Ketika JK Main Blak-Blakan

ilustrasi
Oleh : Wahyu Sutono
 
"Diantara JK, SBY & Jokowi"
Kali ini JK atau Jusuf Kalla yang pernah menjadi Wakil Presiden di masa pemerintahan SBY dan Jokowi, membandingkan kinerja kedua presiden yang menjadi atasannya saat itu. Katanya SBY lebih cepat dan terarah.
Sedangkan Jokowi semua dirapatkan, bahkan bisa hingga 4-5 kali dalam seminggu. Benarkah demikian?
Andai penulis berada di posisi JK, tentu saja malu bila harus menilai kinerja keduanya, terlebih bila tidak didukung dengan data secara komprehensif dan menyeluruh, misalnya apa yang dicapai oleh keduanya per periode.
Sebab ada yang dilupakan JK saat kampanye dulu. JK katakan bila ia 'Lebih Cepat Lebih Baik,' tapi kemudian ditimpali oleh Jokowi yang mengatakan bila ia akan lebih cepat lagi, dan nyatanya itu terbukti. Mengapa demikian? Ya karena semua program kerjanya ditata dengan baik, koordinatif, dikontrol ketat, serta melibatkan kabinet dan unsur terkait.
Itulah fungsinya koordinasi. Itulah pentingnya rapat. Itulah perlunya tidak grusa grusu, tapi tetap mencapai target. Dan disitulah betapa pentingnya memiliki kabinet. Karena peran kabinet pasti harus mendapat arahan presiden melalui rapat, sambil mendengar apa masukan yang sangat penting, atau yang spesifik, sehingga semua program berjalan mulus.
Sebab buat apa pula cepat bila pada akhirnya mangkrak, dan rentan korupsi. Lalu dimana pula terarahnya? Terlebih bila ada dua matahari yang justru terkesan tidak koordinatif.
Kerja tim itu bukan asal memutuskan sendiri saja tanpa koordinasi. Orientasinya memang harus pada hasil nyata yang tercapai, dus bukan hanya salah satu prosesnya saja yang diukur. Tapi proses keseluruhan yang penuh kehati-hatian, karena yang digunakan adalah sebagian uang rakyat, yang hasilnya tentu harus bisa dinikmati pula oleh rakyat di seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua.
Kemudian bila di era SBY masalah perekonomian diserahkan kepada JK, tentu itu hak prerogatif SBY. Begitu pun Jokowi punya hak prerogatif untuk lebih percaya kepada yang lainnya. Lagipula buat apa memanggil pulang Sri Mulyani dari Bank Dunia bila tidak diberdayakan secara optimal, toh nyatanya jangankan JK, dunia pun mengakui kemampuan Sri Mulyani dalam hal ekonomi, hingga secara berturut-turut terpilih sebagai Menteri Keuangan terbaik dunia.
Ingat bahwa Indonesia ini negara besar yang wilayahnya sangat luas, meliputi 17.504 pulau, terbagi dalam 34 provinsi, yang mengandung kompleksitas yang sangat tinggi. Bukan hanya sekedar ngurusin Jakarta semata bung. Oleh karenanya, ngurus Indonesia harus kerja tim dan koordinatif, agar kinerja dan hasilnya bukan hanya terarah, tapi "Sangat Terarah."
Sampai disini seharusnya paham dong. Masa iya harus pura-pura lupa, terlebih bila melihat kecerdasan dan pengalaman panjangnya. Atau sedang beretorika yang bermuatan politik?
Ah sudahlah Jokowi memang cerdas, cerdik, dan tak mudah diarahkan untuk kepentingan pribadi.. ya sudah penulis mau beli gas melon dulu, biar bisa masak Mie Titi atau Pisang Epe. Gasnya abis mulu nih buat bikin Kapurung..
Wassalam,
Sumber : Status Facebook Wahyu Sutono
Friday, September 25, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: