Kerugian Rakyat Akibat Demo 21-22 Mei Di Bawaslu

ilustrasi
Oleh : Alfa Lubis
 
Sudah banyak yang ngeluh penghasilan terganggu. Mulai juragan pakaian jadi hingga driver ojol.
 
Tapi tidak, ada kaum yang memang sudah sebegitu dibutakan syahwat politik dan dahaga kekuasaan, hingga takkan lagi peduli bahwa perbuatannya mengganggu dan menyengsarakan banyak orang.
 
Saya pernah tulis, tahun 2016 atau tahun 2017 lalu, bahwa memang ada kaum yang tak peduli jika semesta seisinya ini ambyar, demi tujuan mereka; apa yang mereka gadang-gadang sebagai ”agama”, atau yang seperti kita saksikan; demi kekuasaan.
 
Itu sebabnya, di banyak aliran Islam -- termasuk dalam kelompok Salafiy yang sering kali secara tidak tepat diidentikkan dengan Wahabiy -- demo itu dilarang, dilarang keras, malah. Sebab memang jauh lebih banyak mudaratnya, terutama bagi orang banyak. Sekadar bikin macet itu saja sudah perbuatan tercela, sebab niscaya di antara mereka yang hajatnya terganggu, ada yang tengah berjihad menafkahi keluarga, alih-alih jihad semu membela elit politik belaka.
Cara menasihati dan mengingatkan penguasa, andai ia lalim sekalipun, juga sudah diatur: sampaikan baik-baik, sesantun-santunnya, secara langsung dalam keadaan sesepi mungkin, agar ia tidak merasa dipermalukan. Sedang Musa saja mendatangi langsung Fir'aun untuk mengingatkan sang penguasa dengan lemah lembut.
 
Sedang Rasul saja tak pernah menyerukan demo untuk tujuan, apalagi tujuan duniawi. 
 
Tapi, terlalu retoris agaknya kalau bertanya, para demonstran serta para pendukungnya sekalian itu, sebenarnya meneladani siapa.
 
Sumber : Status Facebook Alfa Lubis
Friday, May 24, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: