Kenapa Lisan Istri adalah Harimau Suami Juga di Militer

Oleh: Aldie El Kaezzar

 

Lizann Lightfoot, seorang istri tentara USA pernah memiliki masalah dengan media sosial. Ia menceritakan kisahnya di sebuah laman online. Waktu itu, ibu yg memiliki 3 anak kecil di bawah 3 tahun ini mendapatkan suaminya bertugas selama 6 bulan di Afganistan. Suatu saat, kabar baik datang, kemungkinan suaminya bisa kembali lebih awal.

Tapi lama tak berselang, suaminya memberitahu lagi bahwa ia belum bisa kembali karena menyerahkan haknya untuk perwira lain, atasannya. Lizann tentu kecewa, apalagi mengetahui bahwa atasannya tersebut tidak sedang memiliki bayi.

 

Di tengah frustasi harus menunggu lebih lama sambil mengurus ketiga anaknya yg masih kecil, ia melihat posting istri atasannya waktu menyambut kepulangan sang suami. Spontan ia berkomentar, "Nikmati waktu bersama keluargamu, sebab suamiku memberikan haknya untuk suamimu."

Masa tugas berakhir, suami Lizann kembali. Ia melapor keesokan harinya, namun kembali ke rumah sambil marah, "Kamu komen apa di Facebook istri atasan?". Lizann masih belum paham, suaminya mengingatkan, "Aku dimarahi selama 1 jam karena komen bodohmu. Sekarang atasan mengancam membatalkan cutiku". Keluhnya.

Lizann mengaku sangat malu. Ia tak sadar bahwa komennya di media sosial bisa mengancam waktu keluarga yg selama ini ia rindukan.

Lizann melanjutkan, pasangan militer memang tetap mempunyai hak berpendapat. Tapi prajurit diajarkan untuk sangat menghormati otoritas. Walau kita tak setuju atau tak menyukai pasangan atasan, kita tidak bisa serta-merta menghardiknya di media sosial.

Ia menyebut, menghormati otoritas/atasan adalah prinsip yg sangat mendasar dalam militer. Semua pemimpin. Mulai dari pimpinan markas ke atas sampai presiden. Kegagalan dalam menjaga ini bisa mempengaruhi karir pasangan sendiri.

***

Rumit? Mungkin. Tapi Itulah aturan dan etika dunia militer. Seorang pengamat militer menyebut bahwa menjadi perwira adalah menjadi manusia yg disempurnakan, karena itu ia diikat banyak aturan. Bahkan memilih pasangan pun disebutnya harus minta persetujuan atasan juga. Jadi dalam beberapa hal memang tidak bisa disamakan antara militer dengan sipil.

Istri prajurit TNI merupakan satu kesatuan dengan pasangannya. Ini ditegaskan dengan sangat jelas di Pembukaan Anggaran Dasar Persit (Persatuan Istri Prajurit) TNI: Istri prajurit TNI Angkatan Darat mutlak tidak dapat dipisahkan dari TNI Angkatan Darat, baik dalam melaksanakan tugas organisasi maupun dalam kehidupan pribadi.

Karena itu tidak mengherankan kalau istri prajurit juga "terikat" dengan aturan/etik yg mengikat suaminya. Artinya, kesalahan istri sangat mungkin berdampak ke sang suami.

Sapta Marga poin ke 5 mengatakan : Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, memegang teguh disiplin, patuh dan taat kepada pimpinan serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan Prajurit.

Artinya, setiap prajurit, dan otomatis pasangannya, dituntut untuk menjunjung tinggi kehormatan prajurit. Berkata tidak sopan, merendahkan atau mencela apalagi ditujukan ke pimpinan, jelas bukan hal yg bisa disebut "menjunjung tinggi kehormatan prajurit".

Jadi, jagalah selalu lisan kita di media sosial. Karena menulis di media sosial hakikatnya sama seperti berteriak di tengah keramaian. Ya, berteriak. Bedanya, di dunia nyata, gema ucapan kita selesai begitu kita berhenti bicara, tapi tidak di dunia maya. Karena selain hoax, screenshot jg bisa menyebar melebihi kecepatan cahaya.

NB: Kisah Lizann disadur dari posting Yulia atas artikel https://milspousefest.com/live-military-spouse-politically…/

 
(Sumber: Facebok Aldie El Kaezzar)
Monday, October 14, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: