Kemuliaan VS Kepalsuan

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Menyaksikan debat antara Prof. Dr. KH Ma'ruf Amin dengan Sandiaga Uno ibaratkan kita disuguhi unjuk performa Valentino Rossi VS Driver Ojol. Yang satu sudah kenyang makan asam garam kehidupan dengan melaju di berbagai tikungan dan lintasan dengan mulus, dan yang satu lagi sedang belajar menapak kehidupan, mengebut di jalanan macet dengan motor kreditan kejar setoran.

Kyai Ma'ruf dengan pengalaman segudang mulai dari organisasi mahasiswa, anggota DPR beberapa periode, Rais 'Aam Syuriah PBNU, Ketua Umum MUI sampai Wantimpres dengan sabar dan rendah hati menyampaikan gagasan kongrit tentang bagaimana mengelola negara dengan memberdayakan semua potensi bangsa. Sedangkan Sandiaga seorang anak mami yang takut dicubit mamanya karena tidak tidur siang. Bertumbuh pada kondisi yang banyak dibantu oleh berbagai kemudahan dan faktor keberuntungan.

Kyai Ma'ruf bicara tentang realita dan data, Sandiaga bicara tentang angan-angan berjuta.

Kyai Ma'ruf bicara dengan bahasa sederhana dan membumi memaparkan rencana kerja berdasarkan road map yang sudah tertata dengan dukungan program detail yang tersusun secara rapi dan sistematis dengan parameter dan target output yang jelas.

Sandiaga bicara dengan bahasa langit hanya normatif kualitatif yang tidak jelas parameter dan target outputnya.

"Kami AKAN menambah lapangan kerja baru 2 juta". Bagaimana caranya ?. "Nanti akan kami pikirkan kemudian" Program detailnya ? "Pokoknya OK OC".

"Kami AKAN menurunkan harga kebutuhan pokok dan menaikkan pendapatan petani", kata Sandiaga lagi. Bagaimana caranya ? "Nanti akan kami pikirkan kemudian". Bukankan program itu bertentangan satu sama lain ? "Pokoknya solusinya OK OC".

- Kami AKAN.....
- Nanti kami pikirkan kemudian....
- Pokoknya OK OC.....

Kelebihan Sandiaga adalah dia berani bohong dengan mengungkapkan data palsu tentang Tenaga Kerja Asing dan lain-lain, sedangkan Kyai Ma'ruf terlalu santun lurus bicara base on data. Namun kemuliaan seseorang yang jujur dan rendah hati tidak akan mungkin tertutupi oleh awan kepalsuan yang menggumpal. Segelap dan sehitam apapun awan itu .

Pertandingan antara Valentino Rossi VS Driver Ojol di sirkuit yang sama, tentunya bukan suatu pertunjukan yang menarik untuk dinikmati. Kalau nanti ada pasukan anak-anak kampret tepuk sorak yang merasa jagoannya menang, biarkan saja tidak perlu dibantah.

Apa salahnya kita sekali-kali memberikan kebahagiaan pada anak kampret kan ? 
Toh mereka akan nangis menggerung-gerung tgl 17 April nanti.

Salam SATU Indonesia
Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Tuesday, March 19, 2019 - 08:00
Kategori Rubrik: