Ketika Kau Punya Hak Mencela, Aku Punya Hak Membela

Oleh: Saefudin Achmad

 

Sudah sering sekali saya dituduh sebagai buzzer Presiden Jokowi. Dituding mendapat kompensasi dari setiap tulisan yang berisi pujian dan pembelajaan terhadap beliau. Jujur saya hanya tertawa, memangnya saya ini siapa sehingga bisa bekerja sama dengan beliau lalu dapat kompensasi di setiap tulisan? hee. Saya hanya rakyat kecil dari pelosok desa. Presiden Jokowi sangat mungkin tidak mengenalku. hehe

Ini hanya soal rasa kagum. Saya sudah lama mengagumi Presiden Jokowi. Sejak menjadi gubernur DKI tahun 2012, saya mulai tertarik untuk mengamati sepak terjangnya, serta mencari tahu perjalanan hidupnya. Tak ada orang yang mempengaruhiku. Kekaguman kepada beliau muncul begitu saja. Apakah salah? Tentu tidak. Jika kalian punya hak membenci beliau, saya juga punya hak untuk mengagumi beliau. Ini murni soal memilih membenci atau mengagumi.

 

Jokowi memang bukan presiden sempurna. Mustahil beliau tak pernah keliru dalam membuat kebijakan. Soal membuat kebijakan memang tak mudah. Banyak sekali yang harus dipertimbangkan. Belum tekanan-tekanan dari berbagai pihak. Namun saya percaya secara personal beliau orang baik. Beliau berasal dari rakyat kecil. Beliau tidak memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk kekayaan, tidak nepotisme, apalagi bagi-bagi proyek dan jabatan untuk keluarga. Putra-putranya justru membangun usaha secara mandiri. 

Saat mencalonkan diri menjadi capres di tahun 2014, saya tentu mendukung beliau. Dan dukungan saya murni inisiatif pribadi. Meskipun teman-teman banyak yang mencela beliau dan mengajak memilih lawannya, tapi saya tetap tak berpengaruh apa-apa. Bagiku, beliau masih lebih baik dibanding lawannya.

Sikap saya memang dicemooh banyak orang. Terlebih ketika Presiden Jokowi membuat kebijakan yang tidak populis seperti mencabut subsidi BBM. Anehnya, meskipun sedikit kecewa, tapi saya percaya ada alasan urgen kenapa kebijakan ini keluar. Belakangan saya mengerti bahwa subsidi BBM sangat memberatkan negara. Trilyunan rupiah dipakai untuk mensubsidi. Subsidi BBM lalu dialihkan untuk pembangunan serta hal-hal yang produktif.

Meskipun menjelang pencoblosan tabloid obor rakyat disebar luaskan di rumah-rumah warga di desaku, saya tetap keukeuh untuk memilih Jokowi. Tudingan bahwa beliau PKI yang tertulis di tabloid obor rakyat sama sekali tak berpengaruh apa-apa keyakinanku untuk memilih beliau. Saya yakin, apa yang tertulis di tabloid obor rakyat hanya fitnah.

Saya terus mengikuti perkembangan beliau di kursi presiden dari 2014 hingga sekarang. Meskipun kinerja beliau belum bisa dikatakan sempurna, namun menurut apa yang saya ketahui, yakini, dan rasakan, beliau jelas lebih baik dibanding presiden sebelumnya.

Hanya saja, Jokowi berasal dari rakyat kecil. Banyak elit yang tidak suka rakyat kecil bisa menjadi presiden. Banyak yang tidak terima dan merasa dirinya lebih pantas menjadi presiden. Provokasi dan propaganda elit agar rakyat tidak sungkan-sungkan memaki, mencemooh, meremehkan, menghina, bahkan memfitnah beliau nampaknya berhasil. 

Banyak sekali rakyat yang mencaci-maki dan memfitnah. Hebatnya, Jokowi tak pernah marah apalagi sampai menghilangkan orang-orang yang mencaci-maki dan memfitnahnya dari muka bumi. Bahwa para pemfitnah beliau ditangkap, ini soal penegakkan hukum dan beliau tak pernah sekalipun melaporkan para pemfitnahnya ke polisi.

Kesimpulannya begini, selama kalian yang tidak suka dengan Presiden Jokowi masih terus mencaci-maki (menurut bahasa kalian bukan mencaci-maki, melainkan mengkritik), s
Saya pun akan membela. Tentunya bukan membela mati-matian tanpa argumen yang logis. Kalian punya hak untuk untuk mencela beliau, saya pun punya hak untuk membela. Ini soal memilih antara mencela atau membela, sesimpel dan sesederhana itu!

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Sunday, May 17, 2020 - 05:45
Kategori Rubrik: