Kesadisan Teroris Perempuan

Oleh : Wawan Kuswandi

Tragedi ledakan bom di tiga gereja Surabaya yang merenggut puluhan korban jiwa, baik dewasa maupun anak-anak masih menyisakan kesedihan panjang bagi bangsa ini. Rakyat Indonesia, khususnya publik kota Surabaya begitu syok berat, ketika tahu bahwa pelaku bom bunuh diri itu adalah seorang wanita dan dua orang putrinya.

Sambil menggandeng dua putrinya, Puji Kuswati yang bercadar dan berpakaian hitam menuju lokasi parkir Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Dipenogoro, Surabaya, Minggu 13 Mei 2018, pukul 08.00 WIB. Di pinggang Puji, terselip bom yang  siap diledakkan. Kedatangan Puji ditolak satpam GKI bernama Yesaya.

Puji ngotot memaksa masuk sambil memeluk Yesaya, bom pun meledak dahsyat. Berselang lima menit, bom lainnya juga meledak dalam dua tas yang dibawa Puji dan dua putrinya yaitu Fadilah Sari (12 tahun) dan Pemela Riskika (9 tahun).

Semua pelaku tewas di tempat. Puji bersama kedua anaknya tercatat sebagai  ‘pengantin’ perempuan pertama dalam sejarah tindak pidana terorisme Indonesia. Menurut polisi, Puji merupakan salah satu anggota Jamaah Asharut Daulah (JAD) pimpinan Aman Abdurrahman yang mendekam di penjara Mako Brimob, Depok.

Dokumen Pribadi Merupakan Pengawal Hak Kita Sebagai Warga Negara

Aksi bom bunuh diri yang dilakukan perempuan, tergolong sebagai fenomena baru di Indonesia yang sangat mengejutkan. Dalam tataran budaya nasional, selama ini perempuan Indonesia hanya memainkan peran sebagai sosok seorang ibu rumah tangga yang berfungsi membimbing dan merawat anak-anak sekaligus melayani kebutuhan hidup suami.

Status sosial perempuan Indonesia mengalami pergeseran sangat keras sejak munculnya gerakan feminisme di dunia. Namun, pergeseran status sosial perempuan ini, hanya terfokus dalam ranah karir publik sebagai upaya untuk memecah stereotype gender.

Berbeda dengan pergeseran status sosial perempuan dalam kelompok-kelompok radikal yang menganut aliran agama tertentu. Dalam tataran ideologi mereka, perempuan mempunyai hak dan kewajiban untuk berperang dan berjihad sebagaimana layaknya dilakukan seorang lelaki.

Lemahnya daya nalar (rasionalitas) serta minimnya pemahaman spiritualitas perempuan dalam kelompok-kelompok radikal ini, membuat kaum perempuan mudah terpapar oleh ajaran agama dan ideologi yang menyesatkan. Namun, mereka dijanjikan  masuk surga, bila tewas dalam berjihad atau berperang.

Chaula Rininta Anindya, analis dari Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang University Singapura, mengatakan, bomber perempuan mengafirmasi fakta bahwa jagat terorisme tak lagi hanya didominasi kaum laki-laki.

“Kenapa perempuan? Karena secara strategis dan taktikal jelas perempuan punya peran yang efektif. Secara strategis, efek terornya besar karena (publik) tidak terbiasa dengan perempuan sebagai penyerang. Biasanya akan muncul overreaction yang justru itu menjadi tujuan utama dari tindakan terornya,” ujar Chaula saat berbincang dengan salah satu media di Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018 lalu.

Apa yang dikatakan Chaula mungkin ada benarnya. Saat ini, peran dan fungsi perempuan dalam kelompok-kelompok radikal telah dinaikkan derajatnya untuk mengemban tugas-tugas jihad yang biasanya dilakukan laki-laki. Para perempuan ini wajib berjihad dalam negara yang damai (negara dalam keadaan tidak perang). Tindakan jihad perempuan, seperti kasus bom bunuh diri di gereja Surabaya, justru lebih sadis ketimbang para jihadis pria.

Untuk masa-masa mendatang, para teroris ini akan terus memakai perempuan sebagai eksekutor di lapangan, karena umumnya perilaku perempuan tidak terlalu mudah dicurigai oleh aparat keamanan.

Dalam pengecekan bom oleh aparat keamanan, umumnyan bom yang dibawa teroris perempuan sering luput dari deteksi, karena alasan etika dan kesopanan saat melakukan pemeriksaan fisik perempuan.

Saat ini,  perempuan yang siap menjadi ‘pengantin’ untuk melakukan bom bunuh diri, diduga jumlahnya semakin banyak (mantan janda para teroris ISIS). Perempuan mempunyai potensi penting bagi para pelaku teror untuk dimanfaatkan sebagai eksekutor bom bunuh diri.

Sumber : geotimes

Tuesday, May 22, 2018 - 12:00
Kategori Rubrik: