Kerja Keras dan Kerja Cerdas

Oleh: Prof Mudhofir Abdullah (Rektor IAIN Surakarta)

 
 
 
Izinkan saya memberi catatan tambahan atas tulisan Stephen Carr Leon seperti yang diposting Prof Fauzul Iman. Tulisan itu memperkaya wawasan tentang mengapa Yahudi dikenal sangat cerdas. Meski jumlah populasi mereka kurang dari satu persen penduduk dunia namun lebih dari 20 persennya penerima hadiah Nobel. Mereka juga dikenal dalam temuan-temuan sains, perbankan, dan perdagangan. 
 
Tapi apakah hanya semata-mata karena pola makan dan pola asuh yang sangat berbeda? Saya membaca beberapa karya tentang sejarah Yahudi, misalnya, yang ditulis Max I. Dimond, Arnold Toynbee, dll. Mereka menambahkan sejumlah data mengapa bangsa Yahudi lebih maju dan lebih cerdas. Yang dapat saya simpulkan dari bacaan itu adalah:
 
 
 
1). Teori challanges and response. Dalam sejarahnya, Yahudi adalah bangsa yang sejak era Nabi Daud mengalami pengusiran demi pengusiran oleh para penguasa. Mereka mengusir Yahudi karena wataknya yang eksklusif--seperti prinsip kemurnian keturunan dan merasa sebagai selected people (bangsa pilihan) sehingga tidak mau kompromi dengan para penguasa. Karena terus-menerus diusir, bangsa Yahudi selalu belajar merespons tantangan di setiap daerah baru yang ditempati. Makin banyak tantangan makin banyak respons yang diberikan. Yahudi, karena itu, adalah bangsa yang sangat dinamis merespons tantangan-tantangan dan ini membuat mereka sangat kreatif serta produktif. Kreativitas mereka lalu menurunkan DNA-DNA kepada anak cucunya hingga hari ini.
 
2) Bangsa Yahudi maju dan cerdas karena di setiap wilayah yang baru selalu dibatasi hak-haknya dalam lapangan pekerjaan tertentu seperti di bidang pertanian, pegawai Pemerintah, militer, dan sejenisnya. Pekerjaan yang tersedia bagi mereka adalah perdagangan. Nah, pembatasan ini membuat bangsa Yahudi kreatif dalam temuan-temuan perdagangan, teknologi, sains, dan seni. Dan kelak bidang-bidang inilah yang menempatkan bangsa Yahudi punya akses pada sumber-sumber ekonomi-politik.
 
3). Bangsa Yahudi sangat percaya sebagai manusia pilihan Tuhan sehingga hal ini membuat mereka punya motivasi tinggi untuk terus menjadi bangsa unggul.  Keyakinan ini pula yang kelak menyatukan Yahudi di seluruh dunia untuk bersatu kembali ke Jerusalem sebagai Tanah Perjanjian. Tahun 1948, negara Yahudi didirikan atas sokongan Inggris, Amerika, dan Eropa. Inilah yang kemudian memunculkan masalah Timur Tengah dengan segenap konfliknya. Menurut Max I. Dimont, bangsa Yahudi sangat yakin bahwa mereka ditakdirkan untuk menjadi ras unggul sebagaimana didesain oleh Tuhan.
 
Menganalisis Yahudi dari sudut sejarah dan politik seperti di atas, menurut saya, seharusnya menjadi pelajaran buat kita bahwa kemajuan hanya dapat dicapai melalui kerja keras dan kerja strategis. Kecerdasan dan kemajuan bangsa Yahudi bukanlah sebuah kebetulan teologis, tapi sebuah proses historis dan politis yang direbut dari perjuangan panjang bangsa ini. Kita tak boleh iri dan mengutuk mereka. Yang kita kutuk adalah gerakan politik Yahudi yang disebut zionisme yang sangat biadab memusuhi bangsa Palestina. 
 
Pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa tantangan bukan untuk dihindari tapi direspons dengan cara-cara yang kreatif. Demikian pula pembatasan. Ia tidak harus mematikan kreativitas dan produktivitas kita dalam menjalani kehidupan. Selanjutnya, keyakinan yang kita miliki harus menjadi topangan nilai untuk berkarya dan merespons tantangan serta peluang. Bangsa Yahudi, nampaknya, sangat merawat tiga hal di atas. 
 
Persoalannya, mampukah kita mengimplementasikan pelajaran sejarah bangsa Yahudi di atas? Saat ini, sebagian dari kita lebih memilih meyakini bahwa agama kita (Islam) akan menang di akhirat dan biarlah bangsa Yahudi menang di dunia ini. Berfikir mundur semacam ini tidak banyak membantu. Ada pepatah kuno dari Tiongkok yang mengatakan bahwa 'ketimbang terus-menerus mengutuk kegelapan, lebih baik kita nyalakan lilin'. 
 
(Mudhofir Abdullah, Catatan Perjalanan Hidup 2, Surakarta 30 Desember 2017).
Tuesday, January 2, 2018 - 08:45
Kategori Rubrik: