Kenapa Yai Ma'ruf?

Oleh: Iyyas Subiakto

Tak gampang menempatkan wapres priode ini. Selain yg pengen ngantri, yg ambisi juga nggilani. Ingat Cak Imin, pasang billboard ngalah-ngalahin iklan rokok. Gus Romy jg nyaris sama, cuma dia lebih sopan gak grusa grusu pakai nama kiayi. Zulkifli Hasan jg gak mau kalah, sy jalan ke Tapak Tuan Aceh, di tengah hutan banyak baliho ZH, sy lihat kanan kiri gak ada rumah, 2 jam km jalan paling ketemu 2 mobil dan gerombolan monyet. Sy mbatin monyet kan gak ngerti presiden, mrk cuma tau pisang. Dibungkus karduspun pasti dibuka.

Hari ini banyak yg kecele, sy sdh sampaikan ada dua isu pilihan Jokowi. Isu pertama hrs aman utk kelanjutan pembangunan, isu kedua kaderisasi utk melanjutkan kepemimpinan sekaligus meneruskan pembangunan. Ternyata keputusan jenius ini diluar perkiraan. Sy baru nyadar, ibarat sekali mendayung dua pulau terlalui. Aman, karena Yai Ma'ruf adalah yai sepuh yg dihormati, walau pernah blunder saat mengeluarkan fatwa ttg Ahok, tapi dia tebus dgn merapat ke Jokowi dan damaipun terjadi.

 

 

Sosok orang tua ini adalah mengayomi, kedudukannya sbg ketua MUI sekaligus kedudukan di NU adalah benteng kokoh utk melindungi Jokowi dari serangan para pembenci. Siapa berani mengutiknya NU pasti bergerak. Sekarang kita harus berdecak, ini pukulan telak utk semua pihak yg coba memalak, yg tak berpihakpun hrs merangkak. Jokowi piawai dalam menyemai.

Pertanyaan selanjutnya adalah who next presiden. Orang dan saya sempat cupet pikiran bahwa seolah Jokowi harus menyiapkan pengganti dari kursi wapres. Kita lupa dibawah jajaran pemerintahannya ada kabinet yg diisi 30an menteri. Diruang yg lebih besar itu nanti akan kelihatan dan gampang dipantau siapa yg mumpuni sbg pengganti. Bisa Susi, bisa Sri Mulyani, atau Basuki. Tapi yg pasti bukan Permadi yg ramalannya sdh tak bisa berbunyi.

Yang lebih terbuka adalah bahwa 2024 akan lebih bebas bhw Indonesia bisa memilih anak muda utk pemimpin berikutnya. Skrg sdh mulai kelihatan. Ada Nurdin Abdullah, Ridwan Kamil, Azwar Anas, Ganjar, Risma, dst. Secara pararel dan bersinergi akan jalan bersama. Antara Jokowi yg terus membangun dan anak muda bersiap melanjutkannya.

Jokowi memang harus diakui, diam penuh nyali. Bak menarik benang di dalam tepung. Tepung tak berserak, benang tak putus. Dan tak perlu bawa kardus nanti dicurigai bawa duit tebusan yg jumlahnya milyaran.

Lega kita, tak perlu lagi lihat lawannya siapa karena mereka cuma pelengkap peserta. Kita harus fokus, bahwa Indonesia harus terjaga. NKRI harga mati. Kalau bangau cuma bisa tidur diatas sebelah kaki dan bayar mahal sekali.

Jangan tanya lagi kenapa Jokowi pilih Kiayi. Biarkan Jokowi membagi tugas, kita pendukungnya harus cerdas bhw mendapat angka 10 bisa 5+5, 1+9, atau yg lainnya. Karena kita tidak mengenal penambahan tunggal, shg 10 cuma 5+5. Apakah skrg 2+8, 7+3, atau yg mana. Yg pasti 10 sdh ditangan jgn dibiarkan berkurang karena mengaisnya tak gampang.

Selamat buat Pak Jokowi dan Yai Ma'ruf. Semoga diparengi sehat dan khusnul khatimah. Alpfatihah.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Saturday, August 11, 2018 - 05:45
Kategori Rubrik: