Kenapa Harus Nak Agus?

Oleh: Joko Santoso
 

Trending topik yang menjadi headline berita di berbagai media beberapa hari ini bagi saya bukan persoalan politik yang mereka sebut dinamis terkait bakal calon yang akan di pertarungkan dalam pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur DKI, tapi saya hanya mengupasnya dari sisi sikap orang tua terhadap anak yang menurut saya janggal (ora umum). Atau boleh dibilang istilah zaman dulu sebelum eranya demokrasi soal pilihan ada pepatah "Gudhel nyusu kebo / anak nurut kata orang tua, tapi di era demokrasi seperti sekarang si anaklah yang menentukan sendiri langkah apa yang menjadi pilihanya".

Terkait fenomena hiruk-pikuk situasi politik dan pengerucutan para calon yang di usung oleh partai2 pendukungnya, melihat dari beberapa calon yang di majukan rata2 adalah figur yang selama ini sangat jauh dari prediksi kita. Ada yang demam panggung, sehingga sampai ia rela blusukan ke daerah2 kumuh sambil mengenakan kaos oblong bergambar Mickey Mouse. Padahal selama ini sang tokoh selalu tampil dengan setelan jas mahal. Toch pada klimaksnya ketika panggungnya sepi penonton dan karcisnya tidak laku iapun harus rela mundur secara teratur. Sebegitu tragiskah nasib sang tokoh ? Belum tentu.. Karena grand finalnya masih memungkinkan bagi sang tokoh untuk berkesempatan mendatangi podium meski hanya sekedar sebagai pemandu sorak. Artinya sang tokoh masih ada kemungkinan mengobati rasa duka dan laranya.

Disisi lain, anehnya di sini ada satu calon yang menurut saya jelas bukan murni atas inisiatifnya sendiri, tetapi cenderung di dominasi oleh desakan "Sang Papi". Demi kepentingan serta ambisi terkait keberlangsungan nasib partai. Jika alasanya demi pengabdian kepada negara, toch siapapun orangnya dan apapun latar belakang status sosialnya, selama mereka mampu berkontribusi bagi negara, maka itulah salah-satu cara bagi seseorang untuk merekflesikan bentuk pengabdianya.

Hidup adalah pilihan. Siapapun berhak menetukan sendiri jalan hidup maupun takdirnya. Ada yang memenuhi panggilan takdirnya sebagai penjual martabak, dan ada yang tidak menutup kemungkinan kelak harus rela menjadi penjual gorengan seperti halnya nasib Briptu Norman Kamaru. Syukur2 ambisi sang papi terpenuhi saat si anak mampu meraih posisi puncak sebagai pemimpin salah-satu daerah di negeri ini. Benar kata pepatah jawa yang mengatakan "Mrambate kacang opo jare lanjaran". Seperti apa dulu posisi orang tua, maka seperti itulah kelak si anak di harap mampu meraih kedudukan.

Ada anak yang terdidik mandiri dan diberi keleluasaan dalam menentukan pilihan tanpa mengandalkan nama besar orang tuanya. Pun ada pula kriteria anak yang begitu berbaktinya. Sehingga apa kata orang tua "A", maka diapun akan melakukan apapun yang di kehendaki ayah-bundanya yang notabene sejak ia masih di dalam kandungan hingga ia dewasa, kedua ortu si anaklah yang mengukir jiwa raganya.

Disinilah perbedaan antara Pakdhe & Pak Mantan. Ada orang tua yang berjiwa demokratis, bahkan tak sedikit juga type2 orang tua yang berjiwa antagonis (santun tapi sadis).

Pada akhirnya aku hanya mampu menyertakan doa untukmu nak. Meski sikap kedua orang tuamu cenderung mendomonasi keberlangsungan hidupmu, tapi ada satu kekuatan besar yang paling dominan menentukan takdirmu. Dialah Sang Pencipta jagad beserta isinya. Teguhkan niatmu, melangkahlah demi ambisi papihmu.. Niscaya, Tuhanlah Sang Penentu jalan hidupmu.. ***

#SaveNakAgus

 

(Sumber: Status Facebook Joko Santoso)

Saturday, September 24, 2016 - 18:45
Kategori Rubrik: