Ketika Data Berubah Sampah

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Saya berjaga-jaga kalau kondisi semakin buruk dari sudut ekonomi, maka warga perumahanlah yg harus berkontribusi kpd warga kampung sebelah. Agar tidak salah sasaran dan overlap saya meminta data warga prasejahtera secara silent ke salah satu staff desa.

Ada 480 kk prasejahtera dari 5.000 kk, atau 9,6 %. Setelah saya teliti ternyata di dalamnya tercantum staff desa juga, saya tanya kenapa ada nama mereka, jawabnya kalau tidak berkenan bisa dikeluarkan. Ini bukan soal berkenan atau tidak, tapi datanya jadi tdk valid. Kebayang kl seluruh Indonesia yg 80.000 desa datanya seperti itu, maka beban negara menjadi makin berat dan bias.

 

 

Kebayang DKI yg mengklaim warga prasejahteranya hanya 3,7%, tapi bgt minta bantuan pusat langsung jumping ke 3,7 juta atau 30% dari warga DKI. Orang miskin di mark up, lem di mark up, toa di mark up, lama-lama kentut di mark up biar panjang bunyinya.

Dalam masa isolasi mandiri skrg ini saya banyak merenung, manusia non akhlak makin berserak. Di tengah kesulitan ada yg mark up harga masker, apd, obat, dgn nilai kenaikan ratusan persen. Bahkan pemda DKI sendri jualan marker naik ratusan persen, janji mau bagi masker, yg datang uler.

Luar biasa bejatnya, gak bisa ngebayangin Jokowi bgmn menghadapi jutaan manusia celaka seantero negeri. Maju kena mundur kena. Semoga saja corona cepat selesai agar manusia pemakan bangkai gak bisa lagi mengkais bangkai saudaranya atau mereka mengerat negaranya.

Kunfayakunn..

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Friday, April 10, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: