Kenapa Semua Nabi Ikhwan Tidak Ada yang Akhwat

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Meski niatnya mulia, namun sering kali kita salah kaprah dengan bahasa Arab ini. Sehingga begitu suka pakai istilah-istilah yang rada kearab-araban. Banyak istilah kearaban yang mulai banyak dipakai orang, misalnya : ana, antum, akhi, ukthi, ikhwan, akhwat, syafakallah, syukran, afwan dan seterusnya.

Latar belakangnya tentu teramat mulia, karena bahasa Arab itu memang amat dianjurkan untuk digunakan. Bahasa Arab merupakan bahasa Al-Quran dan As-Sunnah, bahkan juga termasuk bahasa penduduk surga. Menghidupkan bahasa Arab sudah termasuk juga kita menghidupkan Islam.

Lalu dimana masalahnya?

Pertama, tidak mentang-mentang kita ingin menghidupkan bahasa Arab, lantas kita mengganti semua kosa kata dan istilah dalam bahasa Indonesia menjadi bahasa Arab. Bahasa Indonesia adalah bahasa Indonesia, tidak perlu diarab-arabkan.

Seharusnya belajar saja bahasa Arab dengan benar, kuasai ilmu Nahwu, Sharaf, Adab, Balaghah, dan seterusnya. Atau silahkan belajar saja Bahasa Arab percakapan dengan bahasa yang fushah, sehingga ketika berbicara memang 100% berbahasa Arab.

Tetapi janganlah bahasa Indonesia dipaksa-paksakan untuk dijejali dengan istilah bahasa Arab, sehingga orang Indonesia tidak paham dan orang Arabnya pun juga tidak paham. Sebab yang terjadi bukan berbahasa Arab, melainkan merusak bahasa Indonesia dengan bahasa yang dianggap sebagai bahasa Arab.

Kedua, jangan pula berpikir bahwa sekedar bisa menyebutkan istilah-istilah dari bahasa Arab, lantas kita sudah dianggap menghidupkan bahasa Arab. Cara-cara yang semacam itu sama sekali tidak memperkuat agama Islam.

Kalau mau memperkuat agama Islam lewat memasyarakatkan bahasa Arab, seharusnya kita belajar Arab betulan, sehingga kita bisa baca kitab berbahasa Arab dengan baik dan benar, juga paham ketika orang Arab berceramah.

Selain itu juga harus diasah kemampuan kita untuk bisa berpidato pakai bahasa Arab, selain juga bisa menulis buku dan kitab dengan bahasa Arab.

Itulah adalah empat kemampuan dasar dalam berbahasa Arab. Seharusnya jalan itulah yang ditempuh dengan serius dan benar. Bukan hanya show-off memamerkan istilah-istilah yang terkensan kayak bahasa Arab, padahal orang Arabnya sendiri malah tidak paham.

Maka pantaslah kalau dibilang ke-arab-arab-an tanpa makna dan tanpa manfaat. Tetapi lucunya, justru yang menggejala malah yang semacam ini di tengah masyarakat.

Sebenarnya tetap bicara dalam bahasa Indonesia, namun banyak menggunakan kosa kata arab, tetapi kadang penggunaannya malah tidak tepat.

Misalnya pernah suatu hari ada seorang bertanya kepada saya begini,”Ustadz, mengapa semua nabi itu ikhwan dan tidak ada yang akhwat?”. Saya paham maksudnya tetapi terpingkal-pingkal dengan caranya dia bertanya. Maksudnya kenapa semua nabi itu laki-laki dan tidak ada yang perempuan.

Tetapi dia sudah terlanjur keliru dan salah kaprah dalam berbahasa, sehingga mengira kalau bahasa Arabnya laki-laki itu ikhwan itu dan bahasa Arabnya perempuan itu akhwat.

Pasalnya, di komunitasnya, setiap ada penyebutan laki dan perempuan, selalu digunakan istilah ikhwan dan akhwat. Ada wc ikhwan dan ada wc akhwat. Ada kajian ikhwan dan ada kajian akhwat. Ada baju ikhwan dan ada baju akhwat.

Akhirnya dia bertanya, kenapa semua nabi itu ikhwan dan tidak ada yang akhwat?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Thursday, November 21, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: