Kesempatan Terakhir Prabowo

Oleh : Ali Winata

SBY tahu bahwa peluang Prabowo AHY untuk mengalahkan Jokowi sebenarnya tipis. Tapi SBY juga tahu bahwa perolehan suara Demokrat bisa terdongkrak jika AHY jadi cawapres. Menang Pilpres itu cuma bonus, target realistisnya adalah melegitimasi AHY sebagai calon pemimpin masa depan, untuk berjuang lagi di th 2024. Sekaligus mengumpulkan suara yang signifikan bagi Demokrat. Ibarat kompetisi di Liga Inggris, target SBY itu bukan juara tapi sekedar masuk 3 Besar.

PKS tahu bahwa nama Salim Segaf Al Jufri itu rendah elektabilitasnya. Bahkan saya sendiri sebagai netizen aktif dengan budget belanja kuota minimal 400 rb/bln, baru tahu jika orang ini pernah jadi Mensos di kabinet SBY. Tapi sikap ngotot PKS ini lebih dilandasi keinginan agar PKS bisa survive tembus 4% di Pileg 2019 nanti. Keberadaan Salim Segaf (jika) jadi cawapresnya Prabowo membuat PKS lebih berpotensi mendulang suara dan tembus electoral tresshold 4%. Terus terang PKS sangat kuatir aksi #guremkanPKS itu menjadi kenyataan. Berharap Prabowo Salim Segaf menang? Itu cuma bonus. Ibarat berkompetisi di Liga Inggris, target PKS itu cuma lolos degradasi, bukan juara

PAN sebenarnya lebih tahu diri. Sadar bahwa nilai jual Zulkifli Hasan sangat rendah, PAN cenderung menyodor nyodorkan si ganteng Somad Batubara sebagai cawapresnya Prabowo. Bukan apa apa, ini adalah solusi jalan tengah. Yang penting cawapresnya bukan dari PKS atau Demokrat, yang membuat mereka menikmati keuntungan electoral. Lebih baik cawapres non parpol, tapi punya popularitas dan elektabilitas yang lumayan. Si ganteng Somad punya massa sangat besar dari kalangan umat Islam (versi Monas 212). Ibarat berkompetisi di Liga Inggris, PAN ini sebenarnya tak jelas. Mentargetkan juara tak berani karena sadar tak punya pemain berkualitas. Cuma ingin tetap bisa ikut berkompetisi saja.

Kasihan Prabowo, yang targetnya jadi pemenang di Pilpres 2019. Karena dia takut dijuluki keledai yang gagal Pilpres 3x berturut turut. Semua kandidat cawapresnya dia sebenarnya hanya menjalankan misi 2in1. Bisa menang syukur, kagak menang juga tak masalah yang penting melampaui ET 4% dan parpolnya tetap bisa eksis di Senayan. Karena mereka menatap 2024, bukan sekedar periode 2019 - 2024.

Sementara Prabowo sendiri sadar bahwa 2019 ini kesempatan terakhirnya. Tahun 2024 dia sudah bubar (gak perlu menunggu 2030). Mungkin Prabowo berpikir begini; menang kalah urusan nanti, yang penting Gerindra dapat suara besar untuk bisa bertahan sebagai parpol papan atas.

 

Sumber : facebook Ali Winata

Thursday, August 9, 2018 - 10:45
Kategori Rubrik: