Keteladanan yang Hilang

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Di sebuah panggung kampanye.

"Saudara-saudara. Pemimpin itu harus memberi teladan dan inspirasi. Yang hilang dari kita selama ini adalah keteladanan. Rakyat butuh contoh. Rakyat butuh keteladanan. Kami akan mencontohkan tentang keteladanan itu pada rakyat," ujar seorang kandidat berapi-api.

 

Seorang peserta kampanye tidak terlalu fokus mendengar sang kandidat bicara. Dia sibuk dengan layar HP-nya. Dia berbisik kepada temannya. "Sttt.. MZ siapa sih?"

"MZ bukannya Zaenuddin? Lengkapnya Zaenuddin MZ. Kan beliau udah meninggal?"
"Bukan MZ yang itu. Ini MZ yang cewek, bukan cowok."
"Oh MZ yang ada di video anonymous itu, ya? Hihihihihihi..."

"Keteladanan adalah harta yang hilang diantara kita. Keteladanan juga butuh komunikasi yang sehat. Dengan keteladanan, rakyat akan mengikuti pemimpinnya.Sebab sikap para pendukung itu mengikuti orang yang didukung," kandidat terus bicara.

Peserta lainnya saling berbisik. "Spanduk menolak jenazah di musholla, siapa yang turunin?"
"Gak tahu, Padahal itu bagus agar orang takut memilih yang lain."
"Sebetulnya ane gak setuju, masa musholla dijadikan sarana mengancam orang. Gak bener ah..."
"Kalau gak gitu, kite gak bakalan menang. Semua orang udah ngerasain hasil kerjanya Ahok."
"Iya, sih..."

"Ide-ide segar harus ditumbuhkan dari bawah. Semua ide harus dihargai agar kota ini bisa dibesarkan dengan kita menghargai ide-ide. Penjilakan secara serampangan itu sama dengan pencurian. Itu sama sekali tidak boleh menjadi kebiasaan kita," kandidat terus saja berorasi.

Tapi pesertanya, juga asyik dengan HP-nya.

Peserta perempuan mengumpat dalam hatinya. Dia baru saja melihat layar HP yang memutar sebuah lagu berbahasa Yahudi. "Lagu Hashem Melech ini enak juga, ya. Pantas saja dijiplak dijadikan lagu kampanye. Gak apa-apa lah, yang dijiplak karya orang asing ini. Ngapain kita hargai mereka," ujarnya dalam hati.

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

 
Wednesday, April 12, 2017 - 22:45
Kategori Rubrik: