Kengerian di Balik Pendukung Anies-Sandi

Oleh : Muhammad Iqbalz Satriani

Beberapa kali melakukan kunjungan ke ibu kota, saya merasa bahwa konstelasi politik menjelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta putaran kedua era Jokowi-Ahok semakin memanas, dan mengarah pada potret pesta demokrasi yang tak lagi sehat dan mencerdaskan. Di sebuah areal pemakaman, saya membaca sebuah spanduk yang mengingatkan bahwa memilih pemimpin nonmuslim adalah haram, sama belaka hukumnya dengan makan daging babi bagi umat Islam.

Ada spanduk yang menyerukan secara tegas: “Jangan pilih pemimpin yang kafir, jangan jual akidah Anda untuk memilih pemimpin yang kafir”. Selain ajakan untuk tidak memilih pemimpin yang kafir, ada juga spanduk yang berisi pernyataan dukungan dan kesetiaan: “Komunitas Tionghoa dan umat Kristiani bangsa menjadi pendukung setia Jokowi-Ahok, ayo buktikan di putaran kedua”.

Rupanya waktu berputar kembali. Kita tak pernah belajar apa pun dari masa lalu. Di Pilkada Jakarta saat ini, sentimen primordialisme kembali dijadikan senjata ampuh untuk menghujam lawan politik. Di masjid-masjid tertera sebuah tulisan sarkastik, “Masjid Ini Tidak Mensholatkan Jenazah Pendukung dan Pembela Penista Agama”.

Fenomena ini bukanlah sesuatu yang unik dan khas yang terjadi di Indonesia. Di negara-negara lain, itu juga terjadi. Amerika Serikat pernah cemas ketika John F. Kennedy mencalonkan diri sebagai presiden. Sebab, dia beragama Katolik. Meski begitu, dalam konteks keindonesiaan, penggunaan sentimen-sentimen primordialisme dalam kampanye untuk menyudutkan kompetitor politik sungguh amat memprihatinkan dan kemunduran bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Black campaign yang ditumbuhkan dalam kampanye seperti ini menunjukkan kepada kita adanya perasaan tidak aman yang lahir dari hasrat-hasrat picik untuk memenangi persaingan. Ia tumbuh dari pikiran ketidakmampuan dalam memahami bagaimana darah tumpah di sejumlah tempat dan nyawa melayang oleh tindak kekerasan oleh isu SARA.

Hasrat yang picik tidak akan sanggup melihat teror yang lebih besar di depan sana. Ia tidak mau melihat hal lain kecuali kepentingannya sendiri. Dalam kajian ilmu politik, inilah yang disebut dengan kepentingan politik pragmatis.

Hal ini juga menunjukkan tiadanya kesejatian dan ketulusan dalam mewujudkan nilai-nilai moral dan universal kemanusiaan. Misalnya berkenaan dengan masalah pluralisme. Istilah pluralisme sudah menjadi tema harian dalam wacana nasional kita. Namun, masih ada sebagian orang yang memahami pluralisme hanya sepintas lalu tanpa makna yang lebih mendalam, tidak berakar pada ajaran kebenaran.

Paham pluralisme tidak cukup hanya dengan sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk, tapi harus disertai dengan sikap yang tulus untuk menerima kenyataan kemajemukan itu sebagai nilai positif.

Jadi, menurut almarhum Nurcholish Madjid, pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beranekaragam, atau terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekadar “kebaikan negative” (negative good), yang dilihat kegunaannya untuk menyingkirkan fanatisme (to keep fanaticism at bay).

Sebaliknya, pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bonds of civility).

Pada hakikatnya, konstruksi kebangsaan yang hendak kita bangun adalah konstruksi kebangsaan kemajemukan. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip multikulturalisme. Oleh karenanya, maka pola karakteristik pergaulan atau interaksi antar kelompok (entitas politik) yang harus dikembangkan adalah pro-eksistensi dan co-eksistensi. Mengakui bahwa “kelompok” di luar “kelompok” kita itu memang ada.

Dengan mengakui eksistensi kelompok lain, maka sejatinya kita telah mengakui eksistensi kelompok kita sendiri. Bukan saling menegasikan.

Di Balik Pendukung Anies-Sandi

Ironisnya, kampanye sarkastik yang sebagian telah saya sebutkan di atas lebih banyak dihembuskan oleh pendukung Anies-Sandi.

Anda tentu tak asing dengan organisasi Front Pembela Islam pimpinan Rizieq Shihab yang identik dengan kekerasan ketika melakukan aksinya. Anda bisa mengecek di website “https://m.tempo.co/read/news/2014/11/13/078621646/daftar-kekerasan-fpi-d...” untuk melihat beberapa aksi sarat kekerasan yang dilancarkan oleh FPI.

Anda tentu juga tak asing dengan organisasi Forum Umat Islam. Organisasi inilah  yang pernah menelurkan wacana NKRI Bersyariah bersama Front Pembela Islam (FPI). Tujuan wacana itu adalah menerapkan hukum Islam di Indonesia (detik.com). FUI pula lah yang  menggalang kekuatan massa Islam meneruskan aksi-aksi demonstrasi menuntut hukuman bagi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), terdakwa penista agama.

Anda tentu juga tak asing dengan Hizbut Tahrir Indonesia. Sepak terjang HTI harus diwaspadai karena anti NKRI dan Pancasila. HTI adalah sempalan kegiatan para pemimpi kebangkitan Andalusia. Kejayaan Islam di Afrika Utara dan Iberia sampai batas India.

Sesungguhnya HTI tak lain adalah kelompok para manusia biasa saja yang bermimpi ingin berkuasa. HTI tak memiliki pijakan kekuatan selain paham radikal mereka. Alasan perintah adanya pemerintahan Khilafah tak jelas juntrungannya. HTI yang jelas menolak negara bangsa. HTI bermimpi ada kaisar Hizbut Tahrir (kompasiana.com).

Sekali lagi, apa yang saya sebutkan di atas adalah para pendukung Anies-Sandi. Kita melihat adanya sesuatu kontradiktif di sini. Anies adalah seorang intelektual, yang seringkali tulisan-tulisannya bernuansa kebangsaan dan menyerukan politik tingkat tinggi yang sarat dengan etika. Tapi dia kini telah beraliansi dengan kelompok-kelompok yang aksinya seringkali mengancam nilai-nilai kebangsaan.

Begitulah, kita mengenal sebuah adagium yang terkenal dalam politik, “tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan itu sendiri”. 

Sebentar lagi hajatan demokrasi putaran kedua Pilkada Jakarta akan dimulai. Hati-hati memilih pemimpin. Selamat berpesta buat rakyat Jakarta. Salam. **

Sumber : qureta

Wednesday, April 12, 2017 - 13:45
Kategori Rubrik: