Ketika FPI Makin Ngelunjak

Oleh: Afa Muaffa
 

Harus diakui, Front Pembela Islam (FPI) telah sukses mengerahkan massa dengan menjual isu agama pada 4 November lalu, dan sukses menggosok sejumlah ulama di Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengamini misinya agar mengeluarkan sikap. Dengan memprovokasi umat bahwa agama telah dinistakan oleh seorang tionghoa kafir bernama Ahok, masyarakat muslim dari berbagai penjuru di Indonesia pun berbondong-bondong mengikuti aksi demonstrasi ke Jakarta.

Memang ada yang pergi karena benar-benar mengetahui persoalannya. Namun tak sedikit yang tak tahu soal apa yang menjadi pangkal masalah. Jangankan menonton tayangan ketika Basoeki Tjahaja Poernama (Ahok) berbicara di Pulau Seribu. Orang-orang yang dikerahkan dari desa-desa hanya tahu dari ceramah di masjid atau spanduk-spanduk yang dipasang di sudut-sudut tempat tinggal mereka, bahwa agama Islam telah dinistakan oleh orang non-Islam.Untuk itu mereka harus ke Jakarta membela agama. Bus dan logistik telah disediakan. Mereka tinggal berangkat sekalian piknik melihat Ibukota yang selama hidup belum pernah dikunjungi.

Kesuksesan demo 4 November melahirkan puja puji bagi FPI. Demo yang memang rapi diapresiasi. Kenyataan adanya duapuluh orang aparat yang perutnya sobek menjadi korban kena tusukan bambu runcing serta seorang yang  gegar otak karena diinjak-injak massa yang anarkis diabaikan. Tuntutan demonstran adalah proses hukum untuk Ahok, walau tanpa demo pun sebenarnya proses hukum itu sedang berjalan. Tuntutan pun telah sempurna dipenuhi ketika Ahok dinyatakan sebagai tersangka seusai gelar perkara.

Namun kini mereka ngelunjak. Mereka punya tuntutan baru, yaitu Ahok harus ditangkap. Untuk itu mereka akan menggelar lagi demo yang dijadwalkan 2 Desember. Mereka menganggap ini momentum. Mereka ngelunjuak dari minta Ahok diproses hukum menjadi Ahok harus dihukum. Demo terdahulu membuat mereka begitu percaya bahwa mereka bisa mengerahkan massa. Tentu saja tuntutan agar proses hukum berjalan dengan tuntutan agar Ahok dihukum merupakan dua hal yang berbeda. 

Seiring dengan itu masyarakat mulai melek bahwa langkah-langkah itu hanya trik alias upaya penjegalan agar Ahok tidak bisa melanjutkan pencalonan Pilgub 2017. Mereka juga menuntut Presiden yang dianggap melindungi Ahok, karena punya misi agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak punya kesempatan mencalonkan diri lagi di tahun 2019. Bahkan kalau perlu dihentikan di tengah jalan dengan berbagai upaya.

Jika program kerja jokowi mulus berjalan, tidak ada lagi pintu masuk untuk kemenangan tahun 2019. Maka mereka kini menunggu-nunggu celah untuk bisa menggoyang pemerintahan Presiden Jokowi. Mereka memancing-mancing Presiden untuk marah agar Presiden melakukan hal-hal yang inkonstitusional, sehingga mereka punya alasan kuat untuk mengail di air keruh, seperti mereka memanfaatkan dengan baik isu penistaan agama oleh Ahok dengan menggosok sentimen muslim pada nonmuslim.

Begitulah kelompok sok paling agamis yang kini mulai ketahuan siapa dalang di balik setiap aksi yang menggerakkannya. Semua tentang politik, tidak lebih dari itu. Ada pihak yang tak yakin bisa mengalahi Ahok di Pilgub dan Jokowi di Pilpres 2019 nanti. Apalagi mereka belum ada figur yang layak secara elektabilitas. Mereka tidak pede bisa menang bila bertanding secara ksatria. Maka ditempuhlah segala cara, tak peduli tenun kebangsaan koyak dan bangsa ini jadi terpecah belah oleh ulah mereka.

Di sisi lain Presiden Jokowi tetap kalem dan diam. Gerakannya smart dan strategis. Dia pegang elemen-elemen paling penting dalam negara. Para ulama dan kelompok agama yang masih ideal menjaga kebangsaan, militer yang tak akan gentar mempertahankan NKRI. Dia memang sudah membaca akan seperti apa kondisinya, dan mau kemana arahnya, sejak unsur rezim terdahulu masuk dalam peta politik di Pilgub DKI, dan FPI sepenuh hati mendukungnya. Yang lucu adalah FPI bergandeng mesra dengan tokol Jaringan Islam Liberal yang selama ini dihina dan dinistakan, hanya karena mendukung calon yang sama.

Kini FPI boleh menepuk dada karena sedang mendapat angin. Namun dalam politik, tak ada yang abadi. Jangan-jangan tiba saatnya semua pengabdian FPI dinafikan. Habis manis sepah dibuang. Dalam politik, itu hal biasa...

 

(Sumber: Status Facebook Afa Muaffa)

Friday, November 18, 2016 - 23:45
Kategori Rubrik: