Kenapa Menyerang Anies?

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Ada banyak inbox ke saya, kenapa saya menyerang Anies pada banyak hal. Agar tidak banyak buang waktu, ini saya jelasin ndoro.

1. Di medsos pada umumnya jarang serang menyerang masalah pribadi. Karena isu yg hadir di medsos adalah isu masyarakat yg di respon beragam, termasuk juga yg hoaks.

 

2. Saya tidak ada urusan dgn pribadi Anies, walau saya pernah suka, tapi akhirnya saya sadar Anies adalah tipe lambe murah hati marah. Dan saya putuskan tidak lagi ramah kepada dia karena dia munafik, culas, juga tak cerdas. Dan itu hak saya.

3. Yang dianggap serangan ke Anies dari jutaan orang adalah karena prilaku Anies yg tak umum, dialah sesungguhnya " penyerang" wilayah kebaikan di pusaran ruang sosial. Hal hal baik dia putar balikan, tindakannya konyol dan tolol, sayangnya dia gunakan uang rakyat, bukan uang nenek moyang nya. 

Anda lupa dia beli bambu belah utk tiang bendera Asian Games, beli Waring nutup kali, buat Patung Bambu di Bundaran HI, Batu Jeronjong, Ngecat jalur speda, buat Trotoar di bongkar pasang. Sementara urusan yg urgent utk warga menormalisasi sungai, nambah pompa, dll nya gak dikerjakan. APBD nya malah beli barang loakan, dan dana banjir dipotong utk balapan. Selesai banjir dia kerja bakti sendiri, diberitakan di media pakai bayaran pula. Pencitraan kok di tengah penderitaan warganya, bahkan uang bantuan dia gak salurkan, warga ngungsi di gereja, yg ngasi makan dari yayasan Budha. Kemana pasukan agamanya dan yg seiman dgn nya, kok pada nyungsep semua. Diajak beresin kanal, waduk, kali, dua kali di undang rapat Pak Basuki dia cuekin, sekarang malah ngajak debat. Sudah tolol ngelunjak.

4. Bung, skrg petisi copot Anies sdh melampaui angka 220.000.
Apa itu bercanda, walau mekanisme pencopotannya tidak mudah dilakukan, tapi angka itu menunjukkan bhw sosok Anies tak pantas duduk sbg gubernur utk mengayomi banyak orang dgn kompleksitas masalah yg multi dimensi. Sehingga tulisan saya, tulisan rekan Anies dari UGM, tulisan lainnya dgn isi yg beragam, ditambah hujatan panjang pendek, sampai surat terbuka kepada istri Anies, semua itu bukan canda di malam bulan purnama.

Harusnya sbg manusia normal Anies berkontemplasi, tafakur, berkaca, kenapa dia tak bisa diterima dimana-mana, kecuali pasukan penjilat yg justru menjerumuskannya, tapi kalau dia paham tafakur dia tak bakal tersungkur dari menteri tempo hari.

5. Anda sbg pasukan penjilatnya, yg mengatakan kami menyerang Anies dan bukan warga Jakarta juga harus berkaca di air banjir skrg. Ini bukan urusan serang menyerang, bukan urusan orang Jakarta atau bkn Jakarta. Ini adalah kepedulian banyak orang kepada satu orang yg harus di hentikan karena punya potensi merusak semua orang. 

Dan ini pelajaran utk umat yg lalu sampai menjual murah agamanya, jangan lagi menjual agama utk memilih orang yg tak bisa apa-apa, hasilnya memalukan, agama dan dirimu jadi cemoohan, sampai di bilang buat apa mayoritas, kalau tak berkualitas. Muka kita jadi panas seperti di amplas.

Jelas ya ndoro, semoga anda masih bisa memilah mana bangke kera mana bangke buaya, sehingga kalau mau makan bangke jelas pilihannya, tapi ya tetap yg di makan bangke juga.

Salam buat Anies, jangan ngimpi mau jadi presiden, nanti makin senewen dia.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, January 8, 2020 - 20:45
Kategori Rubrik: