Keterlibatan Pak Kayam Dalam "Pengkhianatan G30S

Ilustrasi

Oleh : P Hasudungan Sirait

Aku menyukai dan mengagumi Pak Umar Kayam. Artikelnya di jurnal ‘Prisma’ selalu kusimak. Pun karya fiksinya, termasuk ‘Sri Sumarah’, ‘Bawuk, dan ‘Seribu Kunang-kunang di Manhattan’. Tatkala “Mangan Ora Mangan Kumpul’—kolomnya di koran ‘Kedaulatan Rakyat’ (KR) telah membuku, itu pun kucerna dengan sukacita. Aku menikmati kelincahan dan kejenakaannya sebagai penulis.

Di sebuah pagi di tahun 1991 Pak Kayam muncul di tempat kami mengikuti Program Pendidikan Wartawan Profesional yang berlangsung 6 bulan. Ia akan menjadi pemateri tamu di rumah belajar di Sekip (tak jauh dari kampus Fakultas Teknik-UGM dan Mirota Kampus) yang di balik tembok belakangnya membentang kuburan-tua Tionghoa.

Sejumlah pemikir terkemuka yang menjadi lingkaran pergaulan ‘suhu’ LP3Y, Bang Ashadi Siregar, secara berkala bergantian menjadi pembicara di perhelatan tahunan ini. Di antaranya, ‘yang terhormat’ [meminjam sebutan yang diinginkan anggota Pansus DPR keluar dari mulut orang KPK]: Aristides Katoppo, Masmimar Mangiang, Daniel Dhakidae, Hotman Siahaan, Saur Hutabarat, Loekman Soetrisno (sosiolog), dan Dibyo Prabowo (ekonom).

Ruang kelas sedang dipersiapkan pagi itu. Laksana seorang penggemar bertemu selebriti, aku mendekati Pak Kayam. Kami berjabat tangan dan bertukar kata. Kuungkapkan bahwa aku penyuka karya tulisnya. Ia manggut-manggut sembari tersenyum. Tentulah hatiku berbunga-bunga, tersanjung oleh isyarat gerakan kepalanya.

Dengan hangat ia kemudian—karena kutanya—menjelaskan kegiatannya terkini. Rutinitasnya menghidupi Pak Ageng, Mister Rigen, Nansiyem, Benny, dan yang lain di kolom KR sedang terhenti. Tapi ia tetap menulis, termasuk menyiapkan sebuah novel.

Tanpa membuang waktu aku langsung melontarkan pertanyaan yang tahunan kusimpan di hati ke lelaki bertubuh tinggi-besar yang kedudukannya sebagai punggawa sangat dihormati komunitas pegiat budaya-seni Yogya yang nyata berkasta.

“Mengapa Pak Kayam mau main di film ‘Pengkhianatan G 30 S PKI?”

“Pertanyaan seperti ini pernah saya dengar. Masalahnya apa menurut Anda?“

“Fiksinya sangat sarat! Tarian Bunga Harum oleh Gerwani di Lubang Buaya itu, misalnya. Orang-orang Gerwani sudah membantahnya.…mereka bilang: tidak ada acara menyilet tubuh dan memotong kemaluan para jenderal.”

Ia tertawa. “Yang namanya filem kan harus menarik….”

“Ya, kalau fiksi. Ini kan dimaksudkan sebagai sejarah. Buktinya, film itu wajib ditonton seluruh anak sekolah kita,” sergahku dengan sengit. “Mengapa Pak Kayam ikut main? Sebagai balas jasa-kah karena Bapak pernah menjadi Dirjen RTF [Radio Televisi dan Film]-nya Pak Harto?”

Mimiknya menjadi serius. “Bukan…sama sekali bukan! Saya terlibat karena diajak teman-teman. Arifin [Arifin C. Noer], Syubah Asa…mereka yang membujuk-bujuk saya. Tidak enak kan menolak teman lama…”

“Jadi lebih karena perkawanan?”

“Ya. Bagi saya sendiri film itu seperti ‘dolanan’ [mainan] saja. Tapi ada satu hal yang saya sangat sukai saat syuting.”

“Apa?”

“Saya bisa bilang, ‘Harto….sini!’ Dengan suara keras pun bisa. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Pengambilan gambarnya tidak sekali jadi, kan… diulang-ulang. Kalau tidak waktu syuting, mana bisa saya berucap ‘Harto….sini!’ Pasti ditangkap saya, ha…ha…ha…”

Percakapan harus kami ujungi sebab kelas bakal segera mulai. Kejenakaannya yang tebal, tak sempat kudengar lebih banyak.

Sambil menyimak paparannya tentang potret budaya Indonesia kontemporer yang dikaitkan dengan misi yang seharusnya dijalankan media massa kita, sesekali di kelas pagi hingga siang itu penjelasan ihwal keikutannya di film arahan sineas terkemuka Arifin C. Noer tersebut masih saja mengusik pikiranku. Bagaimana tidak? Hal yang merupakan perkara serius bagiku sehingga mengganduli pikiranku sejak 1984 ternyata sepele saja bagi dia.

Kuikuti sesinya dengan sepenuh hati dan pikiran. Rasa hormat dan kagumku tidak berkurang meski keterangan soal perannya sebagai Presiden Soekarno yang tersudut selepas 30 September 1965, masih belum memuaskan diriku.

Di tahun 1992 aku bersua lagi dengan Pak Kayam. Tidak di Yogyakarta, melainkan di Padang Golf Halim Perdanakusumah, Jakarta. Novelnya, ‘Para Priyayi’ diluncurkan siang itu. Tempatku bekerja, harian ‘Bisnis Indonesia’ menugasi aku untuk meliputnya.

Kami berdua sempat berbincang siang itu. Topiknya soal karya terbarunya. Di akhir percakapan kusempatkan mengingatkan dia soal film ‘Pengkhianatan G 30 S PKI’ yang kami obrolan di Sekip, dulu. Ia ternyata masih mengingatnya.

“Ya, saya ikut main untuk ‘nyenangin’ Syubah dan Arifin saja. Saya senang karena bebas mengatakan ‘Harto….sini!’” ujarnya dengan tertawa.

Jawaban doktor lulusan Universitas Cornell (AS) yang pernah juga kulihat di Balairung UGM, Bulaksumur, saat diskusi film ‘Langitku Rumahku’—karya Slamet Rahardjo (sutradara)-Erros Djarot (produser) tahun 1990 yang tak bisa tampil di bioskop jaringan 21—tersebut ternyata konsisten. Itu melegakan dan menyenangkan aku.

Liputanku tentang ‘Para Priyayi’ muncul di ‘Bisnis Indonesia’. Pun resensi karya tersebut yang kubuat kemudian

Kalau bagi seorang budayawan terkemuka Umar Kayam, ‘Pengkhianatan G 30 S PKI’ ecek-ecek [istilah orang Medan untuk sesuatu yang tak serius], tentu tidak demikian untuk mereka yang menjadi otak dari pembuatannya.

Besar kemungkinan akan seperti ‘Triumph des Willens’ [‘Triumph of the Will’] karya sutradara Leni Riefenstahl-lah karya tersebut mereka dambakan: alat cuci otak yang sangat efektif. Toh mereka juga meniru langkah Menteri Propaganda kesayangan Adolf Hitler, Joseph Goebbels, yang mengharuskan setiap warga Jerman menikmati sajian layar lebar yang menggambarkan kemesiasan sang ‘Fuhrer’ sang ‘penyelamat negara’.

‘Pengkhianatan G 30 S PKI’ sebenarnya adalah kitab yang difilmkan. ‘Tragedi Nasional—Percobaan Kup G 30 S/PKI di Indonesia’, itulah judul buku tersebut. Penulisnya sosok terkemuka: Nugroho Notosutanto dan Ismail Saleh.

Sejarahwan Nugroho Notosutanto sudah menjadi lasykar sejak masih pelajar. Meraih doktor dari UI tahun 1977, guru besar yang belakangan hari menjadi rektor di almamaternya (1982-1985), lama menjadi Kepala Pusat Sejarah ABRI dan Pengajar di SESKO ABRI serta Lemhanas. Terakhir ia menjadi Menteri dan Kebudayaan (1983-1985).

Adapun Ismail Saleh, ia serdadu yang kemudian menjadi sarjana hukum dari Perguruan Tingi Hukum Militer. Sejumlah jabatan penting pernah dipegangnya di masa Orde Baru. Di antaranya Sekretaris Presidium Kabinet, Kepala Kantor Berita ‘Antara’, Sekretaris Kabinet, Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jaksa Agung (1981-1984), dan Menteri Kehakiman (1984-1993). Pangkat terakhirnya letnan jenderal; sedangkan Nugroho brigadir jenderal.

Karya Nugroho-Ismail Saleh itu diadaptasi oleh Arifin C. Noer dan Nugroho Notosutanto menjadi skenario film. Dalam proyek yang menggunakan uang negara Rp. 800 juta (jumlah yang sangat besar untuk ukuran zaman itu), Gufron Dwipayana yang menjadi produser.

Berpangkat brigadir jenderal, saat itu ia Kepala Pusat Produksi Film Negara (PPFN) sekaligus Staf Kepresidenan. Sebagai catatan, dia juga nanti, bersama sastrawan Ramadhan KH, yang menulis buku ‘Soeharto Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya’ (terbit tahun 1989).

Arifin C. Noer menjadi sutradara dalam film terkolosal yang pernah diproduksi PPFN ini. Ia mengajak wartawan majalah ‘Tempo’ yang juga kawan lamanya di teater, Syubah Asa, terlibat sebagai pemain utama di samping Umar Kayam dan Amoroso Katamsi. Syubah Asa memerankan Dipa Nusantara (DN) Aidit, Ketua PKI, sedangkan Amoroso Katamsi –-dokter yang saat itu berpangkat laksamana pertama—menjadi Panglima Kostrad Letjen Soeharto.

Bagi awak film ini, termasuk Pak Kayam, bisa jadi ‘Pengkhianatan G 30 S PKI’ sebuah media berekspresi belaka—seperti halnya karya layar lebar lainnya yang melibatkan mereka. Dengan demikian mereka bisa merasa terbebas dari pretensi apa pun, termasuk ideologi, saat melakoni perannya. Jadi, soalnya begitu sederhana.

Akan halnya bagi para ‘master mind’ yang memaksudkan produk seni ini sebagai alat propaganda, perkaranya sangat serius sebab yang sedang mereka jalankan adalah ‘grand strategy’.

Bagi khalayak luas yang mereka sasar sebagai pangsa pasar pun urusannya tidak simpel. Yang pasti, dampak film wajib putar yang adegannya serba horor—sehingga menjadi terror terutama bagi kanak-kanak dan remaja—luar biasa pada diri mereka.

Mereka yang tidak suka atau membenci PKI telah menjadikan film ini landasan untuk membenarkan sikapnya selama ini serta untuk lebih keras lagi melaknat pihak yang mereka anggap pelaku kudeta gagal di ujung September.

Adapun yang berkerabatkan orang PKI atau yang di-PKI-kan, karya ini mimpi buruk yang selalu muncul untuk membuncahkan kemasygulan. Setiap film ini diputar di penghujung September, kepedihan mereka kontan menggunung.

Sebuah kisah yang tak pernah kubayangkan pernah kudengar dari seorang sahabat perempuan. Ia akan meradang dan merasa tersiksa betul setiap akhir September mendekat. Tatkala kesesakan di hatinya mendesak, kerinduan pada ayah yang tak sempat dikenalnya pun memuncak.

Seorang seniman yang juga aktifis kiri, si ayah tak jelas lagi rimbanya bagitu perburuan terhadap orang PKI berlangsung sebagi ekor dari ‘Gestok’ [mirip ‘gestapo’, akronim ini diciptakan penguasa Orde Baru untuk ‘Gerakan Satu Oktober’).

Sejak ayahnya hilang, kehidupan keluarga kawanku [mereka perempuan semua] porak-poranda. Menumpang di rumah nenek [dari ibu], sejak masih bocah mereka dianggap benalu pengganggu oleh keluarga besarnya.

Jelas, luka jiwa mereka yang beradik-kakak menganga sangat lama; terlebih lagi yang di ibu mereka. Apakah Pak Kayam dan yang lain yang menganggap film yang melibatkan mereka ‘dolanan’ saja pernah membayangkan imbas yang begitu hebat seperti yang dirasakan kawanku? Entahlah. Ke Pak Kayam sendiri pertanyaan ini tak sempat kuajukan.

Film ‘Pengkhianatan G 30 S PKI’ telah menjadi karya yang paling ‘box-office’ sepanjang sejarah Indonesia sebab menjadi tontonan wajib sejak 1984 hingga rezim Orde Baru tumbang tahun 1998.

Entah karena sukses itu, di tahun 1994 Arswendo Atmowiloto pun menulis novel berjudul ‘Penghianatan G30S/PKI’ dengan memanfaatkan skenario yang ditulis Arifin C. Noer dan Nugroho Notosutanto. Namun, kitab yang diterbitkan Sinar Harapan ini kurang bunyi di pasar.

Sejumlah sesepuh Angkatan Udara (dipimpin Marsekal purnawirawan Saleh Basarah—ia Kepala Staf TNI AU periode 1973-1977) menemui Menteri Penerangan Yunus Yosfiah di tahun 1998. Tujuannya, meminta penghentian wajib putar karya layar lebar bermasalah tersebut.

Anggota kabinet Presiden BJ Habibie yang juga letnan jenderal berlatar belakang Kopassus itu setuju. Sejak itulah ‘TVRI’ tak menghadirkannya lagi di setiap penghujung September.

Jalannya sejarah memang terkadang sulit kita prediksi. Lihatlah: ‘Pengkhianatan G 30 S PKI’ yang kontroversial, kini diputar berkeliling lagi. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo termasuk yang sangat bersemangat mendukungnya. Ia malah telah memerintah jajarannya untuk menggelar nonton bareng (nobar).

Kopassus, misalnya, sejak Rabu (20 September) kemarin hingga Sabtu depan (30 September) menyuguhkan acara nobar di sejumlah titik di kitaran markas Cijantung. Acara serupa mereka adakan juga di markas Kartosuro (Solo) dan Batujajar (Bandung).

Kesatuan lain di angkatan bersenjata juga kemungkinan melakukan hal yang sama karena sudah diperintahkan Panglima Jenderal Gatot Nurmantyo.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri kita, Indonesia tercinta, sehingga Panglima TNI sibuk menggerakkan pasukannya secara ‘terstruktur, sistematis, dan masif’ untuk membangkitkan kembali hantu PKI?

Mengapa sang jenderal dan anak buahnya tidak melakukan sesuatu yang lebih penting dan mendesak yang berkaitan dengan kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia saja, misalnya menghentikan korupsi yang masih saja menggila serta ‘memermak’ penolak-NKRI yang kian berbiak?

Ah, kalau saja Pak Kayam masih hidup dan aku berkesempatan lagi mencakap dengannya, pertanyaan barusan pasti kuajukan ke dia. Pula pertanyaan: mengapa rakyat kita umumnya masih mudah dipecah-belah dan diperdaya oleh siapa saja termasuk mereka yang menjadi peternak ‘hoax’. Karena minat baca yang rendah betulkah, antara lain? Menurut Unesco indeksnya 0,001: artinya dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 yang suka baca. Di tahun 2017 Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara.

Sayang, Pak Kayam yang terlibat dalam ‘Pengkhianatan G 30 S PKI’ sudah di ‘alam sana’. Percuma saja kalau sejuta tanya kualamatkan sekarang ke dia.

Sumber : Status P Hasudungan Sirait

Thursday, September 28, 2017 - 19:30
Kategori Rubrik: