Keragaman Itu Asyik Tahu

ilustrasi

Oleh : Sari Musdar

Kemarin waktu saya diajak jadi fasilitator di acara Almamater saya, SMA Tarakanita 1, untuk jadi fasilitator di "Sisterhood Camp", saya sempat merasa nanti gimana ya, kan saya satu2nya kakak fasilitator yang berhijab.

Yasudahlah, saya jabanin. 
Ternyata waktu technical meeting di sekolah, saya disambut ramah Suster Pauletta, kepala sekolah. Susternya masih relatif muda dan terlihat tenang. Jadilah saya duduk berdampingan dengan beliau.

Waktu hari H, adik-adik siswi2 SMA ngga merasa aneh, mereka ngga lihat saya dari atas ke bawah. Sepertinya mereka nyaman2 aja. Mereka hormat dan sopan ke semua kakak2 fasilitator, termasuk saya.

Di Tarakanita ini siswi-siswinya sangat beragam dari berbagai suku bahkan ada yang blasteran kulit putih. Jaman saya SD malah lebih beragam, ada teman-teman dari Flores titipan Gereja Paroki/ yayasan.

Selama acara, siswi2 satu grup yang saya fasilitasi dengan nyaman dan sopan tanya ke saya jika mereka kurang jelas saat mengerjakan project mereka.

Dan yang lucu, sepanjang acara saya dengar siswi yang bukan muslim mengingatkan teman2 Muslim untuk sholat di jam sholat. Begitu pun para guru.

Acara sisterhood ini memang diikuti dari semua angkatan, tujuannya untuk mempererat hubungan lintas angkatan kelas 10, 11 dan 12 dan mencegah bullying kakak kelas ke adik kelas.

Keberagaman itu asyik. Kita jadi lebih menghargai Kuasa Allah yang menciptakan manusia dengan detil yang berbeda-beda. Tidak hanya fisik, tapi juga kebiasaan, prinsip hidup dan lain-lain.

Tapi jaman sekarang kok aneh ya orang maunya hanya mengenal yang satu identitas, ngumpul mesti dengan yang seindentitas. Buat kos eksklusif, perumahan eksklusif. 
Padahal dalam ayat Al Quran diingatkan, Allah menciptakan kita bersuku-suku untuk saling mengenal.

Apa ngga ngebosenin kalau kita ketemu orang sesuku dari lahir sampai besar ?

Sumber : Status Facebook Sari Musdar

Saturday, August 24, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: