Kerikil Dalam Sepatu Negara Bernama Anies

Anies ini bagi saya merupakan sosok politisi yang sangat pragmatis dan oportunis. Ia mudah berubah-ubah seperti bunglon dan lidah ucapannya suka mlenceng kesana kemari bagai kadal. Saya pernah berdebat soal ini dengan teman facebook saya yang kritis, yakni Usi Karundeng sebelum PILKADA DKI Jakarta beberapa tahun lalu. Saya katakan pada Usi beberapa tahun lalu hingga sempat viral di medsos, bahwa Anies itu politisi oportunis. Ketika SBY menjabat sebagai Presiden, Anies kerap menyerang SBY dan Partai Demokratnya, namun ketika Partai Demokrat berencana melakukan Konvensi Capres, Anies ikut mendaftar sebagai salah satu kandidat Capres dari Partai Demokrat. Lalu setelah Konvensi Capres itu bubar di tengah jalan karena ternyata media dan masyarakat lebih tertarik pada pertarungan figur Jokowi dan Prabowo, Anies tiba-tiba melompat jadi pendukung Jokowi menjelang Pilpres 2014. Dan ketika Jokowi menang dan Anies jadi menteri, Anies tidak berprestasi lalu dibuang dari posisinya sebagai menteri, lalu bergabunglah Anies dengan Prabowo di Pilpres 2019.

Oleh: Saiful Huda Ems.

Meski demikian bagi saya itu barulah satu hal dari watak politiknya Anies yang menyimpang, masih ada lagi watak Anies yang menyimpang dan sangat berbahaya, yakni inkonsistensi dan model pemikiran Anies yang sangat rasis. Bukankah kita semua telah tau, siapa inisiator utama benturan antar ras dan antar pemeluk agama di Indonesia kalau bukan Anies yang dimulai dari kampanye-kampanye provokatifnya di PILKADA DKI beberapa tahun lalu? Bagi yang mengikuti kiprah politik dan pemikiran Anies hanya sejak menjelang PILKADA mungkin hal itu tidak terlalu heran, tetapi saya yang sudah lama mengamati kiprah politik dan pemikiran Anies jauh sebelum PILPRES 2014 dan 2019 sungguh sangat terheran-heran.

Dahulu Anies itu selalu tampil moderat, kata-katanya sejuk mirip salju di pegunungan Alpen Swiss, hingga kalau orang yang hanya melihatnya sekejap Anies sepintas mirip cendekiawan ulung Indonesia alm. Cak Nurcholish Madjid, dimana Anies pernah jadi rektor di Universitas Paramadina yang didirikan alm. Cak Nurcholish Madjid. Tapi entah mengapa sejak dari dulu saya sudah punya firasat, bahwa tabiat Anies itu hanya topeng belaka. Sejarah kemudian membuktikan Anies ternyata rasis dan pernah dengan bangga menyatakan bahwa dialah yang berhasil "menghabisi" pengaruh pemikiran Cak Nur di Paramadina, yang sangat masyhur dengan ide-ide pemikiran plurasisasi agamanya dan segudang ide-ide pemikiran Islam Moderatnya. Gila ! Firasat saya jadi terbukti, Anies selama ini bertopeng !.

Apa yang saya kemukakan di atas itu baru soal bahanya pragmatisme dan oportunismenya Anies, belum lagi menyangkut soal kasus-kasus hukum yang menjeratnya seperti: kasus yang pernah dilaporkan ke KPK soal gratifikasi yang diterimah Anies dalam penerbitan IMB pulau reklamasi, kasus penyimpangan Pameran Buku Frankfurt (Frankfurt Book Fair) 2015 yang diduga menyelewengkan dana sebesar Rp. 23 miliar, kasus over budgeting guru sebesar Rp. 23 Triliun, kasus Swastanisasi Air Minum Prov. DKI Jakarta dengan kerugian negara sekitar Rp. 1,2 Triliun dll.nya. Bahkan untuk kasus tersebut sampai KPK telah menyuratinya sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh jubir KPK Febri Diansyah. Kalau kasus-kasus Anies ini benar-benar didalami dan ditindaklanjuti secara serius oleh KPK, saya pastikan Anies akan kena ! Tunggu saja aksi KPK dalam kepemimpinan Firli Bahuri di masa depan !.

Inkonsistensi pemikiran, pragmatisme dan oportunisme politik Anies yang diperberat dengan persoalan kasus-kasus korupsi yang telah membelitnya, tidak bisa lagi dibantah bahwa Anies bukanlah figur politisi bermasalah. Ini bermasalah, sangat bermasalah, dan menjadi super bermasalah ketika Anies diduga banyak memprovokasi orang dan menggunakan dana-dana APBD DKI untuk menyuburkan dan mengembang biakkan ORMAS-ORMAS yang melawan ideologi negara, siapa yang bisa bantah? Maka jangan heran jika kemudian saya katakan, bahwa Anies tak ubahnya Krikil Dalam Sepatu Negara ! Ia kecil namun sangat mengganggu perjalanan bangsa ini dalam merajut kebhinekaannya ! Ia kecil namun sangat mengganggu perjalanan bangsa ini dalam usaha mewujudkan Indonesia yang adil, sejahtera, makmur, damai sentosa ! Ini negeri Garuda bukan negeri Kadal Gurun, kami tak suka Indonesia terus dibuat gaduh dan dipecah belah !...(SHE).

Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan Penulis.

Sunday, November 3, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: