Kenangan Buruk September 1965

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

55 Tahun yang lalu pada tahun 1965..., ribuan orang Indonesia...; baik itu diplomat..., wartawan..., anggota Parlemen..., termasuk Mahasiswa Ikatan Dinas (Mahid)...; dikirim Presiden Soekarno untuk belajar teknologi di luar negeri..., terutama di negara sosialis.

Mereka diharapkan sebagai pembangun bangsa kelak..., setelah selesai menimba ilmu di luar negeri.

Tetapi nasib berkata lain...; mereka terhalang pulang..., bahkan kewarganegaraan mereka dicabut.

Mereka meminta suaka dari suatu negara ke negara lain..., atau menurut istilah Gus Dur menjadi 'orang kelayapan'.

Beberapa orang di kalangan eksil ini telah menulis memoar..., yang memberi perspektif baru tentang peristiwa 1965 dan dampaknya.

Sebagai contoh..., tahun 2006 terbit Memoar Perempuan Revolusioner berdasar wawancara Hersri Setiawan..., mantan pimpinan Lekra Jawa Tengah..., dengan Fransisca Fanggidaej.

Perempuan itu..., dilahirkan di Timor tahun 1925.

Dia aktif pada gerakan pemuda Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia)..., dan ikut berjuang dalam pertempuran di Surabaya November 1945.

Tahun 1947..., ia dikirim ke beberapa negara Eropa dan India untuk mewakili Indonesia dalam pertemuan internasional pemuda.

Di Kalkuta..., India...; ia mengikuti kongres pemuda internasional.

Pada usia 32 Tahun..., Fransisca diangkat sebagai anggota komisi luar negeri DPRGR/MPRS..., mewakili golongan wartawan.

Tahun 1965..., ia beberapa kali menyertai rombongan Presiden ke luar negeri..., termasuk menuju Aljazair tempat Kongres Asia-Afrika kedua direncanakan namun batal.

Dari Aljazair..., Fransisca melanjutkan perjalanan untuk mengikuti konferensi pemuda di Chile.

Di sinilah ia mendengar meletus G30S..., dan Fransisca merasa kuatir untuk pulang karena ia termasuk pendukung Soekarno.

Tahun 1965-1985..., Fransisca berada di Beijing.

Ia tidak berani mengontak keluarganya di Indonesia..., karena takut membahayakan keselamatan mereka.

Anaknya tujuh orang..., ketika meninggalkan Indonesia anaknya yang tertua baru berusia 13 tahun.

Sementara suaminya juga ikut ditangkap...., sehingga anak-anaknya terpaksa dititipkan kepada keluarga dan kenalan baik mereka.

Tahun 1985..., Fransisca meminta suaka di negeri Belanda.

Di sinilah ia baru berani menelpon anak-anaknya.

Dapat dibayangkan..., betapa beratnya perasaan anak-anak menerima telpon tersebut.

Rasa kangen..., haru..., sedih..., mungkin bercampur kesal juga karena sekian lama tidak ada berita sama sekali.

Di Belanda..., Fransisca masih aktif dalam Komite Indonesia-Belanda..., dan yayasan memajukan studi Asia.

Fransisca Fanggidaej..., adalah tokoh perempuan penting bagi kemerdekaan Indonesia .

Suami pertamanya..., meninggal dalam revolusi fisik pada tahun 1948.

Suami keduanya..., meninggal dalam tahanan pemerintah Orde Baru pada tahun 1965.

Dialah yang menjadi diplomat Indonesia..., yang gigih memperjuangkan kemerdekaan. Republik ini.

Dia..., sangat dikenal di luar negeri.

Dulu dia ditakuti pemerintah Belanda..., tapi dia justru meninggal di Belanda dan dalam.perlindungan pemerintah Belanda.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Saturday, September 12, 2020 - 18:00
Kategori Rubrik: