Keresahan Jenderal Tua yang Penuh Prasangka

Oleh : Rudi S Kamri

SAYA tidak tahu bagaimana orang tua yang usianya sudah isya' menjelang subuh seperti Kivlan Zein ini memaknai ibadah puasa. Bulan Ramadhan yang seharusnya dijalani dengan pengendalian diri dan kerendahan hati ternyata jauh dari seorang Kivlan Zein. 

Kesucian bulan suci Ramadhan seolah tidak mampir di hati sohib kental Prabowo Subianto lulusan Akmil 1971. Dia tetap saja seperti Kivlan Zein yang selama ini kita kenal. Sosok yang penuh prasangka dan praduga. Kita masih ingat pikiran paranoid dia yang dicoba ditularkan kepada publik tentang hantu PKI. Terbukti semua hanya ketakutan tanpa akurasi data. Tapi saya yakin, semua itu bukan karena kebodohan seorang Kivlan Zein, tapi lebih pada penerapan strategi Firehose of Falsehood yaitu kesengajaan penyemburan berita bohong untuk mengacaukan akal sehat masyarakat. 

 

Sekarang Kivlan Zein berulah lagi. Melakukan penyemburan kebohongan seolah-olah Pemilu 2019 curang. Dimana kecurangannya ? Sudah pasti dia tidak bisa menjawab.

"Pokoknya curang dan Jokowi harus didiskualifikasikan", katanya berulang-ulang.

Mengapa Jokowi harus didiskualifikasikan ? Sudah pasti tidak akan ada jawaban. Dia akan tetap memobilisasi kaum pekok untuk adu banteng dengan aparat keamanan. Tujuannya hanya satu, aparat terpancing dan timbulnya kerusuhan. Dan inilah yang mereka inginkan. Mereka tidak peduli aksi mereka akan mengorbankan anak-anak negeri. Yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana enaknya singgasana istana negara. Tapi saya sangat yakin pimpinan POLRI dan TNI tidak sebodoh seperti yang diperkirakan Kivlan Zein.

Untuk kepentingan siapa Kivlan Zein dkk ngotot mendesak KPU dan Bawaslu untuk mendiskualifikasi Jokowi-MA ? Nenek-nenek minum ciu aja sudah pasti tahu, untuk majikan siapa mereka bekerja. Mereka mau membuat sejuta alasan ngeles kesana-kemari, tapi tidak akan mampu membohongi akal sehat rakyat. Karena gerakan mereka terlalu terang benderang dan dipersiapkan serampangan. 

Analisa saya mereka bergerak bukan untuk orientasi hasil. Karena mereka juga tahu pasti bahwa tuntutan mereka tidak akan mungkin dikabulkan oleh KPU atau Bawaslu. Tujuan mereka hanya akan memancing keributan atau chaos. Indoktrinasi pemahaman palsu sedang dicoba disuntikkan ke nadi masyarakat yang sedang berhalusinasi dan bermimpi.

Strategi "Buatlah masyarakat ketakutan, lalu datanglah sebagai pahlawan" itu jargon kunci mereka. Tapi mereka lupa, strategi ini sudah kuno, usang dan hanya berlaku untuk kondisi mayoritas rakyat yang kelaparan. Realitanya secara faktual rakyat Indonesia saat ini jauh dari kondisi itu. Jadi sudah pasti akal-akalan Kivlan tidak akan mempan.

- Mengapa Kivlan Zein mau mengorbankan ibadah puasanya di bulan Ramadhan dengan mengumbar amarah ?  
- Mengapa Kivlan Zein tidak memberikan keteladanan berpolitik yang menghargai hak rakyat dalam berdemokrasi ? 
- Mengapa Kivlan Zein begitu membenci Jokowi ?

Apakah hal itu ada hubungannya dengan dia keturunan dari orang MINANGKABAU yang merantau ke LANGSA ACEH ? 
Jawabannya : Saya tidak tahu.

Saya hanya berharap kali ini POLRI punya nyali dan taji untuk menggulung Kivlan Zein kalau dia berencana berbuat onar. Bukankah dia dulu di akhir tahun 2016 sudah ditetapkan sebagai tersangka makar ? Bagaimana seorang tersangka makar dibiarkan turun ke jalan berkoar-koar ? 

Jujur saya bingung dengan drama hukum di negeri ini. Tegaslah Pak Polisi, rakyat sudah muak dengan drama pelawak jalanan ini !!!

Salam SATU Indonesia

 

 
Thursday, May 9, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: