Kerempeng Tidak Selalu Penakut

Ilustrasi

Oleh : Han Dyani

...Keberanian/nyali ga selalu berbanding lurus dengan badan yang besar...tegap dan gagah...
Aku punya temen cowo yang tinggi besar dan tegap...Mirip potongan tubuh anggota militer gitulah...Kalo aku berdiri sebelahan ma dia tinggiku cuma sepundak dia...Badanku yang kecil langsing kalo berdiri dibelakang dia ga bakal kliatan dah...

Kisah serem ini bisa jadi contoh nyata bahwa yang berbadan besar dan gagah lom tentu pemberani...

Waktu aku maen ke rumah dia dan kita lagi ngobrol ngalor ngidul...Tiba-tiba ada sesosok makhluk coklat kecil terbang dan hinggap di kepalaku trus ntuh si makhluk berjalan santai ke pundak trus nangkring ditanganku...
Saat temenku liat makhluk mungil bernama kecoa ditanganku dia tereak-tereak histeris kaya lagi liat hantu valak sambil nutup mukanya dengan telapak tangan...Lah aku yang ketongkrongan si kecoa aja lempeng dan dengan santai aku berdiri trus aku kibasin pelan-pelan ( aku ga mau nyakitin dan melukai perasaan si kecoa...halahh... Dan aku hus-husin si kecoa ampe dia menghilang dibalik lemari pajangan...
Dan temenku dengan suara gemeter nanya " Mbaaa kecoanya masih ada gaa...?? "
Suerr aku ampe ngakak liat ekspresi wajahnya yang horor banget...Trus aku bilang " Lah kamu...Badan segede gaban tapi takut ma kecoa yang segede ucrit..."

 

Nah kebukti kan kalo badan gede ga mewakili nyali...
Seperti tulisan keren bang Jim ini...
Tulisan ini pas banget tuh buat orang2 pemuja penampilan luar...Dan buat yang suka mengidentikan kalo badan besar...tegap...gagah...Apalagi kalo militer pasti bernyali...
Ow belum tentu...

NYALI TIDAK IDENTIK dengan pangkat ataupun postur seseorang. Situ boleh saja jenderal dengan badan yang tinggi besar, tapi nyalimu belum tentu sebesar Jokowi yang cungkring.

Ingat insiden Natuna dan klaim Cina atas laut Natuna sebagai wilayah pelayaran tradisional mereka? Jokowi langsung menjawabnya dengan berdiri di atas kapal perang Imam Bonjol dan berpatroli di perairan yang kaya dengan ikan tersebut.

Apakah gertak serupa pernah ditunjukkan Jenderal SBY maupun Jenderal Soeharto saat mereka berkuasa? Ketika hasil laut Indonesia dijarah oleh nelayan Cina dan negara jiran lainnya? Tidak. Selama sepuluh tahun berkuasa, saya belum pernah mendengar kedua Jenderal tersebut meributkan hasil laut kita yang nyaris habis ditangkapi secara ilegal oleh nelayan asing.

Selain Cina, Amerika pun pernah keok berhadapan dengan nyali Jokowi. Dalam sebuah perundingan yang pelik dan panjang, Freeport perusahaan tambang Amerika, mengancam mengadukan Indonesia ke pengadilan internasional. Jokowi tak begeming. Dia tak memberi pilihan selain Freeport setuju melepas sahamnya sebesar 51% kepada pemerintah.

Pernahkah nyali serupa sebelumnya ditunjukkan oleh dua Presiden yang juga mantan Jenderal? Lagi-lagi tidak. Selama 32 tahun dan dua periode pemerintahan dua mantan Jenderal, Indonesia hanya kebagian 9% saham. Sementara freeport menguasai 91% hasil tambang emas terbesar di dunia yang mereka gali dari bumi Indonesia.

Ini hanya dua contoh keberanian Jokowi dalam menghadapi dua negara adikuasa. Di dalam negeri pun Presiden kerempeng ini sering menunjukkan langkah-langkah yang berani. Ingat saat jutaan massa Islam radikal menggelar besar demo di Monas, dan menuntut Jokowi turun jika Ahok tidak segera ditangkap? Tanpa takut pada risiko terburuk yang bisa saja terjadi di tengah kemarahan massa, belio dengan tenang melangkah ke pusat kerumunan dan ikut shalat bersama mereka. Sepertinya nyalinya sudah dia kunci untuk tidak jiper pada risiko apapun.

Terhadap mantan Presiden dan pejabat tinggi negara yang masih punya pengaruh pun Jokowi tak memperlihatkan rasa takut. Padahal bisa saja mereka marah dan sakit hati karena sumber keuangan dan kepentingan mereka terganggu. Tak lama setelah dilantik sebagai Presiden, dia langsung membubarkan Petral, tempat kongkownya mafia migas, serta memburu bandit-bandit ekonomi yang mengusai impor berbagai bahan kebutuhan pokok.

Dalam penegakan hukum pun Jokowi tidak pandang bulu. Di bawah pemerintahannya KPK menangkap Ketua DPR Setya Novanto yang terlibat kasus korupsi e-ktp, Gubernur Banten, puluhan Walikota, dan Bupati yang terlibat kasus suap dan korupsi. Serta menetapkan imam besar umat Islam radikal sebagai tersangka kasus pornografi.

Padahal sangat mungkin semua kekuatan ini bersatu, termasuk DPR yang sudah berubah jadi kantor oposisi, dan negara asing yang ingin Indonesia kembali seperti semula, berkolaborasi untuk menjatuhkan belio. Namun lagi-lagi tampaknya nyalinya sudah dia kunci dan kuncinya dia buang ke laut dalam.

Dengan contoh keberanian dan kepemimpinan yang dia tunjukkan, serta pembangunan infrastruktur yang dia genjot di seluruh provinsi sebagai wujud pemerataan ekonomi dan keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa, saya kira hanya makhluk Indonesia jadi-jadian yang tidak mau memilih Jokowi kembali menjadi Presiden.

Sumber : Status Facebook Han Dyani

Friday, October 19, 2018 - 21:15
Kategori Rubrik: