Kenapa Djarot Dikirim ke Sumut?

Oleh: Denny Siregar

 

“Kenapa Djarot dikirim ke Sumut ?”

Tanya seorang teman waktu kami ngopi bersama. Sore itu kami ngobrol tentang Pilkada, tema yang sedang hangat2nya.

 

 

“Itu strategi untuk meredam Sumatera Utara..” Kataku sambil mengaduk kopi panasku.

“Ahhh, harusnya Maruarar Sirait yang jadi Cagub PDIP. Kok pak Djarot ?? Lihat kan, akhirnya dia diserang isu putra daerah..”

Temanku bicara dengan wajah memerah. Bukan karena dia terlalu ngotot, tapi kopinya terlalu panas sehingga waktu lewat lidahnya dia kelojotan.

“Gini.. “ Kataku sambil mengambil tahu isi. Enak tahu isinya, dalamnya sayuran bukan bihun seperti biasanya.

“Isu sara masih menjadi momok di negeri ini. Belajar dari pilgub dki, isu sara akan digiring ke pusat. Dan dampaknya nanti di pilpres 2019, perbedaan pandangan di masyarakat akan semakin tajam. Bisa bentrok jika tidak mulai diredam..” Kuambil cabe rawit hijau kecil dan kugigit. Uhh enaknya..

“Jabar yang menjadi target utama dari serangan isu sara berhasil di redam. Dengan merangkulnya Golkar ke Demokrat, maka sulit akan membakar pilkada Jabar dengan sara.

Yang pendukung Dedi Mizwar mau tidak mau harus menerima Dedi Mulyadi. Yang membenci mantan Kapolda Jabar Anton Charliyan, harus menerima dia karena calon wakil Ridwan Kamil.

Dan koalisi Gerindra-PKS pun berjalan sendirian. Suara dipecah karena sengaja, supaya tidak dihadap-hadapkan kelompok agamis dan nasionalis..” Kukunyah tahu isi yang enak itu. Nyam nyam.. hmm masih sisa satu harus buatku..

Kulanjutkan..

“Nah, target selanjutnya adalah Sumatera Utara... Disana juga akan dibangun isu yang sama.

Kalau Maruarar dijadikan Cagub, agama dia akan jadi titik serang, persis seperti Ahok. Serangan itu akan ditunggangi untuk membangun kerusuhan disana.

Ingat kerusuhan di Tanjung Balai yang diisukan ada orang yang melarang azan kemudian kelenteng dibakar ? Situasi itu akan dibangun persis sama untuk menimbulkan keributan disana..

Dengan Djarot sebagai Cagub, maka potensi sara bisa diredam. Paling isunya putra daerah, gak ngaruh kalau isu gituan disana..”

Temanku manggut2 kayak orang mau kentut. Aku lihat bukan karena dia mengerti tapi karena matanya fokus menatap tahu isi yang tinggal satu lagi.

“Oh gitu...” Dan sruttt tangannya langsung beraksi memainkan sulap sehingga tahu isi di piring sekejap hilang.

“Ahhhh.. sial, telattt..” Aku menggerutu kesal. Sudah kebayang2 tahu isi itu menari di lidahku dengan sejumput cabe rawit yang uh ah uh..

“Terus kalo Jabar, Jatim dan Sumut sudah bisa diredam, kemana lagi ?” Temanku menggoda dengan mengunyah tahu isi kesukaannku.

“Jateng.. “ Kataku kesal dan memanggil ibu warkop yang sudah menunggu pembayaran dari tadi karena kami berdua terkenal dengan nama Markoji, Mangan loro ngaku siji.

“Bu, bisa ngutang lagi gak ?” Kataku tersipu.

“MATAMU PICEK !!” Si ibu siap2 mengambil sapu sebelum kami mengambil langkah seribu.

www.dennysiregar.com

Sunday, January 7, 2018 - 10:00
Kategori Rubrik: