Ketika Dunia Gempar oleh Investigasi atas Dokumen The Panama Papers

Oleh: Tomi Lebang

 

Penerbitan serempak media-massa dunia atas hasil investigasi Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) atas dokumen Panama Papers telah menggemparkan hampir seluruh dunia. Investigasi ini, kemarin Selasa 5 April 2016 memakan satu korban kakap: pengunduran diri Perdana Menteri Islandia Sigmundur David Gunnlaugsson.

Nama Gunnlaugsson dalam Panama Papers disebut memiliki perusahaan cangkang yang langsung memicu protes massa di Reykjavík, ibu kota Islandia. Sedikitnya 10.000 orang turun ke jalan di negeri berpenduduk 330.000 ini.

Di tempat lain, bank-bank raksasa seperti UBS, Credit Suisse dan HSBC telah menuai gugatan atas keikutsertaan mereka membantu nasabah besar mengaburkan duit di perusahaan offshore.

Di Cina, negeri dengan pengawasan informasi ketat dari pemerintah komunis, hasil pencarian dan diskusi sosial media yang memuat kata “Panama Papers” dan “Panama” disensor. Pemerintah juga mem-blok penggunaan nama-nama yang berhubungan dengan penguasa dan bekas penguasa yang tercantum dalam dokumen Panama Papers, terutama – tentu saja -- Presiden Xi Jinping.

Kendati begitu, pemerintah Inggris, Perancis, Belgia, Australia dan Meksiko – dan sayup-sayup juga kita dengar dari Dirjen Pajak dan PPATK di Indonesia – hendak melakukan investigasi lanjutan atas kebocoran dokumen yang terkait dengan nama-nama warga negara masing-masing.

Siapkan cemilan dan kopi-susu, nikmati kabar buruk ini dalam waktu lama.

Panama Papers memuat sedikitnya 12 pemimpin dan bekas pemimpin dunia, juga 128 politisi dan pejabat publik di berbagai negara. Nama Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Argentina Mauricio Macri, ayah Perdana Menteri Inggris David Cameron, para petinggi RRC, Presiden Ukraina Petro Poroshenko, dan lain-lain. Satu per satu mereka dipaksa muncul dan membantah. Satu per satu, hari demi hari.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi di balik semua itu? Benarkah ini semua adalah konspirasi dan kejahatan?

Artikel di CNN yang ditulis Ivana Kottasova dan Jethro Mullen dan saya jadikan sumber untuk tulisan ini menyatakan: ini tidak selalu berupa kejahatan. Ada berbagai alasan seseorang mendirikan perusahaan cangkang atau perusahaan tempurung (shell company) – misalnya untuk mempermudah transaksi dalam kegiatan bisnis internasional.

Akan tetapi perusahaan cangkang dengan rekening di negeri asing seperti ini paling gampang untuk menyembunyikan asal-usul uang dan tentu saja jalan mudah pencucian uang. Dalam laporan Mossack Fonseca itu, misalnya, terdapat sedikitnya 33 nama dan perusahaan yang tercantum di daftar hitam pemerintah Amerika Serikat karena keterkaitannya dengan perdagangan obat terlarang dan terorisme.

Oh ya, dan mengapa pula namanya Panama Papers? Firma hukum Mossack Fonseca ini berbasis di Panama, Amerika Tengah – negeri yang perangkat hukumnya dianggap lunak kepada para pencuci uang. Firma ini telah berdiri sejak 30 tahun lalu dan berpengalaman membantu mendirikan 240.000 perusahaan untuk klien dari 180 negara di dunia. Mossack Fonseca punya 40 kantor cabang di luar Panama, termasuk sejumlah cabang di Cina, dan tentu paling banyak di negara-negara surga pengemplang pajak seperti Bahama, British Virgin Islands, Seychelles, Cayman Island dan Anguilla.

Sebelum terkuaknya dokumen Panama Papers ini, pada bulan April 2013 atau tiga tahun lalu, konsorsium wartawan investigasi dunia ICIJ juga menerbitkan “Offshore Leaks”, hasil pengungkapan dokumen rahasia di British Virgin Islands dan Singapura.

Klien Mossack Fonseca yang cemas – seperti ditulis TEMPO -- meminta jaminan dari perusahaan itu bahwa rahasia mereka tak akan terkuak. Kepada mereka yang gelisah ini, Mossack Fonseca mengatakan: “Semua informasi rahasia Anda tersimpan dalam pusat data kami yang amat canggih dan semua komunikasi Anda dengan jejaring global kami dilakukan lewat saluran yang terenkripsi dengan algoritma berstandar dunia."

Dan kini semua terungkap.

Jurnalis sedunia merayakan keberhasilan mereka mengungkap kasus ini dengan penerbitan serempak Panama Papers pada Senin 4 April 2016. Inilah kemenangan jurnalisme investigatif. Dengan pengungkapan ini, ICIJ telah membantu pemerintah dan warga di banyak negeri, termasuk Indonesia, untuk paham lebih banyak tentang orang-orang kaya di sekitarnya.

Hari masih panjang. Kita nikmati dengan kopi, koi dan membaca koran pagi. Setiap hari.

Selamat dumba-dumba....

(Sumber: Facebook Tomi Lebang)

Keterangan foto: PM Islandia Sigmundur David Gunnlaugsson yang mundur menyusul skandal Panama Papers.

Wednesday, April 6, 2016 - 19:45
Kategori Rubrik: