Keteladanan

ilustrasi

Oleh : Mega Sps

Dulu waktu SMP, aku sering ketemu Pastur Bule di lingkungan sekolah ku . Sekolahku SMP Xaverius itu memang satu area dengan Gereja Katolik terbesar di wilayah itu. Setiap aku ketemu dengan Pastur bule itu, aku sangat terkesan akan ketampanan dan keramahannya. Saban ketemu beliau selalu menyapa dengan “Hallo” dibarengi senyum khas nya. Aku sangat adorable sama sang Pastur dan hafal kapan dia akan nongol, kapan nggak. Pintu keluar sekolah ku sejajar dengan pintu keluar Gereja, sehingga kami sering berpapasan di jalan dan say hello secara rutin.

Boleh dikata beliau salah satu contoh Pastur ideal dlm benakku: tinggi, tampan, ramah, sopan dan sederhana. Cerita cerita yang aku dengar beliau memang sangat membumi dan disayang banyak orang. Dia bule tapi rasa lokal.. jubah putih dengan sepatu sandal nya yang khas sepertinya gak pernah ganti (kaliik). Aku gak tahu berapa pasang baju serupa yang dia punya, yang jelas saben ketemu dia pakai jubah dengan model yang sama dan alas kaki yang sama, bertahun tahun.

Mengingat sang Pastur idaman, pernah terpikir aku dulu, kayak apa ya rasanya jadi biarawan? Masa keren keren begitu tahan bertarak sih? Hehhehe... serius aku sampe skrg gak habis pikir ada orang yang bisa jadi biarawan. Terlepas dari itu panggilan atau apa pun istilahnya, aku rasanya gak rela orang se keren itu bisa hidup sebagai Pastur. 
Sayang euyyy hahaha....

Saking kepo nya aku pernah tanya tanya sama temen ku yang masuk sekolah seminari... whats going on inside ? Sayangnya... dia keluar dari sekolah seminari itu: alasannya bukan panggilan dia katanya. Lalu ketemu lagi dengan seorang wanita (suster) yg sdh lama jadi biarawati tapi akhirnya kawin lari sama pacarnya seorang biarawan. Pikirku: bahh.. gitu rupanya hidup ini ya? 

Lalu apa bedanya pastur idamanku, temenku dan suster yang kawin lari dengan pacarnya itu? Mereka memulai langkah awal di tempat yang sama (biara), menjalaninya dengan pergumulan masing masing, yang membedakan adalah langkah akhirnya: banyak yang terpanggil sedikit yang terpilih. Kalo boleh aku tambahkan sedikit: yang satu (pastur bule ku), bergumul sepanjang hidup nya dan menyelesaikan apa yang sdh dia mulai. Sang Pastur pindah pindah tempat pelayanan. Kemana pun dia pindah, orang selalu kagum dengan kesederhanaanya, keramahannya dan senyum khas nya yang melegenda itu.

Ingat pastur bule ku itu, kemarin aku terpaku saat baca status seseorang di FB. Saat dia tanya bagaimana pak Jokowi menghadapi fitnah dan penghinaan? Beliau bilang,” ...kunci menghadapi kebencian dan penghinaan adalah rendahkan hati serendah rendahnya, fokuskan perhatian untuk semakin banyak bekerja. Penghinaan apabila kita hadapi dengan sedikit rasa sombong saja bisa bikin kita sakit. Jangan dilawan, biarkan saja,”

Bengong aku. Ini kelas manusia yang sudah kelar ama dirinya, pikirku. Mungkin itulah jawaban dari pertanyaanku bertahun tahun tentang si Pastur Bule idolaku itu; 
hidup bertarak selamanya, melayani dan menggenapi panggilannya, walo aku sampe skrg pengen tahu apa alasan dia menjadi Pastur (tetep gak rela dia jadi biarawan...

Terus gimana cerita temanku yg keluar dari seminari? Dia memilih untuk berjuang dengan caranya sendiri, kembali ke kehidupan masyarakat biasa. Dia menjadi guru, mengajar. Aku dengar kabar terakhir hidupnya lumayan sukses.

Lalu kemana Suster yang kawin lari sama pacarnya yang biarawan itu? Mana kutahu, namanya aja kawin lari, siapa pulak yang mau ngejar dia? gak ada yang tau keberadaannya sampe skrg. Mungkin dia oplas spy gak dikenali orang?who knows?

#SelesaiDenganDiri170419TDH

Sumber : Status Facebook Mega Sps

Thursday, January 31, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: