya. Saya beringsut berwudlu karena suara hati saya menuntun saatnya bersujud kehadapanNya.

Terima kasih Sukmawati engkau telah menunjukkan sikap islami, tanpa harus memaki dan mempertahankan diri, justru maafmu membuat kami malu.

Teruslah berpuisi utk Indonesia, tulis saja apa adanya krn itulah kita, kadang sibuk menghakimi, padahal ngurus diri sendiri saja tak bisa. Ucapanmu dianggap menista ditengah2 ramainya ucapan penistaan terhadap negara yg diramal Indonesia bakal bubar.

Konde Indonesia itu luar biasa, azan ajakan kebaikan akan berkumandang sebagaimana mestinya, tidak ada benturan keduanya, yg harus dicermati siapa yg akan membenturkannya.

# Indonesia hrs waspada

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Thursday, April 5, 2018 - 21:30
Kategori Rubrik: