Ketakutan dan Ketidaktahuan tentang Palu Arit

Oleh: KH Nurul Huda (Enha)

Palu arit. Simbol palu arit tradisional sebagaimana tercantum di bendera Uni Soviet. Palu arit (☭) merupakan bagian dari simbolisme komunis. Penggunaan simbol ini menyiratkan hubungan dengan komunisme, partai komunis, atau negara komunis. Paku arit juga melambangkan kaum pekerja industri dan petani, muncul dalam Revolusi Rusia pada 1917. (Sumber: wikipedia)

Momentum liburan anak-anak santri Pesantren Motivasi Nurul Mukhlisin kali ini menghadirkan kisah unik. Kami kedatangan tamu bule asal Rusia. Namanya Ola (19 th) dan Ille (29). Keduanya backpacker specialist yang telah berbulan-bukan melakukan travelling via darat dengan hanya bermodalkan "tangan menyetop kendaraan". Sesekali untuk lintas negara yg mengharuskan menggunakan transportasi udara mereka pake pesawat. Banyak hal yg bisa saya ceritakan, mulai dari mentalitas traveller, nasionalisme mereka sebagai orang Rusia, wawasan budaya bangsa, ketulusan mereka memperkenalkan bangsanya, pengalaman berjumpa dengan banyak orang baik, hingga soal agama dan keyakinan kepada Tuhan, tetapi yang saya anggap seru dan menarik adalah diskusi kami soal "palu arit".

 

Seru, tentu saja, karena membahas lambang palu arit di negeri kita ini sesuatu yg ngeri-ngeri sedap. Ini sebenarnya perbincangan yang tak disengaja, bermula dari Ille yg berinisiatif meminjam kopiah saya utk dikenakan di kepalanya lalu kami foto bersama lalu Ola mengeluarkan topi khas Rusia yg di bagian depan terpampang logo palu arit.

Wow, pikiran "nakal" segera berkelebat, aku memang beberapa kali pernah berjumpa turis Rusia, tetapi ngebahas palu arit sama sekali belum pernah, aku pun memulai bertanya soal lambang yg belakangan heboh di negeri kita, masih ingat soal rectoverso atau gambar saling isi di lembaran uang rupiah? Sekelompok sumbu pendek sampai sekarang masih kekeuh menganggap itu cara terselubung bangkitnya PKI di Indonesia.

Bersyukurlah sebagian besar kita yang dianugerahi otak dengan sumbu panjang, tdk lantas terpengaruh oleh hanya sebuah gambar atau lambang apalagi sampai berfikir pemerintah akan mengubah ideologi pancasila menjadi komunis; mikirnya jauh amat yak 

Tapi ini pesantren? Apa nda bahaya?

Hehehe, aku nda habis pikir dengan cara berfikir yg penuh ketakutan begini? Memangnya kalau kita ngobrolin palu arit terus ideologi kita berubah? Jadi auto-kafir gitu? Ampun deh, bodoh ya silahkan ning ojo nemen lee! 

Maka, Ola dan Illé segera menjelaskan soal palu arit itu, Ola menyebut itu lambang dari kerja keras orang Rusia. Illé menambahkan palu arit itu memang digunakan sebagai alat utk mencangkul atau bertani dan pertanian merupakan salah satu sektor penting di Rusia. Anda bisa mendapatkan penjelasannya di link video facebook yg kuunggah beberapa menit yang lalu, berikut ini link-nya:

https://www.facebook.com/enhabaik/videos/1233262306763587/

Nah, bukankah pertanian juga merupakan jenis pekerjaan paling mulia di negeri kita, bahwa seseorang atau sebuah bangsa mengambil pemaknaan untuk menumbuhkan etos mereka lalu menjadikannya simbol kebanggaan, salahkah mereka? Lalu di mana letak kesalahannya? Lalu saat kita mengambil makna positif dari simbol yg sama apakah secara automatically kita bisa dianggap telah menyebarkan bahaya laten?

Saya ingin menyebut ini dengan pendekatan sederhana, sebut saja ini "reframing", sebuah cara membingkai ulang sebuah peristiwa dengan pemaknaan baru, jadi mulai saat ini bila Anda melihat palu arit yg terbersit bukan PKI tapi etos menyempurnakan ikhtiyar.

Bisa?

Sebagian mungkin menolak. Ini Indonesia bung, bangsa kita pernah dibikin hancur oleh PKI. Palu arit itu PKI, clear! Jangan menggunakan reframing lain. Omong kosong dengan etos, kerja keras, ketangguhan, whatever lah! PKI tidak boleh dibiarkan bangkit, ini harga mati, lha wong sumber hukum negara sudah menyebutnya sebagai bahaya laten (TAP MPRS No.25/1966 mengenai pembubaran PKI dan faham komunisme tambah lagi UU No.27/1996 untuk menindak pelaku yg menyebarkan faham komunisme).

Komunisme dan simbol2nya -dipengaruhi oleh kuatnya doktrin rezim Orde Baru- memang dipersepsikan sebagai hal yang tabu dan terlarang. Namun, tak banyak orang yang menggali jauh dari persepsi itu dan memahami sejarahnya. Menurutku sih, banyak yang tidak paham komunisme itu apa. Saya merasa sikap paranoid terhadap komunisme dan apapun yang diasosiasikan kepadanya adalah histeria yang berangkat dari ketidaktahuan. Aneh juga yaa, padahal dulu tokoh2 komunis Indonesia justru banyak berasal dari kalangan muslim.

Saya rasa sejarah bangsa kita amat terang benderang menyuguhkan pergumulan aksi Sarikat Islam (SI) yg pada gilirannya nanti terecah menjadi SI Putih (H. Agus Salim, Abdul Muis, Suryopranoto, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo) yg berhaluan kanan dan berpusat di kota Yogyakarta dan SI Merah (Semaoen, Alimin, Darsono) yg berhaluan kiri dan berpusat di kota Semarang. Sedangkan HOS Tjokroaminoto pada mulanya adalah penengah di antara kedua kubu tersebut. Perpecahan ini tidak lepas dari pengaruh gagasan komunisme pada masa-masa awal. So, berbicara komunisme sebenarnya tidak berdiri sejajar dengan pembahasan soal PKI apalagi pemberontakan 30 September 1965 yang lebih kuat nuansa konspirasi politik-nya.

Waduh 

Aku sebenarnya sedang cerita liburan anak-anak sih, mereka berlibur terus kedatangan tamu bule, asal Rusia, terus pake topi khas berlambang palu arit, gak ngomongin soal komunisme apalagi PKI. Ola dan Illé gak ngerti PKI, merka juga gak tau faham betapa runyam membicarakan palu arit di negeri ini.

Keduanya orang baik, anak2 juga orang baik, aku apalagi. So, ini hanya cara tuhan mempertemukan orang2 baik dalam suasana liburan. Enjoy banget. Diskusi berjalan seru. Anak2 bisa meningkatkan kemampuan mereka dalam bahasa Inggris sekaligus belajar tentang budaya bangsa lain.

Nah, dalam konteks itu aku rasa, "palu arit" menjadi selipan yang nda bikin kaku, tegang apalagi auto-komunis. Ia muncul dalam diskusi yang tidak lebih dari sepuluh menit, tidak melebar dari sekedar pemaknaan atas etos kerja keras yang tentu saja sangat positif dalam kehidupan kita.

That's it!

 

(Dari Facebook KH Nurul Huda)

Tuesday, February 7, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: