Ketegaran Presiden Hadapi Musibah Ditengah Pandemi

ilustrasi
Oleh : Seruanhulu
Pandemi covid belum usai, berita yang menyayat hati terdengar dari berbagai penjuru negeri. Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 beberapa waktu lalu masih menjadi duka kalangan publik di seantero negeri.
Banjir, longsor dan gempa bumi terjadi di beberapa titik wilayah sehingga tak sedikit warga yang mengungsi.
Apakah ini ujian dari sang Khalik supaya makhluk bumi intropeksi diri lalu kemudian berbenah dan kembali ke arah yang baik? Saya juga tidak mengerti.
Satu hal yang pasti, ini bukan salah pemimpin seperti yang diteriaki para pengkritik yang doyan bikin sensasi. Karena, tidak ada satu pun pemimpin di muka bumi ini yang ingin bencana terjadi hanya untuk meraih simpati.
Justru seharusnya kita bersyukur punya pemimpin seperti Jokowi. Dia langsung terjun ke lokasi bencana terjadi, bukan hanya menyampaikan rasa prihatin dari istana yang diliput jurnalis, layaknya SBY waktu memimpin.
Mengunjungi lokasi pengungsian warga untuk memastikan kebutuhan mereka terpenuhi seperti yang dilakukan Jokowi adalah tindakan responsif yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Beda hal nya ketika SBY jadi pemimpin.
10 tahun SBY memimpin negeri ini, di setiap tragedi ataupun bencana yang terjadi, hanya kata prihatin yang kerap terdengar dari sudut istana tanpa harus terjun ke lokasi. Tapi kala itu tidak ada yang mengkritik.
Di sinilah anehnya negeri ini, ketika pemimpin melakukan hal yang baik maka bukan disyukuri, justru malah dicaci maki. Tapi ketika pemimpin melakukan hal sebaliknya malah dipuja-puji.
Untungnya, Jokowi bukan tipe pemimpin yang mudah sakit hati. Tapi beliau adalah tipe pemimpin sejati yang memiliki jiwa optimis yang tinggi serta ikhlas menjalankan fungsi sebagai seorang pemimpin untuk memperbaiki negeri ini.
Ayo kawan, pandemi dan bencana belum usai. Mari satukan langkah dan berdoa untuk negeri agar pertiwi kembali berseri.
Sumber : Status Facebook Seruanhulu
 
Thursday, January 21, 2021 - 08:15
Kategori Rubrik: