Kenapa Bukan Ahok Yang BerIslam

ilustrasi

Oleh : Mohammad Monib

Kali ini saya mau bahas isu pindah agama, iman eskrim atau kerupuk kena kuah soto. Itu terkait Ahok yang ngajak Puput, calon istrinya ke Protestan. Kok bukan Ahok yang muallaf?Justru Puput yang muallaf Protestan?

Awalnya berhembus kencang info Ahok bakal muallaf.Dia bakal jadi muslim..Apalagi selama di penjara, ia rajin baca buku keislaman juga. Plus baca terjemahan al-Quran. Kalau buku, dia baca buku karya Prof Quraish.

Saat beredar info itu saya degdegan. Cemas saya kalau Ahok muallaf. Saya kuatir salah gaul & jatuh di komunitas yang tak tepat. Jadi konservatif, harfiyah ngaji al-Quran & Hadisnya, jadi pengasong ilusi khila-aaah, durhaka pada Pancasila. Saya bahkan sedih bila setelah masuk Islam, seorang muallaf durhaka pada agama lama. Mencaci & buruk2in iman sebelumnya. Itu durhaka kepada tanah air, bangsa & toleransi yang digaransi Islam. Lebih-lebih saya penikmat perennialisme.Sedaap hidup ku rasakan.

Jujur, sekalipun rutin membimbing ikrar syahadatain, saya tak lagi penuh ghiroh missionarisme.Lebih2 saya memilih madzhab kualitatif, bukan kuantitatif. Kam min fiatin qalilatin...", dunia ini digerakkan oleh kelompok kecil tapi kreatif-inovatif. Umat Islam sudah bejibun, hampir serupa buih di samudera. Kualitas jauh lebih penting. Bobot karya itu yang bikin Israel bertahan dari puluhan Arab yang mengepungnya.

Puji Tuhan, Ahok tetap dengan imannya. Pengiman yang kokoh & mantap.Pun tak minat pindah iman gegara nikah. Mestinya Puput pun begitu. Rumah tangga beda iman itu bisa dijalani. Sudah banyak bukti hal itu as usual business. Tak ada garansi nikah seiman akan samara.Tengok angka cerai di KUA.Bejibun.Home sweet home itu dengan taat pada universal values.Cinta, respek, berkasih sayang, setia pada pasangan, taat janji nikah & malu pada Tuhan.

Tuhan itu mysterious tramendum.Dia pemilik otoritas kehendak.Dialah berkehendak adanya pluralitas agama, dan manusia mestinya mensyukuri indahnya & berkah kebhinekaan.

Bagaimana Nikah Beda Agama?

Isu nikah beda agama itu, tahun 2004 an masih horor dan mencekam. Fiqh Lintas Agama yang Paramadina terbitkan dikecam dan dikutuk dimana- mana. Kini, umat Islam mulai adem dan "sabar". Entah sadar bahwa fenomena ini tak bisa dibendung atau mulai paham bahwa al-Qur'an,Hadis dan para fuqaha membolehkan. Kado Cinta dan Fiqh Keluarga Lintas Agama yang saya tulis habis dipasar buku serupa kacang goreng.

Pacaran atau nikah beda agama itu tak selalu identik dengan pindah agama. Sekalipun ada saja non muslim yang tertarik ke tauhid, jadi muslim atau muslimah. Jarang lho bila lewat konsultasi denganku yang muslimah kepincut hati jadi non muslimah. Apalagi yang muslim. Masing2 tetap terhormat dengan iman dan agama masing2. Beda kok kapasitas dan muatan benak dan bahasa agamaku dengan yang pasaran itu. Iiiiih geer dan sok.

Yang pasti, seperti tafsir Islamku, yang terbaik tegakkan prinsip Islam. Tak boleh ada upaya paksa-memaksa konversi agama. Dan saya tidak sedang dan malu memarketingkan agama primitif,buas, identik dengan peradaban rimba padang pasir, dan serupa prilaku teroris. Dajjal Amerika dan zionis iblis saja cantik mainnya. Kaum beriman harusnya main cerdas dan cantik. Iiih malah keranjingan jadi teroris.

Karena itu,prosesi nikah yang kami sajikan:berikan ijab qabul bagi yang muslim tanpa butuh mengislamkan yang non muslim dan berikan blessing atau pemberkatan bagi non muslim tanpa menon-muslimkan yang muslim.

Sejatinya publik muslim mesti mengambil hikmah dalam paksa memaksa dari kasus Asmirandah. Ortu Andah menggiring Jovano baca syahadatain. Publik heboh, MUI teriak2 seperti nenek kehilangan ayam dan gerombolan mengaduk aduk air yang sudak keruh. Alih2 ikan terjaring,justru pancingnya pun digondol ikan. Syair Mashabi,pedangdut tahun 60 itu enak:"Rasa cinta pasti ada...cinta ciptaan yang kuasa". Cinta itu lebih hebat dari 1000 kebangkitan,senandung Rumi dalam bait2 indahnya.

Yang menarik, beda umat non-muslim, beda umat Islam saat merespon pindah agama. Umat Islam heboh, teriak-teriak dan meradang, seakan gunung akan menimpanya. Sementara non muslim tenang, tak berisik, apalagi teriak-teriak. Lha wong hanya pindah cara dan model aja kok ribut. Toch sama-sama banyak jalan menuju Roma.

Coba bandingkan saat Bella Saphira ikut suaminya. Ia jadi muslimah. Tak ada yang berisik dan heboh. Ada kedewasaan dan kejernihan sikap yang jauh beda. Karena itu tak perlu heboh saat Puput yang muslimah itu ikut Ahok jadi Protestan. Selowww aja poro tretan.

Umat Islam itu aneh tapi nyata. Tauhid itu jelas kokoh,mudah dipahami,tidak mberibet. Sejatinya menghasilkan pengiman yang mantap, taft,sekuat atol, tak gentar, pede abiiiis, umat yang iman dan agama yang tak goyang oleh goncangan dan dentuman apapun. Apalagi sekadar tanda yang diasumsikan salib. Situ goncang iman gak saat belajar ilmu berhitung?Leleh imanmu saat lihat mobil ambulance?Ah, iman krupuk ketimpa kuwah soto.

Tapi dalam riil kehidupan,outputnya justru menyedihkan. Yang lahir muslim yang lemah iman, gak pede,imannya muda lumer dan cair. Semudah eskrim di bibir Asmirandah.Tak sekokoh lipstik Dian Sastro. Ah mahmud (mamah muda yang sepetak sawah pun rela saya jual)

Gimana tidak saya kritik keras.Ada rumah ibadah lain ngeper dan disegel. Ada Ahmadiyah ngamuk. Ada tulisan Arab selain al-Quran dan Hadis meradang. Ada gafatar heboh dan menyakiti. Ada Syiah mau perang. Cermin jiwa kerdil dan kekanak kanakan. Maunya dipuja-puji terus sebagai umat yang sempurna dan pilihan Tuhan. Serupa Israel.

Aduh,sedih dan tragis sekali umat Rasulullah. Ya Rasul malu aku pada jenengan!

Sumber : Status Facebook Mohammad Monib

Friday, January 25, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: