Ketakutan Pada Masa Depan

ilustrasi
Oleh : Vika Klaretha
 
Ketakutan ataupun kecemasan nomor satu manusia adalah masa depan, demikian dikatakan dalam khotbah Minggu tadi. Masa depan begitu tak pasti, tak ada siapa pun yang tahu apa yang akan terjadi. Kebanyakan dari kita begitu mengkhawatirkan masa depan, menggambarkannya dalam serangkaian kejadian buruk yang akan menimpa kita  Akibatnya kita bertindak negatif, untuk menangkis hal buruk yang belum tentu terjadi itu.
 
Padahal masa depan juga memuat kemungkinan lain: hal-hal baik yang mungkin akan terjadi. Dan seperti dikatakan dalam khotbah, sama-sama belum terjadi, mengapa kita tidak mempercayai hal-hal baik dan indah saja yang terjadi  Seperti anak kecil yang digendong orang tuanya lalu dilempar-lempar ke udara. Si anak justru tertawa-tawa gembira, tanpa sedikit pun rasa takut. Karena ia yakin orang tuanya akan menangkapnya dan tak membiarkannya jatuh.
 
Saya jadi teringat tentang 'si vis pacem para bellum'. Memang benar agar tercipta damai kita justru harus siap tempur dan waspada. Tetapi tetap ada ekses negatifnya, misal negeri A membeli persenjataan baru, negeri B langsung cemas dan segera membeli persenjataan lainnya. Akhirnya, terjadilah perlombaan senjata. Tak ada ketenangan.
Mendengar khotbah, saya menjadi tenang. Karena saya yakin masa depan saya bersama 'kamu' dan bukan dengan 'dia' . Sebab kamu selalu baik, merangkul, penuh kasih dan meyakini masa depan yang gemilang bisa kita capai. Sedang dia selalu paranoid, berpikir negatif, berprasangka buruk tentang orang lain, selalu merasa teraniaya. Seperti preman kampung yang selalu meminta 'uang keamanan' dengan alasan demi keamanan kampung dari oknum-oknum jahat. Padahal ia sendiri yang akan membuat kampung itu tidak aman bila tak ada yang memberi uang keamanan.
 
Hei stop... ini saya sedang tidak bicara tentang cinta dan pasangan hidup lho. Ini saya sedang bicara tentang Pancasila dan NKRI, dan bukan tentang pandangan-pandangan transnasional yang tak pernah merangkul keberagaman kita, dan selalu meyakini bahwa kita adalah serangkaian orang bermoral buruk yang perlu diubah menjadi 'baik'. Tentu saja baik dalam arti serupa mereka, tak boleh ada perbedaan sedikit pun.
 
Aku yakin masa depan yang indah, damai sejahtera bersamamu.
 
Sumber : Status Facebook Vika Klaretha
Sunday, June 9, 2019 - 18:15
Kategori Rubrik: