Kenikmatan Berlabel Agama, Bisnis Sunah = Mengkerdilkan Islam

ilustrasi

Oleh : Haddi VJB

Tidakkah setiap lelaki memiliki hasrat akan sebuah syahwat kenikmatan duniawi? memiliki 4 istri dalam satu rumah yang tentu akan menjadi indah bagi lelaki tersebut

Secara hukum baik agama maupun Undang-Undang memang tidak ada sebuah larangan, tapi melihat aspek umum, tradisi dan budaya (sosial) di Indonesia rasanya belum layak / bisa di terima dengan baik di kehidupan masyarakat.

Secara sudut pandang yang objektif, itu memang sangat menguntungkan pihak lelaki, bisa menghindari tempat-tempat maksiat seperti pelacuran/lokalisasi, karna di rumah tersedia macam-macam model pribadi yang sesuai hasrat dirinya.

Tapi di sisi lain ini sebuah penurunan peradaban, menurunnya martabat sosok wanita, dimana pada posisi tersebut bisa di ibaratkan seperti budak, sebuah pilihan dalam konteks syahwat (seks) tidak secara utuh mendapat kasih sayang dari satu orang lelaki

Meskipun dengan dalih agama, tapi secara tidak langsung itu hanya mencatut nama / memanfaatkan agama saja

Menimbang baik buruknya, lelaki yang sudah terlatih pada seminar-seminar poligami sudah di ajari bagaimana penggunaan-penggunaan dalil, ayat hingga hadits untuk membujuk sang istri juga calon istri, tidak lepas dari urusan surga, para suami yang hendak berpoligami lebih dari dua, tiga hingga empat sudah sangat umum mereka menjanjikan sebuah surga.

Tapi apakah mereka tidak terfikir bahwa klaim sepihak tentang “SUNAH NABI” itu telah mereka salahgunakan untuk mencapai hasrat pribadi mereka? Kenapa bisa di sebut di salahgunakan? Karna sebagian besar kasus poligami di Indonesia tergolong pilah-pilih, hanya yang muda-muda saja, hanya yang cantik-cantik saja, yang terpelajar yang justru mampu menunjang hidupnya secara pribadi, dimana letak kemuliaan ibadah poligami? Saat janda-janda tua yang tidak mampu, yang tidak cantik, yang memiliki beban/tanggungan banyak anak tak tersentuh para pemuja poligami?

Janganlah bandingkan diri kita dengan Nabi Muhammad SAW yang memiliki Sifat-sifat yang luhur, mulia, agung dan tentu bisa berlaku adil, alih-alih mendapat surga, malah akan menjadi petaka karna dari awal saja sudah pilah-pilih dengan niat kenikmatan duniawi.

Tidakkah kita sadar? Selama 28 Tahun Rasulullah setia pada satu istri dan tidak poligami, selama itu pula Rasulullah mencoba mempertahankan kesetiaannya, hingga pada saat istri Rasulullah jatuh sakit, karna begitu besar rasa cinta istri kepada Nabi, merasa iba, merasa sedih tidak bisa berbakti & mengurus Rasulullah dan akhirnya istri Nabi membujuk untuk menikah lagi, itu pun tidak lantas sang Nabi Muhammad SAW dengan senang hati menerima bujukan tersebut, beberapa kali Rasulullah menolak, dalam keadaan sakit sang istri terus membujuk Rasulullah, hingga pada saatnya Rasulullah bersedia karna begitu besar cintanya pada Istrinya.

Dan apa yang terjadi ketika sang menantu Nabi Sayyidina Ali hendak berpoligami? Secara tegas Rasulullah melarangnya/tidak merestuinya.

Dari Riwayar tersebut Lalu apakah Poligami memang dianjurkan oleh Rasulullah?

Janganlah merusak satu “SUNAH” untuk kepentingan nafsu pribadi kita, ingat itu bukan “WAJIB” banyak sunah-sunah lainnya,

POLIGAMI tentu boleh, tapi hanya pada situasi dan keadaan tertentu, itupun harus lahir dari niat ibadah, menolong seseorang bukan lantas Sunah di jadikan bisnis dan di salahgunakan untuk syahwat menjadikan wanita-wanita muda sebagai koleksi, itu sama halnya mengkerdilkan dan mengotori sunah itu sendiri.

Secara sosialpun masyarakat di Indonesia masih belum umum/ tidak lazim, mungkin ada, tetapi hanya kalangan-kalangan tertentu saja yang memiliki kemampuan dari masyarakat umumnya.

Wallahhua’lam...

Sumber : Status Facebook Haddi VJB

Monday, June 29, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: