Kenapa Lulusan Perguruan Tinggi Islam Tidak Militan?

ilustrasi
Oleh : Mamang Haerudin
Sebelum saya mengupas soal ini, saya ingin menyampaikan hal ini di awal, bahwa foto atau gambar--meminjam istilah orang--hanya pemanis saja. Meskipun kalau dikait-kaitkan akan ada keterkaitannya. Saya sendiri belum ngecek ada berapa jumlah Perguruan Tinggi Islam, baik yang Negeri maupun swasta di Indonesia. Namun saya yakin, kita semua sepakat jumlahnya sangat banyak. Namun anehnya, kenapa lulusan Perguruan Tinggi Islam malah tidak militan, tidak mampu menjadi corong peradaban Islam di Indonesia? Saya akan mencoba menjawab beberapa faktornya.
Yang paling mendasar menurut saya adalah karena PT Islam--sebagaimana umumnya PT yang lain--masih mengedepankan nilai akademik, Indeks Prestasi (IP) atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Jelas ini sebetulnya ruh pendidikan yang kurang mendidik. Dan realitasnya demikian. Iklim PT Islam, mulai dari Rektor, dosen dan mahasiswa sangat terjebak rutinitas. Rektor duduk manis di kantornya, jauh atau sengaja menjauh dari mahasiswa dan civitas PT lainnya, dosen juga mayoritas hanya terkungkung kerja-kerja rutinitas untuk laporan di atas kertas dan nyaris para mahasiswa pun hanya masuk-keluar kelas.
Pendidikan di PT Islam nyaris 90 persen lebih malah berpaling dari hakikat pendidikan itu sendiri. Ada memang para mahasiswa yang misalnya menganggap dirinya aktivitas, ditandai dengan rambut gondrong, nongkrong di kafe, diskusi filsafat (ini yang nongkrongnya agak sedikit keren), kerap terlibat aksi masa dan demostrasi, bakar-bakaran ban. Selebihnya semuanya serba formal dan rutinitas. Nyaris tak ada implementasi dan apalagi internalisasi tri dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Pendidikan yang hanya pengajaran, penelitian yang hanya mengetik (memindahkan) tulisan dan pengabdian yang jauh dari kebutuhan masyarakat, karena pengabdian dipersempit hanya dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang lagi-lagi serba formal dan kaku.
Oh ya ada para mahasiswa aktivis yang katanya aktivis pergerakan, itu pun di luar PT Islam, tetapi kegiatannya sama, kumpul-kumpul, membuat proposal untuk keperluan acara-acara seremonial. Tak ada aktivitas intelektual, apalagi kerja-kerja konkret pemberdayaan masyarakat yang langsung turun ke lapangan. Padahal menurut saya, pendidikan itu muaranya pengabdian. Turun dan membaur hidup bersama masyarakat, setiap hari, bukan di ruang kelas. Di ruang kelas ya, tetapi prosentasenya mestinya kecil cukup 10 %, selebihnya terjun dan membaur.
Ilmunya seperti tak membekas. Seperti pepatah, ilmunya tidak berbuah. Apakah ini tanda bahwa ilmunya tidak bermanfaat? Padahal apa yang kurang, berapa banyak Profesor dan Doktor di PT Islam? Tetapi kabar miring berebut jabatan dan kepentingan tetap tak terelakkan. Bahkan hatta lulusan Doktor luar negeri (PhD) setelah pulang ke tanah air, hanya jadi dosen yang mengajar atau berebut menjadi pejabat di Kementerian Agama atau Kementerian serupanya. Informasi atau garapan riset, seminar, diskusi atau lainnya memang ada, tetapi endingnya tak jelas, seperti tidak bermanfaat. Ini semua akhirnya fatal, membuat lulusan/alumni PT tak jelas arah, banyak yang menjadi pengangguran dan berebut dan bermental PNS.
Kajian-kajian Islam justru disemarakkan oleh komunitas-komunitas di luar Perguruan Tinggi Islam. Selain di Masjid, juga di hotel, di auditorium dan di tempat-tempat luas yang dapat menampung jemaah banyak. Puncaknya, kajian Islam justru digiring oleh komunitas yang belakangan identik dengan hijrah. Mereka yang selama ini dituding fundamentalis dan radikal. Mereka yang justru saya kenal dengan programnya yang kreatif dan inovatif. Militan dan mandiri. Tak bergantung pada bantuan Pemerintah, apalagi berebut menjadi pejabat.
Seminar ataupun diskusi--semacam--yang ada di gambar, terlihat asyik sendiri, seperti tak jelas tolok ukur dan targetnya. Hampir semuanya wacana, terus saja diulang-ulang, entah itu membahas filsafat, teologi, sufisme dan umumnya wacana pemikiran Islam. Pantas saja kalau lulusan PT Islam tidak menjadi lulusan yang militan, apalagi mau tergerak membangun Desa, menciptakan inovasi, menjadi entrepreneur, memiliki jiwa leadership yang tangguh. Poin-poin dalam pendidikan yang barusan disebutkan, malah hampir tidak dipelajari di bangku kuliah. Aneh dan menyebalkan.
Wallaahu a'lam
Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)
Monday, January 18, 2021 - 08:30
Kategori Rubrik: