Ketika Cadar dan Salib Bertemu

ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Fasilitasi adalah momen yang selalu menyenangkanku. Melaluinya, aku dapat menyampaikan, menerima, dan mendiskusikan gagasan dengan orang lain. Bagiku, ia adalah bentuk demokrasi mini dimana berbagai orang dari beragam latar belakang dapat saling bertukar persepsi yang beraneka dan di saat yang sama harus saling menerima.

Tepat seperti yang terpotret dalam foto ini, ketika sesi berbagi pendapat dengan salah seorang kader Kelas Pemikiran Gus Dur Gusdurian Addakhil Sidoarjo (Sekedar info, kegiatan ini memang diselenggarakan di GKJW Mlaten, yang ruangannya telah diatur sedemikian rupa untu penyelenggaraan acara Gusdurian, bukan untuk ibadah bersama).

Foto ini cukup menarik karena lebih dari sekedar potret diriku, di dalamnya terabadikan 2 simbol keagamaan yang selama ini nyaris dianggap tak bisa bersatu: cadar dan salib. Nyatanya, kejadian ini benar adanya dan bukan adegan karangan semata.

Gadis itu maju bukan untuk sekedar memegang mic. Gadis itu maju untuk menyampaikan pendapatnya ketika berkesempatan masuk Pura (tempat ibadah agama Hindu - seluruh kader diajak mengunjungi Pura sesaat sebelumnya di hari yang sama).

Dengan sorot matanya yang mantap, ia berujar bahwa pengalaman masuk Gereja dan Pura untuk pertama kali merupakan suatu hal yang menegangkan dan menenangkan sekaligus. Tegang karena ia terkenang dogma-dogma negatif akan segala hal yang berkaitan dengan iman lain. Tapi akhirnya ia pun menjadi tenang karena ia mampu melihat dan mengalami sendiri bahwa dogma-dogma itu tidak benar adanya. Pun dengan kehadirannya tersebut, ia juga membuktikan kepada orang lain bahwa pengguna cadar tidak mesti radikal dan tidak mampu menghormati perbedaan.

Dari foto dan cerita ini, kiranya aku dan kita semua lagi-lagi dapat memetik suatu hikmah bahwa penghormatan itu adalah buah dari kasih sayang. Sedangkan kasih sayang selalu tumbuh dari perkenalan. Dan perkenalan senantiasa diawali dari hati yang terbuka dan lapang.

Semoga rahmatNya tercurah pada kita semua 

(Bee Sofranita - Gusdurian Sidoarjo
#GusdurianIndonesia).

Sahabat, ...betapa indahnya ketika manusia bertemu dengan manusia, membebaskan diri dari semua ikatan atributnya.

Saya yang memberi judul tulisan Bee yang mengetuk pintu kesadaran di atas.

Semoga Tuhan memberkati kita semua...

-HT-

Tuesday, February 19, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: