Kenapa Memaksa Dunia Sama?

ilustrasi

Oleh : Ayu Prawitasari

Waktu masih TK, saya ingin seperti seorang teman yang pintar mewarna. Coretan crayonnya membuat saya terkagum-kagum sementara gambarnya membuat saya hanya bisa berdiri tanpa berkata-kata.

Bagi saya yang membuat lingkaran saja kesulitan, teman saya itu benar-benar memunculkan iri hati. Saya ingin seperti dia. Dan saya berdoa pada Tuhan agar saya bisa berubah menjadi teman saya itu.

Waktu SD, saya kagum pada seorang teman pindahan dari Surabaya. Dia cantik dan sangat pintar. Selalu rangking I tanpa perlu usaha berlebihan, sementara saya harus tidur larut malam hanya agar dapat masuk lima besar.

Saya berusaha keras mengalahkannya. Walau kadang hanya tidur beberapa jam untuk menyiapkan ulangan, hasilnya sama saja. Saya selalu kalah. Dan saya berdoa pada Tuhan agar saya bisa berubah menjadi teman saya itu.

Waktu SMP, saya masih saja tak puas menjadi diri sendiri. Saya ingin seperti seorang teman saya yang populer, yang disukai para kakak kelas, yang pendapatnya selalu didengar, yang pakaiannya selalu modis, yang eksis intinya. Saya yang kurang pergaulan dengan penampilan selalu sama, t-shirt kumal karena pilih nyaman ketimbang modis dengan model celana yang selalu ketinggalan satu generasi, kata teman-teman, jelas tak bisa diterima di kalangan populer sekolah.

Di saat itu saya menjadi lebih giat berdoa pada Tuhan agar bisa berubah menjadi teman-teman saya yang populer. Saya juga sungguh-sungguh minta pada Tuhan agar semua orang diciptakan sama – sama-sama cantik, modis, dikenal, pintar, dan semua sifat baik lain agar semua orang bahagia.
Tentu saja permintaan aneh itu tak dikabulkan.

Jadi masa kecil dan remaja saya tetap saja penuh bully-an karena rambut saya yang keriting, karena pakaian saya yang tak modis, karena saya naif, karena saya kurang pergaulan, karena saya pendiam, dan masih banyak yang lain.
Memaksa dunia menjadi sama. Itulah intinya. Harapan tak logis pada masa kecil sementara saat saya dewasa, nyatanya banyak juga orang lain berkelakuan serupa dalam konteks berbeda. Yang membuat saya sedih, mereka adalah orang-orang dewasa yang suka memaksakan kehendak. Memaksa orang lain agar sama seperti mereka.

Mereka selalu merasa kelompoknya paling benar dalam hal agama dan menganggap orang lain yang tak seagama itu salah. Bahkan yang seagama pun bisa berada di posisi salah apabila tak sepemikiran dengan mereka. Kelompok ini pun sibuk mengecam orang muslim yang mengucapkan selamat Natal, umat muslim yang tak berkerudung, Banser yang menjaga gereja, tradisi sedekah bumi, dan masih banyak lagi lainnya. Semua orang harus sama seperti mereka, dalam hal penampilan maupun juga dalam perbuatan. Benar-benar memaksa dunia menjadi sama.

Sebuah pertanyaan muncul. “Apa sih susahnya Tuhan membuat manusia sama? Semua orang menjadi berkulit putih? Semua orang menjadi muslim seperti saya, misalnya? Semua orang menjadi suku Jawa? Semua orang menjadi kaya?” Jawabannya tidak susah sama sekali.

Pertanyaan itu saya bicarakan bersama seorang pendeta di GKJ Joyodingratan Solo. Kami berdua terlibat di acara yang sama, dialog toleransi beragama yang melibatkan para siswa di sebuah SMP di Sragen. Narasumber dalam kegiatan itu adalah para pendeta di GKJ Joyodingratan dan takmir Masjid Al Hikmah. Kedua tempat ibadah ini bersebelahan bahkan satu tembok. Bila Anda ingin tahu tentang dua tempat ibadah unik ini, Anda dapat dengan mudah mendapatkan informasinya di mesin pencari Google.

Akan muncul salah satunya informasi mengenai ibadah Minggu yang ditiadakan di GKJ Joyodingratan karena waktunya bertepatan dengan Hari Iduladha. Saat Iduladha, di depan gereja penuh sapi-sapi kurban milik jemaah Masjid Al Hikmah.

Sebagai fasilitator acara dialog toleransi, saya punya banyak waktu mengamati para siswa yang serius mendengarkan serta sibuk mencatat cerita-cerita dari takmir dan pendeta yang duduk berdampingan di ruang ibadah GKJ Joyodingratan, Sabtu siang itu. Memandu acara dialog tentang toleransi agama ini tidak sulit, namun juga tidak mudah.

Kesulitan saya adalah mengendalikan emosi. Saya ingin menangis melihat para siswa itu mendapatkan hal yang berharga tentang kemanusiaan, yang tak mereka dapat di sekolah. Saat ini mereka mungkin belum menyadari, namun saya yakin suatu saat mereka akan sangat bersyukur untuk pengalaman tersebut.

Tak Ada Setan di Kolong

Prasangka adalah setan dalam hati kita. Setan itu tumbuh bersama kita, kecil lalu menjadi besar, bahkan menua. Saya ingat bagaimana ketakutan saya di masa kecil saat tidur sendirian di kamar. Seringkali saya lihat kolong tempat tidur, khawatir di tempat itu ada setan jahat yang mengganggu. Namun, saat dewasa, saya baru sadar kekhawatiran itu tak beralasan. Setan ada di dalam tubuh saya, bukan di kolong tempat tidur.

Prasangka adalah saat kita melihat wanita bercadar lalu kita mengaitkannya dengan bahaya terorisme, melihat remaja memakai jin sobek dan bertato lantas melabelinya dengan anak nakal, khawatir dengan pembangunan gereja lantas menudingnya sebagai bentuk invasi beragama, ketakutan melihat salib sebagai bentuk kristenisasi, melihat kelenteng sebagai tempat menyeramkan karena penuh dupa dan patung, dan masih banyak lagi contoh lain.

Sebagai muslim, saya memaknai prasangka adalah makna sebenarnya yang harus kita perjuangkan ketika membaca Al Hujurat dan Ar Rum. Saat Tuhan mencipatakan manusia begitu beragam, maka tugas kitalah mengendalikan prasangka itu agar kita bisa hidup berdampingan dengan berjuta manusia lain yang sengaja diciptakan Tuhan dalam berbagai bentuk dan keyakinan.

Mudahkah itu? Sekali lagi jawabannya tidak. Dimensi habluminallah dan habluminannas, hal yang bersifat ke-Tuhanan dan kemanusiaan kita, benar-benar diuji dalam sebuah titik equilibrium, titik keseimbangan.

Prasangka riskan membesar saat dunia kita penuh dengan simbol. Lagi-lagi media sosial memang punya peran besar dalam membesarkannya. Inilah dunia yang sedang kita hadapi sekarang.

Saya setuju dengan pendapat Baudrillard, seorang sosiolog atau tokoh postmodern dari Perancis meski dia sendiri tak mengakui, bahwa masyarakat telah meledak, habis, hancur, dan melebur dalam sebuah entitas bernama massa. Tidak seperti masyarakat yang masih punya nilai-nilai kehidupan berbasis tradisi, massa mendapatkan nilai-nilai kehidupan dari budaya konsumerisme.

Barang-barang belanjaan kitalah yang menjadi penentu siapa kita karena barang-barang belanjaan telah dimaknai dalam sifat-sifat kemanusiaan yang diindustrialisasikan. Pengusaha, pemerintah, media massa, dan sekarang media sosial yang sangat bertanggung jawab atas pemanusiaan barang-barang mati ini.

Dunia postmodern memaksa manusia seringkali melahap sebuah citra atau simbol tanpa makna. Prasangka sungguh hidup subur dalam kondisi seperti ini. “Bagaimana orang-orang tahu kelenteng itu tempatnya setan hanya karena di sini penuh patung dan dupa?”

Kata-kata pemimpin Kelenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluyo, terngiang-ngiang di memori saya. “Padahal orang-orang itu masuk kelenteng saja belum pernah. Patung-patung di kelenteng hanyalah mediasi kami menyembah Tuhan. Tuhan itu tidak kelihatan, bukan patung-patung itu,” kata Sumantri lagi. Bagi Sumantri, prasangka memang sungguh menyakitkan.

Seperti halnya para siswa yang mendapat banyak pengetahuan dari kegiatan dialog tentang toleransi beragama tersebut, kunjungan ke berbagai tempat ibadah itu berhasil menyentakkan kesadaran saya tentang kewajiban belajar sepanjang hayat.

Saya adalah manusia yang juga penuh prasangka meski saya juga kerap menjadi objek prasangka. Saya tak menyalahkan masa lalu yang membuat saya menjadi manusia penuh prasangka, terutama dalam hal agama. Terlepas dari itu, saat ini saya justru berharap kegiatan dialog toleransi beragama seharusnya lebih digalakkan, khususnya bagi para pelajar.

Sungguh saya setuju dengan rencana Mendikbud Muhadjir yang akan meninjau ulang kurikulum pendidikan agama dalam rangka mencegah bibit radikalisme di Tanah Air.

Menurut Muhadjir, pendidikan agama di sekolah saat ini orientasinya terlalu serbapengetahuan. Akibatnya konten pendidikan agama menjadi sangat determenistik, atau terlalu menonjolkan sebuah agama yang paling benar, sementara yang lainnya salah.

Semangat toleransi bukanlah tidak mengajarkan agama kita paling benar, namun sebaliknya, di saat yang sama kita seharusnya mengajarkan pada anak bahwa ada orang lain yang juga menganggap agama mereka paling benar. Tugas manusia adalah menjaga kerukunan agar semua orang bisa bebas menjalankan agama masing-masing dengan baik.
Harus kita sadari benar bahwa Indonesia bukanlah milik orang Jawa dan orang Islam saja. Indonesia adalah milik semua.

Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu adalah contoh penting bagaimana para pendahulu kita mengajarkan semangat toleransi. Meski penggunanya sedikit, jauh lebih sedikit dibandingkan pengguna bahasa Jawa, bahaya Melayu menjadi bahasa nasional karena lebih dikenal orang-orang di Nusantara. Jika semangat toleransi itu sudah bergaung lama, apakah kita hendak mundur menjadi manusia intoleran yang tak mau belajar dari sejarah?

buat papa yang keren sedunia Edi Pramono dan pak Moh Hanktawank yang sabar walau sering nyebelin dan masku yang top banget Bambang Ary Wibowo

Sumber : Status Facebook Ayu Prawitasari

Saturday, September 7, 2019 - 14:15
Kategori Rubrik: