Kesimpulan Aksi Buruh di Jakarta : Sudahlah Miskin Harta, Miskin Hati Pulak!

Oleh : Benardo Sinambela

Persoalan buruh di Indonesia dan bahkan di seluruh dunia memang masih menumpuk dan belum bisa terselesaikan dengan baik oleh pemerintah masing-masing negara. Kita semua mengakui itu dan dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Terkhusu di Indonesia, isu kesejahteraan buruh masih mendominasi aksi-aksi buruh di seluruh daerah.

Sebenarnya dalam keyakinan saya sendiri, ada banyak masyarakat menengah dan bawah yang bersimpatik dan mendukung aksi-aksi buruh ini, terlebih ketika pada kenyataannya masyarakat kita masih mayoritas pekerja.

Hal ini semakin pasti dikarenakan bahwa tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bekerja keras memabanting tulang namun hidup tidak sejahtera.

Dukungan masyarakat, seperti saya pribadi untuk aksi buruh dalam menuntut hak atas kesejahteraannya tidaklah semata-mata tanpa alasan.

Ada banyak orang yang saya temukan hidup sangat tidak layak disekitarku. Mereka bekerja keras, siang dan malam tanpa mengenal lelah, akan tetapi tetap saja hidup mereka jauh dari kata layak. Itu artinya, ada persoalan dalam sistem pengupahan kita.

Hati siapa yang tidak terenyuh melihat kenyataan seperti itu? Jika anda merasakan hal yang sama seperti saya, itu artinya anda juga mencintai kehidupan.

Catatan kritis kita selama ini sering kita alamatkan kepada pemerintah. Padahal, jika kita boleh jujur, kita juga harus menorehkan catatan kritis kepada para buruh kita. Terlebih tentang SDM yang masih jauh dibawah jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang sudah pada posisi mempekerjakan orang lain.

Omongan saya bisa kita buktikan, tak ada yang memungkiri bahwa buruh-buruh kita belum sejahtera, tingkat pendidikan serta keahliannya rendah. Apa ini yang buat aksi-aksi buruh di republik ini selalu anarkis? Dibelahan dunia lain, aksi buruh sangat kreatif.

Buruh Membakar Karangan Bunga Untuk Ahok

Jadi pantaslah kemudian aksi anarkis buruh yang paling di ingat oleh masyarakat ketimbang tuntutan-tuntutannya. Sementara pemerintah lebih sibuk untuk menyiapkan pengamanan untuk aksi buruh ketimbang menyiapkan diri untuk mendengarkan serta melaksanakan tuntutan-tuntutan buruh.

Yang paling disorot dalam aksi buruh di hari May Day tahun ini (2017) yang paling disorot dan diingat masyarakat luas adalah perihal pembakaran bunga-bunga cinta masyarakat untuk Ahok-Djarot di Balai Kota DKI Jakarta.

Seolah-olah, dari kaca mata orang awam, aksi ini memang di desain bukan lagi untuk menuntut hak-hak buruh, tetapi sudah menjadi aksi balas dendam penuh kebencian terhadap Ahok dan para pendukungnya. Karena itu, isu yang menjadi tuntutan buruhpun kemudian tenggelam dimakan aksi pembakaran bunga Ahok. Baik di media pemberitaan maupun di media sosial.

Mereka ingin menunjukkan kepada publik, bahwa masyarakat Indonesia membenci Ahok, atau tidak senang melihat bunga cinta untuk Ahok. Tapi ternyata mereka salah besar, cinta masyarakat kepada Ahok jauh lebih kuat ketimbang kebencian yang buruh pertontonkan dihadapan publik.

Aksi anarkis pembakaran bunga Ahok tidak dibalas oleh para pendukungnya dengan rasa benci, melainkan dengan cinta dan damai, yaitu melalui aksi penyalaan seribu lilin untuk Ahok. Cinta masyarakatpun kepada Ahok semakin dalam, kemurnian cinta dihati masyarakat kepada Ahok semakin membara bagaikan api yang muncul saat bunga untuk Ahok dibakar dengan ganasnya oleh para buruh.

Bunga Ahok-Djarot sebenarnya sama sekali tidak mengganggu mereka dalam menjalankan aksi. Karena memang bunga itu dikirim atas dasar cinta. Bukan kebencian.

Kalau bijak, harusnya buruh kita dapat memaknai dan melihat itu. Lalu tidak bertindak biadab dengan membakarnya.

Tetapi apalah daya, cinta itu tidak mungkin bisa mereka lihat dan rasakan, karena mereka memang miskin hati. Mereka adalah kelompok atau oknum yang dibayar untuk menjalankan misi titipan sesuai keinginan para donatur.

Lalu siapakah donatur mereka? Tak lain adalah para musuh politik Ahok, yang tidak suka melihat Ahok dicintai oleh masyarakat.

Biadab sekali memang cara mereka, tidak sadar kalau mereka sedang menunjukkan kebodohan dan kedengkian hatinya dihadapan publik. Tidak hanya menunjukkan kebodohan, mereka juga menunjukkan bahwa hati mereka selama ini dipenuhi dengan kebencian.

Benci melihat Ahok-djarot yang begitu dicintai masyarakat.

Untuk konsekuensinya, buruh DKI Jakarta hari ini banyak mendapat cemoohan dan bahkan kecaman dari masyarakat. Semakin banyaklah masyarakat yang tidak bersimpatik lagi kepada buruh.

Ketulusan buruh-buruh yang lain dalam memperjuangkan hak-haknya demi kesejahteraannya dalam sekejap dirusak oleh oknum-oknum penyusup bayaran.

Sekedar catatan, ternyata buruh-buruh ini adalah pendukug Anies-Sandi. Baca informasi lengkapnya di website FSPLEMSPSI.or.id ini.

Maka dengan mengacu pada pendapat Anies dalam berita METROTVNews.com ini yang megatakan bahwa perilaku pendukung mewakili sifat pemimpin yang didukung, kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa buruh pembakar bunga Ahok hanya mewakili pemimpin yang mereka dukung.

Jadi, anda bisa menebak siapa sebenarnya otaknya bukan? Atau siapa pelaku yang sebenarnya dibalik semua ini?

Coba fikirkan, apa mungkin orang itu yang ada didalam fikiran anda sama dengan orang yang ada didalam fikiranku? Bisa jadi.

Mudah-mudahan, Ahok senantiasa akan memberi manfaat lebih besar lagi buat mereka yang membencinya melalui baktinya untuk republik ini, meskipun kerap difitnah dan dizolimi. Seperti bunga Ahok yang tersisa dari aksi pembakaran mereka pada sore aksi May Day di Balai Kota Jakarta, yang memberi keteduhan bagi para buruh saat hujan lebat datang.

Sumber : www.benardosinambela

 

 

 

Wednesday, May 3, 2017 - 10:15
Kategori Rubrik: