Kepasrahan Diri Jokowi Dalam Baitullah

Oleh : Ahmad Baihaqi

Hari beranjak siang ketika telepon saya tiba-tiba saja berdering. Ah ternyata dari teman lamaku Wahyu yang lama tak bersua. Entah apa yang membawanya menelponku.

"Kang, kang, Ya Allah aku pengen nangis kang" Kata Wahyu

"Kenapa?"

"Aku ketemu Gus Karim barusan, ketemu di bandara. Padahal kemarin aku lihat beliau masih mendampingi Presiden Umroh dan pagi ini sudah ketemu di Bandara Halim" kata-katanya mengalir bak air bah. Dia menuturkan sewaktu menunggu pesawat yang akan membawa kembali ke kampung halamannya,Surabaya Wahyu melihat Kyai Abdul Karim memasuki ruang tunggu bandara sendirian. Awalnya dia ragu sebab Senin banyak viral foto Umroh keluarga Presiden dan disertai oleh Gus Karim.

Gus Karim adalah guru atau kyai yang membimbing bagaimana menjalani Islam secara baik. Wahyu ragu menyapanya sebab tak yakin pria itu benar Gus Karim. Sebab dia datang sendiri, memakai baju biasa, bersarung dan hanya membawa travel bag kecil serta sebuah tas plastik. Benarkah itu?  Dia kemudian memberanikan diri bertanya dan dijawab benar bahwa beliau Gus Karim.

Setelah berbincang kesana kemari, Wahyu memberanikan diri bertanya pengalaman beliau mendampingi Presiden masuk dalam Baitullah.

"Demi Allah, saya menyaksikan sendiri beliau berdoa secara khusyuk dan menangis tersedu-sedu. Saya menangkap kepasrahan total, kepasrahan tingga dalam diri beliau. Raut mukanya melepas segala kepenatan dan beban seakan-akan ingin berkata Ya Allah, kupasrahkan semua ini kepadamu. Sungguh kita semua beruntung memiliki beliau" urai Gus Karim seperti dituturkan Wahyu.

Gus Karim sendiri tidak menyangka bahwa dirinya akan diajak menemani Umroh Presiden sebab tidak ada pemberitahuan jauh-jauh hari. Sewaktu acara kampanye di Sriwedari Kota Solo, Gus Karim tidak faham ketika Presiden memberi kode telunjuk ke arah barat. Demi menghormati sang Presiden, pengasuh Pondok Pesantren Al Qur'any Mangkuyudan itu mengangguk meski tak faham maksudnya.

Pria yang bolak balik menolak disebut sebagai guru pak Jokowi itu mengaku tak habis pikir atas perilaku orang-orang yang memfitnah Joko Widodo. Orang sebaik dan setulus itu bekerja untuk bangsa dan rakyat masih saja dihina. Padahal dirinya sangat tahu sejak sebelum menjadi Presiden hingga saat ini hampir tidak ada yang berubah. Jangankan keramahan dan tawadlu nya pada Gus Karim namun juga seluruh keluarga besarnya.

Pun mulai sejak sebelum menjabat Walikota, Gubernur hingga sekarang sebagai Presiden, yang berubah hanyalah waktu atau kesempatan bertemu dengannya yang makin jaran. Namun jika ada waktu barang sebentar, Joko Widodo akan sowan atau mengunjungi Kyai Abdul Karim maupun memanggil ke rumah pribadinya di daerah Sumber Banjarsari Solo.

Entah sampai kapan fitnah-fitnah itu terus menyerangnya. Namun keyakinan Gus Karim menegaskan tidak ada satupun dendam Presiden kepada rakyatnya. Beliau tahu bahwa Presiden akan bekerja untuk rakyatnya, baik yang memilihnya atau tidak, yang suka padanya atau membenci, yang memuji maupun memfitnahnya hingga yang sama sekali tidak menganggapnya sebagai presiden. Bagi Joko Widodo, jabatan adalah amanah dan tanggung jawabnya sangat besar. Jokowi tahu bagaimana sikap pemimpin kepada rakyatnya. Harus adil, tegas dan tidak pandang bulu membedakan perlakuan. Dirinya yakin bahwa jabatan tidak akan membutakan mata hatinya untuk terus mengabdi pada tanah air yang sangat dicintainya.

Wahyu mengakhiri ceritanya dan meminta aku menuliskannya agar apa yang Gus Karim sampaikan maupun yang ada dalam pikirannya bakal abadi.

Tuesday, April 16, 2019 - 15:30
Kategori Rubrik: