Kenapa Pilih Jokowi Dibandingkan Prabowo Subianto?

Oleh : Nadia

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah  menetapkan 2 pasangan calon presiden untuk berlaga dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Keduanya adalah  pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin  yang diusung Sembilan parpol yaitu PDIP, PPP, PKB, Golkar, Nasdem, PSI, Perindo, PKPI, dan Hanura, dan  pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno yang diusung Partai Gerindra, PKS, PAN dan Partai Demokrat. Jokowi-Ma'ruf Amin mendapatkan no urut 1, sementara pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan no urut 2.

Pasangan mana  yang layak di pilih?
Rakyat Indonesia akan menentukan pilihannya pada tanggal 17 April 2019 untuk memilih pasangan capres/ cawapres yang akan menentukan nasib bangsa ini dalam 5 tahun kedepan. Untuk itu dibutuhkan pilihan yang rasional dan cerdas agar tidak salah menentukan pilihan. Jangan sampai  menjadi pemilih yang membabi buta, antipati terhadap pasangan capres/cawapres karena  terpengaruh dari informasi yang jika ditelusuri adalah berita yang tidak benar alias hoax.

Saya sendiri akan berusaha menjadi pemilih yang rasional, cerdas dan bisa obyektif mengukur kemampuan kedua pasangan capres/cawapres yang akan berlaga bulan April mendatang. Cara sederhana  yang bisa dilakukan dengan melihat rekam jejak kedua pasangan tersebut.  

Jika dilihat dari rekam jejak kedua pasangan tersebut, jelas pasangan Joko Widodo ( Jokowi) -Ma’ruf Amin lebih dipercaya untuk memimpin bangsa ini untuk lima tahun kedepan. Selama menjabat sebagai presiden RI ke- 7, Jokowi telah berhasil  berusaha keras untuk kerja,kerja dan kerja demi kesejahteraan rakyat . Presiden asal kota Solo ini  terus bekerja dan benar-benar mencapai kemajuan yang terukur, nyata dan sangat dibutuhkan bangsa ini.
 
Sementara pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno  tidak mempunyai  rekam jejak yang baik. Prabowo sudah empat kali  berusaha menduduki kursi RI-1  dan semua usaha mantan Komandan Jenderal Kopassus ini tidak berhasil. Prabowo sendiri diberhentikan  dari militer secara tidak hormat dikarenakan melanggar sumpah prajurit, sapta marga, undang-undang karena terbukti bersalah  dalam kasus penculikan aktivis 1997, Prabowo Subianto dinyatakan bersalah oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Sandiaga Uno sebagai cawapres Prabowo sendiri terbukti tidak mampu menjadi wakil gubernur DKI Jakarta. Belum genap setahun di Jakarta, ia banyak menuai kontroversi dan minim prestasi.Misalnya soal rumah DP 0 Persen yang belum terwujud, program, OK OC yang menuai bangkrut, program OK Otrip yaitu Program integrasi Transjakarta dengan angkot alias OK Otrip  yang bisa dikatakan gagal karena sudah tiga kali masa uji coba, jumlah armada angkot yang bergabung sangat masih sangat sedikit yakni 123 armada, sedangkan target armada yang bergabung adalah 2.609. Selanjutnya  program skybridge Tanah Abang yang tak kunjung selesai seperti yang dijanjikan,  membangun Stadion Persija bertaraf internasional seperti Old Trafford yang dijanjikan Sandiaga Uno sejak kampanye Pilkada, belum menunjukkan perkembangan dan masih banyak lainnya.
 
Melihat rekam jejak kedua pasangan tersebut, mudah menjatuhkan pilihan yaitu tidak lain kepada Jokowi –Ma’ruf Amin. Kenapa memilih Jokowi lagi? Ya karena dilihat dari rekam jejaknya ada berderet-deret prestasi yang dia torehkan. Tentu saja pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, jembatan, waduk, jalan LRT, pelabuhan  meningkat luar biasa dari tahun ke tahun. Percepatan pembangunan ini sebagai perwujudan keadilan social bagi seluruh  rakyat Indonesia. Prestasi lainnya adalah :
 
1. Indeks Pembangunan Manusia meningkat 
Di masa kepemimpinan Jokowi, tercatat  Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 68,90 di tahun 2014 menjadi 70,81 di tahun 2017. Sehingga  Indonesia masuk dalam kategori High Human Development. 
2. Tingkat pengangguran terbuka menurun 
Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia semakin menurun dari 5,70 persen menjadi 5,13 persen karena kerja bersama bangsa Indonesia. 
3. Pembagian Kartu Indonesia Pintar Capai 20 Juta 
Jokowi berkomitmen membangun manusia Indonesia itu diwujudkan melalui pendidikan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembagian Kartu Indonesia Pintar, yang pada tahun 2017 sudah mencapai lebih dari 20 juta peserta didik, serta perluasan penyaluran program beasiswa Bidik Misi bagi mahasiswa. 
4. Penerima Bantuan Iuran JKN Naik Jadi 92.4 Jiwa
Pemerintah meningkatkan secara bertahap Penerima Bantuan Iuran JKN dari 86,4 juta jiwa di tahun 2014 menjadi 92,4 juta jiwa pada Mei 2018. 
5. Pajak UMKM Turun
Untuk mendorong perkembangan usaha UMKM, pemerintah menurunkan tarif pajak final UMKM menjadi 0,5 persen serta penajaman KUR yang bisa dinikmati 12,3 juta UMKM. 
6. Rasio Gini Turun Dari 0,406 Jadi 0,389 
Rasio gini sebagai indikator ketimpangan pendapatan terus kita turunkan, yang saat ini berhasil kita turunkan dari 0,406 menjadi 0,389.
7. Penerima Bantuan Nontunai Ditingkatkan Jadi 15,6 Juta.
Untuk memberikan jaminan perlindungan sosial, pemerintah bekerja menjaga stabilitas harga bahan-bahan pokok. Pemerintah juga menyalurkan Program Keluarga Harapan kepada 10 juta keluarga penerima manfaat, serta mereformasi sistem bantuan pangan menjadi program bantuan nontunai, agar lebih tepat sasaran, dan cakupannya akan ditingkatkan menjadi 15,6 juta penerima manfaat pada tahun 2019.
8. Jokowi mampu membubarkan PETRAL yang bisa hemat anggaran sebesar Rp.250.miliar/hari
Sedemikian jelasnya prestasi Jokowi sehingga tidak diragukan lagi Jokowi harus kembali memimpin bangsa Indonesia lagi. Selama 4 tahun ini Jokowi telah membuktikan komitmen besar dan konsisten. Upaya mulia ini jelas tidak mudah dan tidak bisa sebentar, butuh kerja keras dan kerjasama. Rakyat masih butuh Jokowi, rakyat butuh kerja keras Jokowi, rakyat butuh bekerjasama dengan Jokowi. Satu periode lagi, kami masih butuh JOKOWI LAGI
#JokowiLagi
#2019jangansalahmemilih
#jokowiuntukindonesiamaju
Sunday, September 23, 2018 - 14:00
Kategori Rubrik: