Ketika Felix Siauw Ditolak MUI

Oleh: Eko Kuntadhi

 
Dulu ada yang mendirikan perkumpulan yang namanya GNPF-MUI, artinya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI. Gerakan itu digunakan untuk menolak Ahok sebagai Gubernur di DKI dengan alasan agama.

Sepertinya fatwa MUI begitu berharga. Bahkan sangat berharga bagi umat Islam, sehingga dibutuhkan pengawal sampai berlapis-lapis. Tapi GNPF-MUI sekarang berubah. Nama MUI dicoret, tinggal ulama saja. Bukan lagi memakai nama MUI.

 

 
 
Kenapa tidak mau lagi menggunakan nama MUI? Tamnpaknya MUI sendiri keberatan namanya digunakan terus untuk gerakan politik. Atau karena MUI mungkin tidak mau lagi ditungangi. Ketika sikap politik MUI dianggap menguntungkan, digunakanlah label MUI untuk memanas-manasi umat. Seolah MUI dipersepsikan sebagai lembaga kumpulan ulama yang fatwanya wajib didengar.

Tapi ketika MUI memiliki pandangan berbeda, nama itu tidak lagi digunakan. Nama MUI diganti ulama saja, jadi Gerakan Nasaional Membela Fatwa Ulama. Ulama yang mana? Tentu saja ulama-ulama yang menguntungkan dan sesuai dengan keinginan politik mereka saja. 

Tidak akan mungkin, misalnya, gerakan itu mengawal fatwa Kyai Said Aqil Siradj atau Habib Lutfi. Padahal keduanya adalah ulama.

Nah, di Belitung MUI disana juga bersikap. Mereka mengeluarkan keputusan untuk melarang Felix Siauw berceramah di Belitung. Alasannya jelas, karena Felix sampai saat ini berkesan tetap sebagai bagian dari HTI. Sementara UU sudah melarang organisasi anti Pancasila seperti HTI eksis di Indonesia.

Sikap MUI Belitung ini patut diapresiasi. Selain nama ulama yang melekat pada namanya, juga ada nama Indonesia. Jadi adalah wajar jika MUI Belitung melarang siapa saja yang menghasut untuk meruntuhkan ideologi negara. Antek-antek HTI yang berniat mendirikan khilafah memang mestinya jangan diberi tempat eksis di Indonesia.

Dengan mengeluarkan larangan seperti itu, MUI Belitung merasa penting untuk melindungi masarakat muslim disana terpapar pandangan keagamaan yang membahayakan negara. 

Apakah mereka yang dulu membentuk GNPF-MUI juga akan mengawal keputusan MUI Belitung. Atau malah akan mencaci MUI karena melarang antek HTI menyebarkan pengaruhnya?

Kan sudah dibilang. MUI dihargai kalau menguntungkan. Jika tidak lagi menguntungkan, MUI akan ditinggal. Jadi kalau masih ada yang membela Felix dan melawan MUI Belitung, tujuan mereka memang bukan menghormati ulama.

Tujuannya cuma mau menunggangi ulama demi kepentingan politiknya saja.

Kabarnya Bahtiar Nasir, tokoh GNPF itu juga ditolak di Karanganyar, Jawa Tengah. Tokoh-tokoh agama di berbagai daerah sadar, mereka tidak mau ditunggangi oleh mereka yang menjadikan agama sebagai tunggangan politik saja.

"Jadi sebetulnya mereka dukung MUI apa Timnas Italia, sih?" tanya Bambang Kusnadi. 

Gak perlu dijawab. Pertanyaannya gak penting!

(Sumber: www.ekokuntadhi.com)

Thursday, November 16, 2017 - 18:30
Kategori Rubrik: