Ketika Kedunguan Menggeser Keagungan

Oleh: Iyyas Subiakto

Sore tadi seakan tiba-tiba kental otak kita saat mendengar MA meloloskan ex Koruptor, pelaku kejahatan narkoba dan pelaku kejahatan sex kepada anak-anak BISA NYALEG, Kebayang banyak muka para koruptor yang sumeringah, Bawaslu yang hilang malu, dan KPU yang tertunduk lesu.

Gedung megah dengan tulisan MAHKAMAH AGUNG itu seakan langsung menjadi rumah setan, yang menyatu dengan kejahatan, bejat tak bermoral. Teringat ungkapan Prof. Machfud. MD : UUD, Peraturan dan sejenisnya dibuat atas dasar kepentingan umum utk membangun kebaikan, menghalangi kejahatan, menjadi pijakan dalam membuat keputusan, dst. Namun produk buatan manusia itu harus dikawal dengan moral, dia tidak bisa berjalan hanya dibaca pasal demi pasal, dan halamannya saja, karena ruhnya tetap kepada manusia yang memutuskannya. Disanalah dibutuhkan manusia yang bermoral dan berakhlak mulia.

Koruptor adalah musuh negara, sekarang menjadi diatas angin karena dibela MA. Apakah MA juga sudah beroposisi dengan negara dan sekaligus menjadi musuh kita bersama. Manusia dengan gelar agung didalam gedung megah dan dibayar dengan pajak rakyat sekarang mengkhianati kita semua. Baru tadi pagi kita seperti disambar halilintar mendengar anggota DPRD dari Golkar yang memalak uang rehabilitasi sekolah di NTB, daerah yang sedang porak poranda di lalap gempa. Jangan ditanya kemana mata hatinya, manusia jenis ini ada diman-mana dan sekarang dilindingi MA, mungkin saja di gedung itupun banyak yang sama jenisnya.

Agung adalah besar, luhur, dipercaya, dan mulia. Apakah sebutan dan arti itu masih sama dan bisa kita maknai bersama, sepertinya sudah tidak ada. Kemuliaan menjadi langka, keagungan tinggal sebutan saja, keluhuran sudah lama terkubur bersama nafsu dunia dan kerjasama para durjana. Terus apa yang pantas sebutan buat MA, mungkin yang cocok adalah Mahkamah Angkara Murka, karena keputusannya memihak kemungkaran yang harusnya ditiadakan.

Manusia-manusia buta hati ini tidak belajar dari banyak negeri yang begitu serius memerangi para pencuri. Cina yang sekarang begitu gencarnya memerangi korupsi. Hukuman mati tidak pandang bulu, bahkan suami istri dan anak bisa dihabisi bila dirasa menikmati bersama hasil mencuri dari keluarganya.

Sekarang MA mau keMAna, apa mau jadi lembaga pelindung kaum penghancur negara, atau memang sudah menjadi sarang kebejatan yang sama. Apes kita, DPR seperti itu, Kepala daerah begitu, eee..lembaga agung jadi belatung.

JAGA INDONESIA WALAU MA TAK MEMIHAK KEPADA KITA, HARAPAN YANG MASIH ADA SEMOGA CEPAT ADA MANUSIA-MANUSIA SEPERTI BAHARUDIN LOPA, HOEGENG, DAN ORANG JUJUR LAINNYA. BUKAN PARA PENEGAK HUKUM YANG MEMUSUHI NEGARA DAN RAKYAT INDONESIA. MA = MAHKAMAH A*U

Monday, September 17, 2018 - 09:45
Kategori Rubrik: