Kesadaran itu Tanpa Pamrih

ilustrasi

Oleh : Eddy Pranajaya

Mauro Prosperi adalah seorang atlet Penthathlete asal Italy ; pada tahun 1994 dia mengikuti lomba marathon Des Sables di Maroko dengan route menyeberangi gurun Sahara.

Pada pertengahan lomba terjadilah badai pasir di lokasi tempat perlombaan yang mengakibatkan dirinya terpisah dari rombongan peserta marathon sehingga menyebabkan dia tersesat keluar jalur lomba.

Dalam kebingungannya, dia malah mengambil arah yang salah sehingga malah menjauhkan dirinya dari rekan-rekannya dan menuju kearah perbatasan Aljazair. Akhirnya dia menemukan sebuah bangunan tua bekas tempat ibadah yang didalamnya ada sebuah mayat yang telah kering.

Dia kehabisan air dan makanan, sehingga untuk mempertahankan hidupnya, terpaksa dia meminum air kencingnya sendiri dan memakan daging kelelawar mentah yang kebetulan terdapat didalam bangunan tua tersebut.

Karena putus asa dan mengalami penderitaan yang luarbiasa, Mauro mencoba bunuh diri dengan cara memotong urat nadinya, tapi usahanya gagal karena darah tidak bisa keluar akibat dehidrasi, sehingga darahnya jadi amat kental, tidak bisa mengalir keluar dari luka sayatan itu. Namun akhirnya dia berhasil diketemukan dan diselamatkan oleh team SAR.

Manusia yang mengalami keletihan amat sangat, putus asa, dan hampir mati, seringkali mengalami halusinasi berlebihan.

Demikian pula dengan Mauro Prosperi, akibat kehausan dan dehidrasi yang luarbiasa, seolah-olah dia melihat sumber air ditengah padang pasir, namun ketika dia datangi ternyata tidak ada sumber air disitu. Demikian pula ketika dia amat lapar, seolah-olah dia melihat pohon buah dengan buah-buah masak bergantungan disitu, tapi ketika dia datangi, ternyata pohon itu tidak ada. Hanya hamparan pasir tanpa batas dihadapannya.

Orang yang terlalu keras mengejar sesuatu dengan pamrih untuk mendapatkan sesuatu tak nyata yang diidamkannya ( surga, rejeki, kebahagiaan, kedamaian, dll ) melalui agama, tapi tidak dibarengi dengan pemahaman yang benar, akan mengalami pula halusinasi berlebihan. Kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh para penceramah dan tokoh-tokoh agama abal abal untuk menggiring mereka kedalam jurang kegelapan bathin yang lebih parah.

Orang yang mengharapkan sesuatu secara berlebihan jadi gampang dibodohi melalui cerita-cerita yang sama sekali tidak masuk nalar.
Sehingga perilaku keagamaan mereka berlandaskan Pamrih, bukan Kesadaran, untuk mendapatkan sesuatu sesuai yang dijanjikan melalui omongan para penceramah agama abal-abal itu. Mereka berbuat begini karena ingin mendapatkan "ini" ; mereka berbuat begitu karena ingin memperoleh "itu". Seandainya tidak ada "ini" atau "itu" belum tentu mereka mau melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadi syarat untuk mendapatkan "ini" atau "itu".

Makanya banyak terjadi orang tertipu oleh ajaran halusinasi a.l. : penggandaan uang, ketakutan akan hari kiamat, melakukan ritual-ritual aneh, tentang para bidadari di surga, dan banyak lagi modus halusinasi lainnya.

Untuk mendapatkan surga dan sebagian demi bertemu 72 bidadari mereka rela berpuasa makan dan minum, melancong keluar negeri untuk menyembah Tuhannya, memakai busana model tertentu, memberi sedekah sambil pamer kebaikan, membayar sepersepuluhan, membunuh binatang untuk dipakai persembahan, bahkan membunuh sesama manusia yang tidak bersalah pun bisa dilakukan, dll.

Semua perbuatan itu mereka lakukan untuk tujuan mewujudkan halusinasi keinginan mereka ; tapi benarkah halusinasi itu dapat menjadi nyata ?? Tentu saja tidak !!

Pernahkah ada orang yang berhasil menggandakan uangnya, pernahkah hari kiamat datang memusnahkan seisi dunia, pernahkah ada orang yang datang ke surga lalu balik lagi ke bumi lalu bercerita tentang keadaan disurga, pernahkah ada manusia yang mampu bersenang-senang dengan para bidadari ???

Halusinasi yang ditawarkan oleh sebagian besar para penyebar agama palsu itu tanpa disadari telah merubah mindset pengikut agama tentang tujuan agama yang sesungguhnya. Sehingga akibatnya orang memeluk agama bukan lagi bertujuan untuk memperbaiki dirinya melalui ajaran-ajaran kasih, tapi semata-mata untuk memuaskan ego, yakni keinginan duniawi dan hadiah surga.

Setelah halusinasi tertanam kuat didalam otak para pengikutnya, para "wakil Tuhan abal-abal" itu pun segera memanen hasilnya. Aliran uang akan semakin berlimpah ruah mengalir kedalam kantong-kantong uang para wakil Tuhan abal-abal itu dari setoran rutin para pengikutnya yang sudah hidup dalam kendali halusinasi ; sedangkan para pengikutnya akan semakin menjauh dari inti ajaran agamanya, yakni Cinta Kasih, berbalik mengejar halusinasi berupa rejeki, kemuliaan, dan surga. Pengikutnya sampai saling bunuh demi mendapatkan surga, rela mati demi hidup di surga ; para pemimpin agamanya berpesta pora layaknya raja mulia.

Disinilah letak perbedaan antara Kesadaran dan Halusinasi. Kesadaran tidak ada keterhubungannya dengan pamrih ; Kesadaran dilakukan oleh seseorang tanpa mengharapkan imbalan apapun, tulus, dan murni, bukan demi surga, tanpa embel-embel apapun. Sedangkan orang yang mengejar halusinasi diakibatkan karena adanya keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang menguntungkan dirinya (pamrih), apabila sesuatu itu tidak menguntungkan dirinya pasti tidak akan dilakukannya.

Perbuatan yang dilakukan karena pamrih itu pasti tidak murni. Sebaliknya perbuatan yang dilakukan atas kesadaran itu pasti murni, karena tidak mengharapkan adanya imbalan. Mau dapat surga ya disyukuri, mau diberi neraka pun tidak peduli.

Yang penting melakukan kebajikan dengan kesadaran bahwa apa yang kita perbuat itu memang sudah menjadi kewajiban setiap manusia untuk melakukannya. Itulah yang disebut KESADARAN.

Sumber : Status facebook Eddy Pranajaya

Tuesday, July 7, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: