Kenapa Berbicara Atas Nama Allah Lebih Berat Dari Syirik?

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Banyak yang bingung ketika dibilang ada perbuatan haram yang dosanya lebih berat dari syirik, bukankah ada ayat ini:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu [Surah An-Nisa, 48]

Bukankah berarti syirik adalah dosa yang paling besar ? Kenapa berbicara atas nama Allah ta'ala tanpa ilmu dibilang lebih berat dari syirik ? Apakah bertentangan dengan ayat di atas ?

Sama sekali tidak bertentangan. Karena berbicara atas nama Allah ta'ala tanpa ilmu pada dasarnya adalah SEBAB UTAMA DARI SYIRIK DAN SEGALA KESESATAN LAINNYA.

“Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu termasuk perkara haram yang paling besar. Ini merupakan jalan setan yang dia serukan. Ini adalah jalan setan dan bala tentaranya yang mereka serukan. Mereka mengerahkan makar dan tipu muslihat mereka. Hal tersebut (mereka lakukan) untuk menyesatkan makhluk dengan cara apa pun yang mereka bisa.” (Tafsir as-Sa’di dalam QS. al Baqarah: 169).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata terkait ayat ini, “Saya ingin memberikan peringatan kepada seluruh saudaraku kaum muslimin agar tidak berfatwa tanpa ilmu. Sebab, berfatwa tanpa ilmu adalah pelanggaran besar yang telah Allah ‘azza wa jalla GANDENGKAN DENGAN KESYIRIKAN dalam firman-Nya."
.
Mana yang lebih berat:

- Melakukan perbuatan syirik ATAU menyebarkan dan mengajak pada kesyirikan ?
- Melakukan kesyirikan dengan menyekutukan Allah ta'ala dengan makhluk-Nya yang lain ATAU menyekutukan Allah ta'ala dengan DIRINYA SENDIRI ?

Maka Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan tingkatan berbicara tentang Allah ta'ala tanpa ilmu lebih berat beban dosanya dibanding syirik itu sendiri dalam kitab yang diberi judul “I’lamul Muwaqqi’in – Pemberitahuan kepada orang-orang yang memberikan tanda tangan”.

Apa yang dimaksud dengan memberikan tanda tangan? Kata beliau, “orang-orang yang berkata dalam masalah ilmu (semisal ilmu tafsir) dan berfatwa (tanpa menguasai ilmu tafsir) sesungguhnya ia telah memberikan tanda tangan seakan-akan ia menandatangani bahwa inilah maksud Allah dan Rasul-Nya“.

Apakah ini pendapat Ibnu Qayyim rahimahullah saja ? Tidak, karena tingkatan ini Allah ta'ala sendiri yang membuat tingkatannya dalam QS. Al A’raf: 33.

Melakukan kesyirikan diancam tidak diampuni jika tidak bertaubat, tapi yang terkena beban dosanya hanya SATU orang yang melakukan syirik itu sendiri. Tapi orang yang bicara atas nama Allah lantas mengajak orang lain untuk mempercayainya, sama saja dia mengajak pada kesyirikan, di satu sisi dia melakukan kesyirikan dengan menjadikan dirinya tandingan Allah, di sisi lain dia mengajak orang untuk melakukan kesyirikan dengan mengikuti ucapannya (misal menafsirkan padahal dia tidak menguasai ilmu tafsir).

Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no 1016).

Contoh: menafsir Jibril menyeru dari bawah, dikatakan: suami membantu persalinan dari bawah. Maka muncul istilah persalinan yang sesuai qur'an haruslah yang seperti Maryam, yaitu melahirkan dengan posisi berdiri di bantu suami yang siap menangkap bayi atau mensupport dari bawah.

Penafsiran seperti ini menggiring pada pelarangan persalinan litotomi yang biasa dilakukan di RS (melahirkan dalam kondisi berbaring) yang kemudian dibilang sebagai posisi melahirkan rancangan dari syaithan. Bukankah ini termasuk mensyariatkan sesuatu yang tidak ada syariatnya juga mengharamkan yang Allah ta'ala halalkan ? INI BUKAN TERINSPIRASI qur'an namanya, tapi menafsir. Karena mereka jadikan inspirasi seolah syariat, yang tidak berpatokan pada inspirasinya dikatakan keluar dari sunnatullah, tidka mengikuti qur'an, mengikuti rancangan syaithan, dst.

Padahal banyak kasus tidak semua persalinan bisa dengan posisi berdiri apalagi tanpa bantuan nakes, jangan sampai membahayakan nyawa ibu dan bayi. Yang lahiran normal tanpa kasus penyulit kebetulan bisa berhasil pakai metode ini lantas bertestimoni seolah semua kasus lahiran harus berdiri.

TIDAK ADA dalam ayat qur'an, pun tidak ada dalam tafsiran ulama yang menerangkan:
1. Maryam melahirkan sambil berdiri
2. Berpengangan pada pohon kurma yang kemudian ditafsirkan sendiri melahirkan berdiri sambil berpegangan (padahal di kisahkannya bersandar di pohon karena kesakitan, yang kemudian diminta mengguncangkan pohon untuk mendapatkan kurma untuk dimakan).
3. Sungai di kisah Maryam diartikan rendam kaki saat lahiran biar rileks (padahal tidak ada kisah semacam itu).

[tafsir dari ulama tentang bagaimana Maryam melahirkan pernah saya ulas di sini:
https://www.facebook.com/mila.anasanti/posts/10220710914619073]

Begitu juga salahnya penafsiran 'urkudh bir rijlik' hentakkan kakimu untuk mendapatkan air yang bisa diminum (yang dengan air itu menyembuhkan) yang kemudian ditafsirkan sendiri dengan 'menyembuhkan karena hentakan kaki'..

Ini hanyalah contoh, dan tidak terkhusus untuk kasus penafsiran ini saja. Tapi di era medsos ini sekarang banyak orang mengatas namakan 'islami', 'qur'ani', 'ala rasul', dll. dst, yang pada dasarnya adalah penafsiran tanpa ilmu atau tanpa referensi dari ulama, melainkan tafsiran sendiri, mudah-mudahan kita terhindar darinya.

Ingat syirik adalah perbuatan yang sangat tersamar, sampai-sampai setingkat sahabat radhiyallaahu 'anhum saja ditegur Rasul ﷺ untuk senantiasa memohon perlindungan dijauhkan dari syirik.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat tentang syirik dengan mengatakan,”Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam".

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Wednesday, November 25, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: