Ketika Ikan Louhan Pun Jadi Komunis

Oleh : Denny Siregar

Itulah kenapa saya cinta sekali dengan negeri ini, yang kata orang gemah ripah loh jinawi.

Orangnya banyak yang lucu dan cenderung lugu. Mereka suka berkubang di manapun ada keramaian, membebek tanpa pernah tahu maksud dan tujuan, menuding tanpa paham apa yang dipermasalahkan. Sialnya Ya Tuhan, aparatnya pun banyak yang kayak begituan.

Ada awan berlafazkan Allah, mereka pun takbir bersaut2an.

Di foto, di upload, di like, dibagikan sambil memaksa orang berkata amin dan ujungnya mengedarkan kotak sumbangan. Seakan Tuhan begitu kerdilnya sehingga harus menonjolkan nama-Nya dalam sebuah awan. Seakan Tuhan ingin terkenal dengan memasang iklan pada billboard di angkasa.

Tuhan harus berwujud menurut mereka. Dan ketika ada yang bilang, "Ada Tuhan dalam secangkir kopi.." mereka marah. "Tuhan kok ada di secangkir kopi ??" Ah, semestinya saya harus menyewa seorang barista untuk menulis nama Tuhan di atas busa kopi. Barulah mereka takbir kembali bersaut2an. Tuhan harus tertulis disana, jika tidak, itu bukan Tuhan !!

Semakin cinta aku pada negeriku ketika banyak yang tidak bisa membedakan mana negara China dan mana etnis Cina di Indonesia. Buat mereka semua sama, sama cina-nya. Bahkan, entah bagaimana ada pete yang juga mereka cina-kan, pete cina. Mudah2an ada yang iseng menuding "10 juta pete cina masuk ke Indonesia " supaya mereka bisa teriak, "Ganyang pete cina !!" Ah, tentu teriak2 bisa membuat orang kelaparan, karena itu harus ada nasi bungkusnya. Karet dua selalu favorit, karena sambelnya agak banyakan.

Mereka bahkan tidak mampu membedakan komunis dan atheis. Buat mereka, yang akhiran - is pasti tak beragama. Begitu juga dengan tongs-is, kum-is dan margarito kam-is. Seandainya ada nasi bungkus lagi, mereka rela berdemo di terik matahari sambil membentangkan spanduk, "Ganyang Syahrin-is ! Maju mundur cantik adalah simbol kebangkitan PKI !! "

Yang menggemaskan dari negeriku adalah banyak yang menyukai simbol.

Arab adalah simbol Islam. Mie instan adalah simbol Kristen. Ritual ibadah adalah simbol ketaatan. Gamis adalah simbol kesucian. Bahkan ada gelar yang dulu dipakai kolonial belanda untuk menandai para pemberontak yang biasanya pulang dari tanah suci, sekarang dijadikan simbol kebanggaan, itulah gelar haji. Semua yang berbentuk segitiga adalah simbol iluminati. Sempak pun jadi berbahaya karena bentuknya segitiga. Iluminati sudah merambah sampe ke "harta" yang paling vital. Mengerikan sekali jaringan mereka....

Simbol yang sulit mereka lupakan sampai saat ini, ternyata simbol palu arit.

Simbol ini adalah simbol paling berbahaya dari semua simbol yg mereka kenal. Bahkan ketika mereka memegang palu, diusahakan tidak dekat2 ma arit. Bisa berbahaya, akidah mereka terancam. Mendadak komunis.

Saking paranoid-nya, sita semua yang gambarnya mirip2 palu arit. Mereka tidak perduli apapun spesies-nya. Bahkan ikan louhan yang tidak bersalah harus ditangkap karena bergambarkan lambang komunis. Apalagi namanya Lou Han, pasti cina dan cina itu komunis dan komunis harus ditangkap, dibakar kalau bisa di pepes pake daun salam. Mereka lupa yang komunis itu sebenarnya bukan ikan louhan, tapi ikan Koi yang diambil dari kata Koingatkan kau, koingatkan... ( bahasa medannya : kutandai kau, kutandai.. )

Jadi, bagaimana berbie ga pucing tinggal di negeri indah ini... Negeri indah dimana banyak orang senang menuding membabi-buta. Sudah babi, buta pulak..

Ah, capek kali pun awak tulis2 malam ini... mana tak ada kopi. Warkop yg sering kuhutangi pun sudah pulak menuding aku Komunis, Kopimu mulai sekarang tidak manis.. mentang2 aku sering ngutang, tak dikasinya pulak gula di kopiku... "Ganyang warkop kapitalis !!!!" ** (ak)

Sumber : Facebook Denny Siregar

 

Tuesday, May 10, 2016 - 08:30
Kategori Rubrik: