Kesetiaan yang Sia-Sia Prajurit Teruo Nakamura

Oleh: Gunawan Wibisono

 

Pada 18 Desember 1974 dunia dikejutkan dengan ditemukannya –Teruo Nakamura- prajurit AD Jepang semasa Perang Dunia Kedua yang tetap bertahan (tidak mau menyerah) di belantara Pulau Morotai, propinsi Maluku Utara!

Bayangkan, PD Kedua di Asia-Pasifik secara resmi telah berakhir 2 September 1945 tetapi sampai 18 Desember 1974, prajurit ini tetap bertahan! Itu angka 29 tahun, Bro, hidup bergerilya sendirian di hutan lebat dengan memakan apa saja yang ia jumpai! Luar biasa.

 

Rute persembunyian Nakamura panjang dan melelahkan. Naik turun bukit. Melingkar-lingkar lebih dari 20 km, melewati gua, air terjun dan sungai. Supaya tidak bingung, sekaligus ia bisa memetakan posisinya bila musuhnya datang, Nakamura membuat peta di atas batu yang ia pahat memakai bayonet. Dalam bayangan prajurit sukarela itu perang masih berlangsung jadi ia harus terus bertahan, apapun keadaannya.

Bila malam tiba, Nakamura tak bisa membuat api sembarangan. Nyalanya akan terlihat dari jauh. Dan itu sangat berbahaya! Karenanya Nakamura kerap berpindah tidur, supaya musuh sulit mendeteksi keberadaannya.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Nakamura mengusir hari-harinya yang panjang dan sepi dengan hidup seorang diri di belantara Morotai yang masih gelap dan perawan. Sungguh menyeramkan!

Bila Anda nonton film ‘Cast Away’ (Robert Zemeckis- thn 2000) yang dibintangi oleh Tom Hank, yang terdampar di sebuah pulau terpencil di samudera Pasifik karena pesawatnya jatuh, Tom sempat berbicara berhari-hari dengan sebuah bola voli, yang dilukis wajah manusia, untuk mengusir hari-harinya.
Bagaimana dengan Nakamura? 29 tahun! Tentu bukan waktu yang sebentar!

Sampai suatu petang, seorang penduduk Morotai yang membawa anjing ke hutan, berhasil membuka tabir “anjing nya terus menyalak, karena mencium kehadiran seseorang. Si pemilik sempat melihat sekelebat manusia yang tengah buang air di sungai dan ia yakin itu bukan penduduk asli Morotai” ungkap Muhis Eso, seorang pemandu wisata asli Morotai.

Si penduduk lalu melapor pada petugas TNI-AU terdekat. Pengintaian pun dilakukan. Jalurnya, ya tepi sungai tadi. Manusia atau binatang, bila di dalam hutan, memiliki kebiasaan yang kurang lebih sama. Mandi di sungai bila malam menjelang. 
Tanpa perlawanan berarti Nakamura pun berhasil ditangkap, karena ia meninggalkan senapannya Arisaka Tipe 99, senjata standar AD Jepang, di tempat persembunyiannya.

Nakamura segera dibawa ke Jakarta untuk diperiksa kesehatannya, lalu, ia diterbangkan kembali ke Taiwan. Lho, kok, Taiwan? Bukannya ke Jepang? Dari penelusuran data diri Nakamura kemudian terungkap bahwa ia sebetulnya bukan asli Jepang. Kurang tenaga untuk perang, Jepang pun merekrut para pemuda dari daerah jajahan, termasuk dari Taiwan.
Nakamura nama aslinya: Attun Pallalin. berdarah suku Ami, asli Taiwan, bergabung sebagai tentara sukarela di usia 23 tahun dan ditempatkan di Morotai tahun 1943, bersama kurang lebih 500 prajurit lainnya.

Tanggal 15 September 1944 Morotai digempur habis-habisan oleh ratusan kapal perang Sekutu, pulau itu lalu digelontor kurang lebih 57.000 pasukan pendarat. Dalam satu bulan, Morotai dinyatakan aman sebab tentara Jepang yang menjaga pulau sudah tewas, hilang atau menyerah. Nah, Teruo Nakamura juga dinyatakan tewas, meski kenyataannya masih hidup!

Dengan kembalinya Nakamura lalu, terungkaplah fakta –yang bisa dikatakan memalukan bagi Jepang- dan itu terlihat oleh dunia Internasional. Begini, prajurit Jepang yang masih terus bertahan di hutan meski perang telah lewat sebetulnya bukan hanya Nakamura saja. Ada dua lainnya. Berpangkat lagi. 

Saat Sersan Shoichi Yokoi, menyerah di hutan pulau Guam tahun 1972 rakyat Jepang bersorak dan menyambutnya bak pahlawan nasional. Begitu juga ketika Letnan Hiroo Onoda, menyerah di Pulau Lubang, Filipina, 11 Maret 1974, pihak Jepang secara khusus mencarter pesawat jet untuk menjemputnya! Di tanah air, keduanya disambut gegap gempita dan mendapatkan kompensasi dan hak pensiun yang jumlahnya sangat besar!

Nah, tiba giliran Teruo Nakamura, pemerintah Jepang seperti ‘lemah lesu’. Bagaimanapun Nakamura “hanya” prajurit rekrutan dari daerah jajahan, perlakuannya beda. Maka, tak ada pesawat khusus yang terbang ke Jakarta.
Pihak pemerintah Taiwan pun angkat tangan dalam kasus ini, karena menjadi seorang prajurit Jepang adalah pilihan pribadi Nakamura di masa perang.

Lalu, terungkaplah fakta susulan: bahwa ternyata sejak tahun 1953, pemerintah Jepang telah menyetop pemberian pensiun bagi tentara Jepang yang direkrut dari daerah jajahan! Dengan UU ini maka Nakamura praktis tidak menerima uang pensiun sejak tahun 1953 –hingga saat ia ditangkap 18 Desember 1974! 
Ia hanya menerima “perhitungan” sejak 1945 sampai dengan 1953, yang jumlahnya hanya: 68.000 yen, atau setara $227, 59 atau senilai 1.200 dollar Amerika kurs tahun 2019!

Jumlah ini menimbulkan polemik sekaligus kegusaran di Taiwan. Maka, masyarakat dan pers ramai-ramai menggalang Dana Sumbangan Pensiun bagi Nakamura. Terkumpulah uang senilai 4.250.000 Yen, setara 14.224, 51 dollar Amerika di tahun 1974, atau senilai, 75.000 dollar Amerika di tahun 2019!
Nakamura meninggal tahun 1979, karena kanker paru-paru.
Kesetiaan Teruo Nakamura ternyata berakhir getir! Kasihan.
(Sumber: Facebook Gunawan Wibisono)

Wednesday, September 4, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: