Ketika Amir Hizbut Tahrir Bermimpi jadi Al Fatih Kedua

ilustrasi

Oleh : Ayik Heriansyah

Tahun ini, Hizbut Tahrir menggelar agenda global baru berupa kampanye Pembukaan Konstantinopel. Di bawah kepemimpinan Amir Hizbut Tahrir, Atha’ Bin Khalil Abu Rusytah, seorang insinyur teknik sipil yang diyakini oleh para syabab Hizbut Tahrir sebagai mujtahid mutlaq, melalui kantor media pusat Hizbut Tahrir, telah melancarkan kampanye global memperingati hari Penaklukan Kota Konstatinopel yang dikepung dari 26 Rabiul-Awal hingga 20 Jamadil-Awal 857H bersamaan dengan 5 April hingga 29 Mei 1453M.

Tak terkecuali, aktivis Hizbut Tahrir di Indonesia (HTI) juga turut serta dalam kampanye global tersebut dengan mengadakan serangkaian kajian, mem-posting artikel, gambar dan meme seputar peristiwa bersejarah tersebut melalui media sosial.
Jika melihat jadwal haul Khilafah yang jatuh pada 28 Rajab, satu hari setelah Isra’ Mi’raj, yang selalu diperingati HTI dengan menggelar kampanye Khilafah ke seluruh pelosok Nusantara, kampenye global Penaklukan Kota Konstatinopel lebih cepat 3 bulan dari peristiwa pengepungan kota Konstantinopel yaitu 5 April hingga 29 Mei.

Ada empat kemungkinan: Pertama, kampanye Penaklukan Kota Konstatinopel untuk mengaburkan dan menutupi agenda utama haul khilafah yang isinya kampanye khilafah dari pantauan aparat. Kedua, sebagai pemanasan dan pengkondisian umat dengan puncak acara selama April – Mei. Ketiga, karena April - Mei telah memasuki bulan Ramadlan. Pada bulan itu konsentrasi masyarakat kepada ibdah puasa, shalat tarawih, zakat fithrah, mudik dan lebaran, sehingga kalau Hizbut Tahrir melakukan kampanye, nanti kurang efektif. Keempat, bisa saja kampanye dilanjutkan sampai ramadlan melalui ceramah, kuliah umum dan pengajian ramadlan yang mereka isi.

Melalui kampanye global Penaklukan Kota Konstatinopel, Amir Hizbut Tahrir mau membentuk imajinasi dalam pikiran para pengikutnya, bahwa Amir dan pasukan yang dijanjikan Allah swt melalui lisan Nabi saw yang akan menaklukkan kota Roma adalah dirinya dan para syabab Hizbut Tahrir. Amir Hizbut Tahrir adalah Amir terbaik, syabab Hizbut Tahrir adalah pasukan terbaik, Seperti halnya Muhammad al-Fatih membuka kota Konstantinopel.

Imajinasi liar Amir Hizbut Tahrir ini, mengacu kepada hadits: Salah seorang sahabat Nabi, Abu Qubail bercerita, “Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya, ‘Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Roma?’ Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya.

Kemudian dia mengeluarkan kitab. Lalu ia berkata, ‘Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya:
أي المدينتين تفتح أولا : أقسطنطينية أو رومية ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مدينة هرقل تفتح أولا . يعني : قسطنطينية
Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel’.” (HR. Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)’

«لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ»
Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad).

Fakta-fakta yang harus Amir Hizbut Tahrir dan pengikutnya ketahui adalah bahwa Konstantinopel ditaklukkan oleh seorang Sultan berusia 21 tahun dari Kesultanan Usmaniyah. Muhammad al-Fatih bermadzhab Asy’ariyah, madzhab aqidah yang ditolak oleh Hizbut Tahrir. Dalam fiqih, Muhammad al-Fatih bermadzhab Hanafiyah.

Muhammad al-Fatih tidak mengadopsi pendapat fiqih (madzhab) Hizbut Tahrir, baik perkara ushul maupun furu’. Muhammad al-Fatih menerima ajaran tasawuf dan tarekat. Mayoritas pasukannya adalah pengikut tarekat Naqsabandiyah yang sangat disiplin shalat lima waktu berjama’ah, shalat tahajjud dan shalat sunat lainnya.

Hal ini bertolak belakang dengan pendapat Hizbut Tahrir yang mengganggap tasawuf sebagai penyebab kemunduran umat. Di samping itu, mayoritas syabab HTI malas shalat berjama’ah di masjid. Subuh kesiangan. Apalagi mau shalat tahajjud dan shalat sunnat lainnya.

Dalam pemikiran politik, Muhammad al-Fatih berpendapat umat Islam boleh hidup dalam beberapa negara. Satu umat tidak wajib hidup dalam satu daulah. Saat Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel, dia seorang Sultan dari kesultanan Usmaniyah. Dia bukan seorang khalifah yang memimpin umat Islam seluruh dunia dalam satu daulah dan bendera. Saat itu umat Islam terpecah-pecah ke dalam beberapa kesultanan. Kesultanan Mamluk di Syam dan Mesir, pemerintahan di Hijjaz, Yaman, kesultanan Safawi di Asia Tengah, kesultanan Moghul di Asia Selatan, kesultanan di Maghribi dan kesultanan-kesultanan di Nusantara. Muhammad Al-Fatih mengakui keabsahan dan kedaulatan kesultanan-kesultanan tersebut dibuktikan dengan surat yang dia kirim kepada para sultan di berbagai belahan dunia setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel.

Dari sisi kualitas kepribadian, ilmu, pemikiran dan ibadah, Muhammad Al-Fatih dan pasukannya jauh di atas Amir Hizbut Tahrir dan pengikutnya. Akan tetapi mimpi Amir Hizbut Tahrir mau menaklukkan kota Roma di Italia, bisa saja terwujud dengan syarat, Amir Hizbut Tahrir harus menjadi khalifah dari sebuah negara super power, karena untuk menaklukkan kota Roma dibutuhkan kekuatan yang luar biasa.

Jika Amir Hizbut Tahrir masih berstatus sebagai ketua partai politik seperti sekarang, berat rasanya bisa menaklukkan kota Roma. Dan jangan lupa, dari sisi usia, Amir Hizbut Tahrir tidak semuda Muhammad Al-Fatih. Usia Amir Hizbut Tahrir sekarang 77 tahun. Sudah sangat tua untuk memimpin jihad menaklukkan kota Roma. Mending sisa umur yang ada dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah fardliyah, taqarrub ilallah, mengumpul bekal untuk kehidupan di akhirat nanti.

Sumber : Status Facebook Ayik Heriansyah

Sunday, January 26, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: