Kenapa Gibran?

Oleh: Iyyas Subiakto

Pencalonan Gibran anak sulung Pak Jokowi menjadi calon walikota Solo banyak mengundang pro kontra, begitu juga mungkin anak mantunya Boby apabila jd maju utk salah satu kandidat walikota Medan.

Kita ini sdh terlalu lama berkubang dgn kebobrokan, sampai lupa dgn kebaikan. Kriteria pertama cari pemimpin kan mestinya adalah akhlak dan kemudian kapasitas. Keduanya nyaris tak pernah lagi dipakai utk syarat utama pemimpin, bahkan banyak bekas koruptor bs daftar jd calon pemimpin. 

 

Gibran dan Boby adalah anak dan mantu yg mau mengikuti jejak sang ayah, Pak Jokowi boleh dikatakan adalah pemimpin Indonesia yg paling penomenal, dari dirinyalah anak dan mantunya melihat harus berbuat agar kebaikan mengurus rakyat yg sdh diberi contoh tdk berhenti hanya pada Pak Jokowi, mereka harus meneruskan apa yg sudah dicontohkan, jangan di balik seolah mereka mengambil kesempatan, menjadi penerus Jokowi tak mudah, salah-salah di hadiahi sumpah serapah. Sedikit saja salah akan jadi lahan cacian dari orang ceriwis yg yg tak pernah logis.

Maju terus Gibran dan Boby, tapi ingat kalian anak Jokowi, yg tidak bisa berkiprah pas-pasan, seperti kebanyakan. Kerahkan kelebihan kalian, agar kelak kalian jadi panutan seperti Pak Jokowi, pelan tapi pasti, dia diam dan bekerja utk negeri, bukan banyak gaya tapi kerjanya mencuri. 

Kalian tak bisa dibandingkan dgn yg kebanyakan apa lagi dgn anak karbitan, maksa kumisan, ngomong saja gelepotan, kok gak ngaca mau jadi pimpinan, pdhl kita semua tau dia masak dipaksa. 

Ah..prihatin saiya...

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, July 29, 2020 - 23:00
Kategori Rubrik: