Kenapa KH Ma'ruf Amien, Kenapa Sandiaga Uno?

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Zazuli

Dua tiga hari belakangan ini jagad medsos dan jagad politik kita gempar oleh manuver kedua kubu koalisi dalam menentukan pasangan Capres dan Cawapresnya. Di kubu Prabowo tiba-tiba muncul nama Sandiaga Uno yang tidak pernah masuk dalam pembicaraan dan perkiraan sebelumnya apalagi masuk dalam radar polling Cawapres oleh berbagai lembaga survey. Sekali masuk Sandi menyingkirkan semua nama calon yang sudah ramai diperbincangkan sebelumnya mulai dari Salim Segaf, Zulkifli Hasan, Abdul Somad hingga AHY. Beredar rumor soal mahar 500 M yang siap digelontorkan demi mendapatkan posisi dan dukungan tersebut.

Begitu juga kejutan di detik-detik terakhir juga terjadi di kubu Jokowi. Dua jam sebelum deklarasi masih ada nama Mahfud MD sebagai kandidat terkuat Cawapres, bahkan Mahfud sudah siap dengan segala surat persyaratan kelengkapan pendaftaran Cawapres di KPU bahkan sudah siap di lokasi deklarasi. Namun dalam waktu sekejap, tanpa dinyana tanpa disangka, nama tersebut berubah menjadi Kyai Ma’ruf Amin, ketua MUI. Beredar rumor bahwa ada beberapa partai koalisi Jokowi yang mengancam akan hengkang dan membentuk poros ketiga bersama Demokrat yang juga baru saja dikecewakan jika Jokowi tetap memilih Mahfud MD yang dianggap sebagai ancaman di tahun 2024.

Kedua perkembangan terakhir ini telah menghebohkan dan membuat patah hati banyak orang di kedua kubu. Para pendukung Jokowi yang juga menjadi pendukung Ahok masih ingat bagaimana fatwa penistaan agama terhadap Ahok yang dikeluarkan oleh Ma’ruf Amin setelah ditelepon oleh Pepo yang anaknya maju pada Pilkada DKI telah berhasil menjungkalkan Ahok bahkan memasukkannya ke dalam penjara. Para pendukung Prabowo yang mayoritas juga adalah pendukung PKS, PAN, HTI, aksi 212 dan gerakan Khilafahisme juga kaget dengan pilihan Prabowo yang dianggap telah meninggalkan nasehat “ulama” dan hasil ijtima.

Fans kedua kubu bingung, kaget dan tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Pendukung kedua kubu merasa kecewa, sakit hati dan sempat muncul seruan mencabut dukungan baik di kubu Prabowo maupun Jokowi. Tapi itulah politik yang akan selalu berusaha berkompromi dan mengakomodasi berbagai kepentingan yang berbeda demi mencapai sebuah tujuan.

Daripada bingung dan ikutan teriak golput dan cabut dukungan mungkin ada baiknya Anda berpikir bagaimana jika Anda yang berada di posisi Prabowo maupun Jokowi. Jika Anda menjadi Prabowo tentu Anda akan bingung setengah mati dan setengah hidup bagai makan buah simalakama, dimakan kampret mati, ga dimakan codot yang mati. Memberikan kursi Cawapres kepada salah satu kandidat dari partai anggota koalisi akan beresiko ditinggalkan oleh partai yang lainnya sehingga mungkin tidak akan lolos Presidential Threeshold yang menjadi syarat bagi pendaftaran Capres.

Memilih AHY (yang sempat menguat di beberapa waktu sebelumnya) beresiko Prabowo akan ditinggalkan oleh PAN dan PKS yang selama ini sudah terbukti loyal dan paling gigih bahkan radikal dalam membela dan memperjuangkan Prabowo sejak di Pilpres 2014 lalu. Begitu juga jika dia memilih nama lain yang diusung oleh salah satu partai koalisi pendukungnya. Munculnya Sandiaga Uno adalah jalan tengah yang akan menyelamatkan Prabowo dari kebuntuan itu terutama jika ada janji ketersediaan logistik yang bisa ditawarkan.

Begitu juga dengan Jokowi. Jika dengan memilih Mahfud MD beresiko kehilangan beberapa partai anggota koalisinya yang berpeluang membentuk poros ketiga dengan Demokrat di jam-jam terakhir tentu semuanya akan menjadi lebih sulit dan runyam. Dengan memilih Ma’ruf Amin yang dianggap tidak akan menjadi ancaman di tahun 2024 maka Jokowi telah berhasil menyelamatkan soliditas koalisinya. Pemilihan kepada Ma’ruf Amin juga dinilai akan bisa meraup suara dari basis massa Islam baik dari kalangan Nahdliyin maupun kalangan 212. Di samping itu Kyai Ma’ruf Amin juga dinilai memiliki wawasan kebangsaan dan komitmen yang tinggi terhadap Pancasila dan NKRI. Pilihan ini terpaksa diambil meskipun mungkin akan menyakiti hati pendukung Jokowi yang berasal dari barisan Ahoker.

Begitulah dunia politik yang penuh dengan intrik dan kompromi, mau tidak mau kita semua harus menerimanya. Tapi jika Anda tidak mau bangsa ini dikuasai dan dikangkangi oleh kelompok politikus berjubah agama yang bekerjasama dengan kelompok Orde Baru yang ingin kembali berkuasa maka Anda sudah harus menentukan sikap mulai dari sekarang. Jika Anda mendukung Jokowi tapi tidak suka dengan Kyai Ma’ruf Amin yang Anda anggap telah melukai hati Anda maka jangan coblos Kyai Ma’ruf Amin. Tutup saja gambarnya dan cobloslah gambar Jokowi saja. Beres, selesai.

Jadi saran saya jika Anda masih sakit hati dan belum bisa menerima keputusan Jokowi ini maka masih ada waktu sekitar 9-10 bulan lagi bagi Anda untuk menata hati dan pikiran agar Anda bisa rela dan ikhlas mencoblos Jokowi lagi. Tapi jika Anda terus memelihara rasa kesal dan kecewa yang membuat Anda ingin golput maka justru itulah yang dikehendaki oleh para lawan Jokowi yang ingin mengubah dasar negara ini. Ingatlah bahwa nama-nama yang ada di balik Gerakan Ganti Presiden juga adalah nama-nama yang akrab dengan kelompok radikal bahkan teroris.

Sebagai penutup kembali saya ingatkan : Teruslah dukung Jokowi. Mari kita bantu orang baik untuk mengurus dan menata negeri ini. Jangan berikan ataupun gadaikan bangsa ini ke tangan mereka yang tidak bisa menghargai toleransi dan keragaman yang ada di negeri ini. Anda boleh tidak suka dengan kyai Ma’ruf yang juga adalah Rais Aam PBNU tapi bagaimanapun Anda harus tetap mendukung PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945). Dukung dan kawal terus DOA (widoDO-Amin) untuk mengalahkan BOSAN (BOwo-SANdi).

Jika Anda tetap tidak mau apa Anda lebih memilih diculik dan dikarungin pake kardus?

Salam Waras demi NKRI

#2019GantiGabenerDKI
#2019TenggelamkanPKS
#2019JokowiPresidenLagi

Sumber : Status Facebook Muhammad Zazuli

Saturday, August 11, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: