Kesamaan Iran Indonesia

ilustrasi

Oleh : Zainuddin

Opsi menyerang Iran memakai kekuatan militer sudah diminta Israel kepada Amerika Serikat sudah lama. Diantaranya sejak zaman pemerintahan George Bush Jr. Tapi selalu ditolak oleh Amerika Serikat. Israel, sebagai hegemon kawasan khawatir terhadap perkembangan Nuklir Iran.

Amerika Serikat memberikan solusi diantaranya dengan sanksi ekonomi dan operasi klandestein untuk menghambat program nuklir Iran. Diantara operasi klandestein yang terkuak ke publik adalah pembunuhan ilmuwan nuklir Iran dan operasi Siber dengan membuat malware (Virus) komputer bernama stuxnet yang sempat membuat geger dunia. MALWARE INI tidak hanya menyerang instalasi nuklir Iran, tapi menyebar juga ke seluruh dunia. Untuk mengetahui lebih jauh soal stuxnet dapat menonton film dokumenter berjudul Zero Days.

Bagi Amerika Serikat, perang secara terbuka melalui kekuatan militer, mudah mengalahkan Iran. Tapi, dalam perang yang dihitung tidak hanya kalkulasi kekuatan militer saja. Juga dampak politik dan ekonominya. Dampak politik utamanya politik dalam negeri Amerika Serikat. Ekonomi yang dihitung adalah ekonomi dalam negeri Amerika Serikat bukan ekonomi negara lain. Intinya, menyerang Iran secara militer, tidak menguntungkan kepentingan nasional Amerika Serikat, setidaknya sampai hari ini seperti itu kondisinya. Entah di masa yang akan datang, lha wong kadang ada saja pemimpin politik yang nekat.

Lho, Iran khan negara kecil, masak akan menciptakan goncangan ekonomi kalau diserang dengan kekuatan militer. Betul secara kekuatan ekonomi, Iran tidak besar. Tapi secara geografis, Iran mengontrol jalur perdagangan besar dunia, yakni Selat Hormuz. Seperlima Perdagangan minyak dunia melalui selat ini.

Okelah, secara militer Iran tidak akan mampu menciptakan kerusakan besar pada pangkalan Amerika Serikat apalagi menyerang main land langsung, tapi dengan kekuatan sekarang jika Iran nekat juga, mampu mengacaukan selat ini. Karena selat ini cukup sempit, dengan persenjataan gak canggih-canggih amat, dapat mengancam kapal - kapal tanker yang berlalu-lalang di situ.

Hal ini yang dihitung oleh para penguasa global, coba bisa dibayangkan kalau pasokan Seperlima minyak dunia terhenti. Tekanan politik dan ekonomi Amerika Serikat akan kuat. Selat Hormuz adalah salah satu kartu yang dimainkan Iran dalam pertarungan Geopolitik dalam melawan musuh-musuhnya. Apakah selalu efektif di masa mendatang? Semua bisa berubah, bisa jadi efektif dimasa sekarang, belum tentu efektif dimasa yang akan datang.

Lantas apa persamaan dengan Indonesia. Kalau Iran memiliki selat Hormuz, Indonésia juga memiliki selat Malaka. Selat Malaka ini lebih dahsyat pengaruhnya. Karena dalam jalur perdagangan dunia, tidak hanya tanker minyak yang lewat, tapi juga distribusi semua perdagangan dunia. Menghubungkan Samudra Hindia dan Samudera Pasifik, seperempat perdagangan dunia melalui jalur ini. Bisa dibayangkan kalau jalur ini mengalami kekacauan semisal Indonesia membuat gara-gara di selat Ini. Lebih hebat lagi, kalau selat Malaka Kacau, alternatif terdekat jalur lain adalah selat sunda, padahal selat sunda malah mutlak masuk teritori Indonesia.

Jadi, dari sisi geografis, Indonesia itu sebenarnya memiliki kartu kunci untuk meningkatkan daya tawar. Tentu daya tawar untuk dapat bernegosiasi dengan para penguasa dunia. Cuma kalau hanya sibuk bertengkar sendiri dan hanya mencari keuntungan jangka pendek. Kartu hebat apapun tak dapat dimainkan. Penguasa dunia tidak bodoh, tapi kita bisa juga cerdik bukan?

Sumber : Status Facebook Zainuddin

Saturday, January 11, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: