Kenapa Kemiskinan Terjadi?

ilustrasi

Oleh : Rudy

(Berdasarkan Sudut Pandang Pengusaha)

Pengalaman saya membantu orang untuk menaikkan ekonominya

Saya melihat kemiskinan di Indonesia bukanlah karena korupsi atau penindasan. Melainkan karena orangnya yang malas. Berpuluh-puluh kali saya mendapati orang yang membuat saya menyesal telah membuang buang waktu saya untuk mereka. Misalnya:

Saya sempat ajari orang yang mengeluh di bis jaman dulu untuk mencari uang, tetapi bergerak pun tidak mau dengan alasan, yah beginilah pak, saya orang kecil, ga ngerti apa apa, masih bego. Coba pemerintah lebih peka dikit dan kasih lapangan pekerjaan. Tetapi di bis dia mengeluhkan pemerintah yang menindas rakyat.

Saya pernah juga menawarkan seseorang untuk bekerja di kapal dengan gaji belasan juta sebulan. Tetapi orang tersebut menolak karena masih ada orang tuanya, yang masih berumur 40 an tahun. Dan dia menyalahkan pemerintah yang ga becus mengurus negara sehingga harga harga naik.

Saya pernah juga menawarkan orang bekerja sebagai dropshipper, sampai saya ajari. Tetapi orang tersebut bilang ribet ah. Padahal dia barusan mau pinjam uang untuk beli baju buat lebaran. Dan dia pun menyalahkan pemerintah, coba kalau pemerintah peka, mikirin kita kita yang kecil gini, mau beli baju lebaran aja harganya naik semua. Saya juga pernah menawarkan orang untuk berjualan barang, tapi dibilang hasilnya kecil, ga nutup.

Di kantor lama saya, salah satu sister company dulu, yang lokasinya sekarang sering ribut TKA Cina. Teman saya yang manager sering mengeluhkan susah mencari karyawan. Penduduk sekitar minta gajinya ngga masuk akal punya. Kalau ga digaji segitu ga mau kerja. Gimana mau jalan kayak gini. Dan mereka sempat demo menyalahkan lapangan pekerjaan diserobot TKA Cina. Terus, mereka ga mau kerja, tapi orang yang mau kerja juga ga boleh. Lalu kita suruh bangkrut gitu?

Yang paling bikin saya emosi, adalah seorang lulusan sarjana yang mendaftar lowongan kerja. Pada waktu saya resign dari kantor lama saya, beberapa belas tahun lalu, saya sempat bertemu dengan kandidat yang cukup matang, tetapi pada waktu saya tunjukkan gajinya "cuma" 3 juta plus bonus service charge rata rata 2 juta sampai 4 juta sebulan, dia katakan gajinya kekecilan tahun 2007 waktu itu. Ironisnya, saya terima email beberapa bulan kemudian dia bertanya masih ada lowongan ngga pak, tapi yang gajinya masuk akal. Whaaat?

Pengalaman di kantor tempat saya bekerja saat ini

Di kantor saya yang sekarang pun ada orang orang yang tidak mau serius bekerja, sampai pada kejadian lucu beberapa hari lalu.

Jadi saya saat ini bekerja di sebuah perusahaan internasional yang cukup besar dan mapan di bidang container makanan. Pada waktu kantor baru saya berdiri, kami menawarkan pekerjaan pada penduduk sekitar dengan gaji lumayan lah.. standard, tapi standar memang sudah diatas UMR karena ada faktor skill, dengan jumlah terbatas karena kami memang tidak butuh orang banyak.

Masalah pertama muncul segera setelah proses screening selesai, dan karyawan yang diterima diumumkan, maka dimulailah tahap kedua. Negosiasi gaji. Anda tahu komentar mereka? Masak perusahaan sebesar ini gaji cuman segitu? Jadilah tinggal sekelompok orang yang mau, dan yang lain meninggalkan kantor. Tetapi beberapa saat kemudian, muncul demo minta tambahan penerimaan karyawan. Alasan juru bicara mereka, masak perusahaan sebesar ini (area kami sekitar 3 hektar bangunan produksi) karyawan yang bekerja hanya 100 an orang? Akhirnya bu lurah pun datang, bantu negosiasi. Kemudian kami bawa sang lurah berkeliling pabrik untuk menunjukkan situasinya, dengan menggunakan perlengkapan produksi. APD, masker, hairnet, dan sepatu khusus.

Waktu itu bu lurah bilang, ribet ya? Kami juga jelaskan pada bu Lurah, bahwa kalau ada ketombe ibu yang jatuh, maka ada kemungkinan atau ketombe itu akan dimakan oleh bayi bu lurah pada waktu dia beli susu di supermarket. Hahaha.. anda harus lihat mukanya yang terkejut dan memastikan tubuhnya, baju, rambut dan wajah hingga kaki semua tertutup pengaman. Dan dia pun melihat bahwa ruang produksi, hanya ada beberapa orang bekerja di bilik, sedangkan seluruh mesin bergerak sendiri tanpa manusia dari pengisian material, pembuatan, packing ke dus, sampai dibawa forklift. Tanpa manusia. Akhirnya kami setelah negosiasi, sepakat menambah 100 lagi karyawan tambahan. Beberapa otomatisasi dimatikan, seperti wrapping yang tidak lagi otomatis, dan lainnya untuk memberi tempat kerja bagi mereka.

Masalah kedua pun muncul. Dimulai dengan seseorang yang tertabrak forklift. Forklift kami otomatis, mengambil raw material, dan menuangnya ke container bahan baku sebuah mesin, lalu membawa kembali dus yang telah di wrap. Well, sekarang di-lakban karena dilakukan manusia. Dan forklift tersebut hanya bergerak di jalur kuning, yang dipenuhi gambar orang yang disilang warna merah. Dan karena forklift tidak memiliki mata, maka dia tetap berjalan setelah menabrak karyawan tersebut. Luka tidak parah, tetapi setelah diobati, karyawan tersebut pun dipecat. Keributan dengan asosiasi buruh setempat pun terjadi, dan akhirnya forklift pun kami matikan otomatisasinya, dan berubah menjadi manual pula, yang pada hari pertama, merusak double gate yang difungsikan sebagai filter udara karena operator tidak terbiasa mengoperasikan forklift otomatis.

Masalah ketiga kemudian adalah karyawan yang membawa pop mie, dan membuangnya ke tong sampah "reject". Plastik adalah bahan daur ulang. Jadi setiap produk yang tidak lolos, bisa digiling untuk kemudian dibuat kembali. Karena tong sampah nya sudah tercampur popmie dan kuahnya, maka tidak mungkin di daur ulang kembali. Ada 2 hal yang dilanggar karyawan tersebut. Pertama, membawa benda asing ke dalam ruang produksi, dan kedua membuang "sampah" tidak pada "tempatnya". Well, dalam hal ini persepsi "tempatnya" berbeda. Area benda asing ada di dalam bilik office, sedangkan area produksi tidak boleh ada apapun. Dan kemudian karyawan tersebut dipecat. Kembali lagi lagi kepala buruh datang, dan menuduh kami memecat karyawan hanya karena "makan pop mie". Lah iya.. makan pop mie nya dimana? Itu pop mie sudah menyebabkan beberapa puluh ribu container dan material dari 3 buah mesin di sekitar lokasi dia terkontaminasi dan harus dibuang.

Masalah keempat, adalah kerusakan robot. Karyawan membuka pintu mesin pada waktu robot masih bekerja, untuk memastikan label yang diletakkannya adalah label yang benar. Hal ini menyebabkan mesin berhenti bekerja, tetapi robot tetap bergerak, dan akhirnya menabrak mesin. Karyawan itupun dipecat, tidak ada keributan selain masalah pesangon.

Masalah kelima, adalah karyawan yang merokok. Karyawan ini merokok di luar ruangan, tetapi keluar melalui emergency exit, mengganjal pintu, dan masuk kembali melalui pintu tersebut dengan membawa kotoran dari luar di sepatunya, dan nyamuk. Komplen kami terima dari client kami yang kebetulan memeriksa container, dan menemukan nyamuk nempel di bagian dalam botol Yoghurt. Anda bisa bayangkan kalau botol itu diisi, dan kemudian ada yang membuka di indomart/alfamart dan menemukan nyamuk disana. Dan setelah investigasi, dari cctv kami menemukan karyawan tersebut keluar merokok, dan masuk lagi melalui pintu emergency exit yang dia ganjal kayu supaya tidak mengunci. Akibatnya kami harus menarik produksi kami dari sejumlah client karena kontaminasi. Karyawan tersebut pun dipecat. Dan kali ini, asosiasi buruh biarpun datang, tapi ngga macam macam, karena di awal orang yang sama juga ikut tour bersama bu lurah, dan dia tahu kenapa dia harus memakai perlengkapan pengaman lengkap.

Kemudian beberapa hari lalu, asosiasi buruh yang sama kembali berdemo di depan kantor. Mereka tidak meminta menemui HR kami, tetapi hanya orasi yang terdengar lucu. Mereka meminta solidaritas kita di masa pandemi, untuk meninjau ulang karyawan yang dulu pernah melamar. Mereka nerima kok gaji berapa saja. Hahahaha… Masih ada lanjutannya. Kalau ngga bisa karena kapasitas, karyawan yang pernah bekerja juga boleh lah diselip selipin. Mereka juga ikut demo di depan.. WHAT?? Yang rusakin robot, yang buang popmie, yang buka emergency exit yang begitu begitu itu? Hahahahah… Makasiiii…

Lalu, dengan mental seperti itu, mereka mengeluhkan pemerintah? Bu lurah bela belain datang, minta kita hapus beberapa otomatisasi yang bisa dikerjakan buruh, supaya mereka bisa bekerja. Dan pemerintah masih disalahkan? Mereka ngga menghargai usaha bu lurah buat ngasih lapangan kerja buat mereka?

Lowongan kerja dikasih minta macam macam, gaji tinggi, kalau engga ditolak. Kalaupun udah masuk, kerja malas malasan. Kalau ga malas malasan, kerja seenaknya kayak begitu. Yang model kayak gitu, kemudian menyalahkan pemerintah kalau mereka ngga dapet kerja? Sebagian ga mau dikasih kerjaan malah.

Miskin itu mentalitas, bukan uang yang dimiliki. Selama mentalitasnya ingin miskin, selamanya akan miskin. Punya uang pun akan jatuh miskin kembali. Kalau mentalitasnya kaya, jatuh miskin berapa kali pun akan bangkit kembali. Korupsi ataupun engga, ga relevan. Itu mah mental yang mesti dibenahi. Bagi mereka, akan selalu ada hal yang mereka keluhkan. Gaji yang rendah, tempat kerja yang melarang karyawannya, tempat kerja ribet, kurang lapangan kerja, robot, pemerintah korupsi, bahkan SOP yang melarang makan pop mie, atau kewajiban pakai apd, masker dan lainnya. Tidak perlu korupsi, bisa apa saja yang bisa mereka samber untuk menutupi kemalasan mereka. Hanya kebetulan saja isu korupsi sedang seksi.

The winner sees answers in every problem, the loser sees problem in every answers.

Sumber: Status Facebook Rudy, 

Tuesday, October 13, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: